Sebuah kota kecil di Zhejiang bernama Hengdian dulu terkenal sebagai “Hollywood-nya Tiongkok” karena ribuan syuting drama berlangsung di sana setiap tahun. Sekarang sejumlah lokasi syuting di kota itu mulai tampak sepi. Penyebabnya: AI mulai mengambil alih pekerjaan yang dulu membutuhkan aktor, kru, kamera, dan proses syuting yang memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. CNN melaporkan pada Agustus 2026 bahwa dari lebih dari 120 ribu microdrama yang dirilis pada kuartal pertama tahun ini, sekitar 95 persen dibuat sepenuhnya menggunakan AI. Angka yang lebih spesifik dari China Netcasting Services Association menyebut sekitar 128 ribu judul, dengan lebih dari 95 persen, sekitar 122 ribu, yang dihasilkan sepenuhnya oleh AI. Konten-konten itu dibuat tanpa kamera dan tanpa aktor live-action, sebuah lompatan yang jauh melampaui sekadar penggunaan AI sebagai alat bantu produksi.

Microdrama—atau yang sering kita sebut sebagai Dracin— adalah serial vertikal berdurasi sangat pendek per episode, umumnya sekitar satu atau dua menit, dirancang khusus untuk ditonton lewat smartphone, sehingga memudahkan jempol untuk siap geser ke episode berikutnya. Format ini berkembang pesat di Tiongkok sejak akhir 2010-an dan semakin populer selama pandemi ketika konsumsi hiburan bergeser ke perangkat mobile.

Deloitte memproyeksikan pendapatan in-app microdrama global tembus 7,8 miliar dolar AS tahun ini, naik dari sekitar 3,8 miliar dolar AS pada 2025. Deloitte juga memperkirakan lebih dari setengah miliar orang akan menonton microdrama secara global setiap tahun, sebuah proyeksi yang penting untuk dibedakan dari pendapatan aktual. Angka ini sebagian besar berasal dari platform gaya Barat seperti ReelShort, DramaBox, dan ShortMax, karena ekosistem microdrama Tiongkok justru memilih jalur monetisasi lain, seperti mini-program payment dan iklan di Douyin, Kuaishou, dan WeChat, yang tidak masuk dalam hitungan in-app purchase di App Store.

Di Tiongkok sendiri, menurut DataEye, industri microdrama domestik diproyeksikan menembus sekitar 120 miliar yuan, atau sekitar 16,5 miliar dolar AS, pada 2026—angka yang mencakup seluruh ekosistem domestik mereka, termasuk mini-program payment dan iklan—cakupan yang jauh lebih luas ketimbang metrik in-app purchase yang dipakai Deloitte. Proporsi judul berbasis AI di tangga 100 microdrama teratas juga melonjak dari sekitar 7 persen menjadi sekitar 38 persen hanya dalam satu tahun, berdasarkan data Januari 2026. Angka ini berlaku khusus untuk 100 judul teratas tersebut dan belum mencerminkan keseluruhan populasi microdrama di Tiongkok. Setidaknya di jajaran judul terpopuler, AI sudah menjadi arus utama.

Menariknya, biaya produksi memang bisa turun sangat drastis, tetapi angka 80-90 persen yang diklaim beberapa perusahaan tidak bisa dianggap sebagai rata-rata untuk seluruh industri. Studio Korea Selatan, Vigloo, misalnya, mengklaim menyelesaikan drama AI-nya dalam enam minggu dengan penghematan biaya hingga 90 persen, tetapi hasil produksi spesifik ini belum tentu menjadi standar universal di industri.

Di sinilah euforia “demokratisasi kreativitas” mulai dipertanyakan. Data pasar berkata lain daripada janji manisnya. Platform besar seperti ReelShort, DramaBox, dan ShortMax memang menjadi pemain utama dalam distribusi microdrama global, meski klaim bahwa tiga platform tersebut menguasai sekitar 60 persen pendapatan microdrama di luar Tiongkok belum cukup kuat untuk dijadikan angka pasti. Pernyataan yang lebih aman adalah bahwa distribusi global semakin didominasi oleh sejumlah platform besar yang memiliki modal, data pengguna, dan kemampuan akuisisi audiens. Jadi biaya produksi memang turun buat semua orang, tapi yang benar-benar menikmati keuntungannya belum tentu semua orang. Kreator individu yang berharap AI menjadi tiket masuk gratis ke industri hiburan tetap harus berhadapan dengan masalah distribusi, akuisisi penonton, monetisasi, dan persaingan konten yang semakin ketat.

Ada satu hal lagi yang jarang dibicarakan media populer: ledakan AI microdrama ini tumbuh dari kombinasi teknologi, strategi platform, perubahan ekonomi produksi, dan kebijakan industri, dan sama sekali bukan keajaiban pasar bebas. Pemerintah daerah di Tiongkok memang memberikan berbagai insentif untuk pengembangan AI dan industri konten digital, sementara regulator nasional memperketat pengawasan terhadap microdrama. Namun, klaim bahwa pemerintah memberikan subsidi sampai dua juta yuan untuk setiap drama AI ternyata terlalu digeneralisasi. Angka tersebut lebih tepat merujuk pada dukungan pengembangan atau riset AI dalam kondisi tertentu, alih-alih subsidi flat untuk tiap judul yang diproduksi.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang dulu mengerjakan bagian-bagian ini secara manual? Penulis junior, editor tahap awal, atau aktor pendukung yang biasa muncul dalam drama murah? Riset dari Harvard Business School soal dampak AI generatif pada pasar kerja Amerika menemukan pola yang cukup jelas: pada pekerjaan yang paling terekspos otomatisasi, permintaan terhadap keterampilan yang terekspos AI turun sekitar 24 persen per perusahaan per kuartal, sementara pada pekerjaan yang lebih cocok untuk dibantu AI, permintaan terhadap keterampilan tersebut naik sekitar 15 persen. Angka 24 persen ini menggambarkan pergeseran permintaan terhadap jenis keterampilan tertentu, dengan proporsi yang tidak serta-merta identik dengan hilangnya pekerjaan atau penghapusan pekerjaan oleh AI. Soal yang lebih penting adalah siapa yang punya daya tawar untuk pindah ke sisi yang diuntungkan, dan siapa yang cuma bisa pasrah digantikan.

Menariknya, penonton tidak serta-merta menolak konten buatan AI. Data dari perusahaan teknologi media Holywater menunjukkan bahwa serial yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI memiliki tingkat konversi penonton berbayar sekitar 23,6 persen, hampir menyamai serial live-action mereka sebesar 23,9 persen. Tapi angka ini hanya sebatas perbandingan internal antara platform AI-generated dan live-action milik perusahaan tersebut, jauh dari cakupan survei seluruh industri. Jadi, ini cukup menarik sebagai indikator bahwa konten AI bisa punya performa komersial yang kompetitif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semua penonton tidak peduli siapa yang membuatnya. Ironisnya, penonton yang katanya haus akan otentisitas manusia ini ternyata tidak selalu menolak konten AI, setidaknya selama ceritanya tetap membuat penasaran untuk episode berikutnya.

Tapi ada syaratnya—dan ini bagian yang penting: penelitian Hub Entertainment Research menunjukkan bahwa penonton jauh lebih menerima penggunaan AI ketika keterlibatan AI tersebut diungkapkan secara jelas. Dalam survei yang dikutip Luminate, 93 persen konsumen Amerika mengatakan penonton seharusnya diberi tahu jika AI digunakan dalam pembuatan film atau acara televisi, sementara 72 persen mengatakan penggunaan AI seharusnya selalu diungkapkan.

Bagi kita di Indonesia, posisinya cukup unik. Platform seperti ShortMax dan Melolo memang menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar penting, dan Indonesia termasuk salah satu pasar yang berkembang pesat. Data Sensor Tower menunjukkan bahwa Asia Tenggara menyumbang sekitar 32 persen dari pertumbuhan pasar short-drama global yang mereka ukur. Di Indonesia sendiri, Melolo tercatat sebagai salah satu pemain terdepan dalam jumlah unduhan dan pengguna aktif harian. Klaim bahwa monetisasi Indonesia secara keseluruhan masih tertinggal sehingga industri lebih bergantung pada iklan perlu dibaca dengan hati-hati; pernyataan yang lebih aman adalah bahwa pasar Asia Tenggara memiliki basis pengguna yang besar, tetapi monetisasi per pengguna masih lebih rendah dibandingkan dengan pasar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, sehingga platform mengandalkan kombinasi pembayaran dalam aplikasi, iklan, dan model monetisasi lainnya. Artinya, kita berpotensi menjadi pasar konsumsi yang besar, tetapi pemain produsennya masih terbatas. Arus AI microdrama ke Indonesia sudah pasti datang secara masif; pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah ekosistem kreatif kita sudah membangun kapasitas produksi sendiri sebelum arus konten dari luar terlalu deras untuk dikejar.

Disrupsi ini jelas tidak berjalan satu arah. Biaya produksi memang turun bagi siapa pun, tetapi kekuasaan ekonomi tidak otomatis ikut tersebar. Distribusi, data, algoritma, modal pemasaran, dan akses ke audiens tetap menjadi sumber kekuatan utama. Efeknya demokratis secara teknis, tetapi sentralistik secara struktur pasar. Dan seperti biasa, pekerja kreatif dengan daya tawar paling lemah menanggung risiko paling besar, sementara yang paling diuntungkan adalah mereka yang sudah berdiri di atas infrastruktur besar sejak awal. Jadi, siapkah kita?


AAn.