Pada Februari 2026, Badan Pusat Statistik mencatat 87,74 juta orang bekerja di sektor informal, setara dengan 59,42 persen dari 147,67 juta penduduk usia kerja. Pekerja formal berjumlah 59,93 juta orang. Pada Mei 2026, proporsi informal turun tipis menjadi 59,30 persen, tetapi status yang bertambah paling banyak adalah wiraswasta, sebesar 1,38 juta orang. Angka-angka ini memunculkan satu pertanyaan. Ke mana perginya lapangan kerja di pabrik, dan siapa yang mengisi kekosongan itu?
Pada 1954, Arthur Lewis, yang kelak meraih Nobel Ekonomi (1979), merumuskan jawaban klasik atas pertanyaan tentang bagaimana negara miskin dapat naik kelas. Menurut Lewis, negara berkembang memiliki sektor tradisional dengan tenaga kerja berlebih, dan tenaga kerja tersebut secara bertahap berpindah ke industri modern yang lebih produktif. Pabrik menjadi anak tangga yang membawa pekerja keluar dari kemiskinan. Dani Rodrik, ekonom Harvard, menunjukkan dalam “Premature Deindustrialization” (Journal of Economic Growth, 2016) bahwa tangga itu kini patah di tengah jalan di banyak negara berkembang. Porsi manufaktur mencapai puncak pada tingkat pendapatan yang jauh lebih rendah dibandingkan negara maju terdahulu, lalu menurun sebelum negaranya menjadi kaya. Menurut INDEF, tenaga kerja pertanian menyusut, dan sebagian besar yang keluar terserap di sektor jasa berketerampilan rendah, di mana produktivitas dan pendapatan jauh lebih rendah dibandingkan dengan di pabrik.
Data nasional mendukung pola tersebut. Menurut paparan seorang pengusaha pada Mei 2026, manufaktur kini menyumbang sekitar 19 persen dari PDB, turun dari sekitar 30 persen sebelum reformasi. Kompas melaporkan manufaktur tumbuh rata-rata 4 persen per tahun, di bawah pertumbuhan PDB sebesar 4,98 persen, sementara angkatan kerja tumbuh 11,82 persen, melampaui pertumbuhan tenaga kerja manufaktur. Sebuah kajian dalam prosiding seminar nasional STIS menemukan bahwa kawasan industri di luar Jawa mengalami penurunan kontribusi manufaktur sebelum pendapatan per kapita melewati titik balik. Kompas juga memuat bantahan terhadap istilah deindustrialisasi dini, sehingga perdebatan masih belum selesai. Meski begitu, angka ketenagakerjaan berbicara sendiri.
Ledakan UKM tumbuh di ruang kosong itu. Tulus Tambunan, penulis sejumlah buku tentang UKM Indonesia, menulis “Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting” (LP3ES, 2012), dan rujukan dalam karya tersebut menyebutkan bahwa UMKM menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja nasional. Kajian lain dalam prosiding seminar nasional menempatkan UMKM sebagai penampung surplus tenaga kerja dari sektor pertanian dan sektor informal, sambil mengingatkan bahwa bertambahnya unit usaha tidak otomatis menambah peluang kerja karena banyak unit hanya beroperasi secara mikro atau informal. Data BPS Februari 2026 memperkuat peringatan tersebut. Sebanyak 20,57 persen penduduk bekerja sebagai pekerja mandiri dan 13,67 persen menjadi pekerja keluarga atau tidak dibayar. Dalam angka absolut, itu sekitar 30,4 juta dan 20,2 juta orang. Totalnya 50,6 juta orang, lebih dari sepertiga penduduk bekerja. Usaha yang pemiliknya sekaligus satu-satunya pekerja lebih mudah dipahami sebagai strategi bertahan daripada sebagai mesin pencipta lapangan kerja.
Ada dua penjelasan mengenai ledakan ini. Orang membuka usaha karena melihat peluang pasar atau karena pekerjaan formal tidak tersedia. Kepala Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, menyatakan pada 25 September 2026 bahwa sebagian pekerjaan tambahan masih informal, berproduktivitas rendah, atau memiliki jam kerja yang terbatas. Tambunan (2019), yang dikutip dalam sebuah kajian, menyebutkan bahwa banyak pelaku usaha tidak bankable sehingga terjebak dalam pembiayaan informal dengan bunga tinggi. Kedua temuan ini lebih sejalan dengan penjelasan kedua, meskipun data yang ada belum memisahkan kedua motif tersebut.
AI kemudian hadir di tengah pergeseran lansekap industri ini. Survei UKMindonesia.id bersama ICCI pada 30 Mei sampai 15 Juni 2025 mencatat 67,65 persen responden memakai AI dan hampir 76 persen pernah mendengarnya. Pemakaian terbanyak untuk berdiskusi dan menggali ide, belum untuk tugas yang menghemat waktu, dan sekitar 32,3 persen belum memakai sama sekali. Survei sebuah portal UKM kemungkinan besar menjangkau pelaku yang sudah akrab dengan layanan digital, jadi angkanya perlu dibaca sebagai potret kelompok yang lebih siap. Tinjauan naratif di Journal of Innovative and Creativity (2025) atas artikel jurnal nasional terakreditasi menyimpulkan adopsi AI terkonsentrasi pada UMKM digital yang telah memiliki infrastruktur dan pemahaman teknologi. Tinjauan di jurnal RIGGS menyebut paradoks adopsi: keterbatasan kapabilitas teknis, finansial, dan budaya organisasi berisiko memperlebar kesenjangan digital dan menciptakan perangkap kemiskinan digital.
Dua pembacaan atas peran AI patut diuji. Pembacaan optimis merujuk rekomendasi INDEF agar pemerintah mendorong tradable services, seperti ekonomi digital, jasa perusahaan, dan keuangan, sebagai alternatif manufaktur. Jika AI menurunkan biaya desain, penerjemahan, atau pembukuan, usaha kecil dapat menjual jasa ke luar daerahnya. Pembacaan pesimis berangkat dari temuan di atas: pelaku yang sudah digital menikmati manfaat lebih dulu. BPS mencatat hanya 13,18 persen penduduk bekerja berpendidikan diploma ke atas pada Mei 2026. Jika kemampuan memanfaatkan AI berkaitan dengan pendidikan dan infrastruktur digital, angka itu menunjukkan sempitnya titik awal mayoritas pekerja.
Konsekuensinya konkret. Pekerja informal berada di luar perlindungan hubungan kerja formal, dan mereka yang berusaha sendiri menanggung seluruh risiko usahanya. Paparan pengusaha di Bisnis.com mengaitkan menyusutnya pekerja formal dengan rasio pajak sekitar 9,31 persen. Jika kaitan itu benar, negara memiliki ruang sempit untuk membiayai pelatihan bagi pekerja yang paling membutuhkannya.
AI belum menjadi pengganti pabrik. Tak satu pun sumber di atas menunjukkan teknologi ini menciptakan lapangan kerja formal sebanyak yang hilang. Pertanyaan yang tersisa menyangkut urutan: apakah pelatihan, kredit, dan infrastruktur digital sampai ke jutaan pengusaha tunggal itu sebelum AI melebarkan jarak di antara mereka? Percobaan ini sedang berjalan, dan hasilnya mungkin baru akan terbaca dalam beberapa tahun.
—
AAn.