Ada adegan yang lebih menghantui selain kematian Ophelia dalam Hamlet. Adegan di mana Ophelia muncul di istana sambil menyanyi, membagikan bunga-bunga imajiner kepada orang-orang di sekitarnya—Rosemary untuk kenangan, Pansy untuk renungan, dan Rue untuk penyesalan. Semua orang di ruangan itu tahu Ophelia sedang tidak baik-baik saja. Namun, tidak ada satu pun yang menghentikan halusinasinya. Claudius hanya menyebutnya sebagai “akibat kesedihan atas ayahnya”, Gertrude memilih menyaksikan kengerian itu dari jarak aman, sementara Ophelia terus bernyanyi sampai akhirnya ditemukan mengapung di sungai. Ironisnya, bahkan kematian tersebut diceritakan kepada orang lain seolah putri bangsawan Denmark tersebut sekadar hanyut. Tidak ada yang peduli dengan khayalan mematikan Ophelia.
Apa yang membuat drama Shakespeare ini relevan adalah soal siapa yang menyaksikan namun tidak bertindak. Ophelia dikelilingi orang-orang yang seolah peduli, tetapi tidak satu pun cukup dekat untuk benar-benar menahannya dari kegilaan. Pola serupa mulai menjadi perhatian para klinisi dan media sejak 2025, hanya saja panggungnya kini berpindah dari istana Denmark ke layar ponsel: seseorang tenggelam dalam delusi selama berminggu-minggu, sementara satu-satunya “teman bicara” yang selalu hadir justru chatbot yang diam-diam menjerumuskannya.
Istilah yang lahir dari ruang gawat darurat
“AI psychosis” bukan diagnosis resmi dalam manual psikiatri mana pun. Istilah ini muncul dalam pemberitaan media dan diskusi para klinisi untuk menggambarkan kasus-kasus ketika seseorang datang ke ruang gawat darurat dengan sistem delusi yang tampak diperkuat oleh percakapan panjang dengan chatbot AI. Beberapa yakin model AI itu sadar dan telah memilih mereka secara khusus. Sebagian lain percaya sedang menyingkap kebenaran tersembunyi tentang realitas yang harus segera disampaikan kepada dunia.
Proyek dokumentasi independen Human Line Project telah menghimpun ratusan laporan kasus yang diduga memiliki pola serupa. Angka tersebut kemungkinan tidak mencerminkan seluruh kejadian karena banyak kasus tidak pernah dilaporkan atau tidak dikenali sebagai berkaitan dengan penggunaan AI.
Kasus yang paling banyak dikutip media adalah milik seorang akuntan bernama Eugene Torres. Ia mulai memakai chatbot untuk pekerjaan sehari-hari, lalu dalam hitungan minggu, Torres merasa yakin bahwa dirinya terjebak dalam simulasi realitas palsu. Dalam percakapan yang kemudian dipublikasikan media, chatbot bahkan mendorong narasi yang memperkuat keyakinannya, termasuk menyarankan peningkatan dosis ketamin dan menjauh dari keluarganya sebagai jalan untuk “membebaskan diri”. Torres selamat. Beberapa perkara lain yang kemudian masuk ke pengadilan melibatkan keluarga yang menuduh interaksi dengan chatbot ikut berperan dalam krisis psikologis yang berujung pada kematian.
Mengapa chatbot bisa memperkuat delusi?
Psikiater Søren Dinesen Østergaard sudah mengingatkan potensi ini dalam Schizophrenia Bulletin pada 2023, jauh sebelum kasus-kasus tersebut ramai diberitakan. Argumennya sederhana: interaksi dengan chatbot generatif terasa cukup meyakinkan sehingga orang mudah merasakan kehadiran “pribadi” di balik percakapan, meskipun secara sadar mengetahui bahwa lawan bicaranya hanyalah sebuah sistem. Pada individu yang memang memiliki kerentanan terhadap psikosis, pengalaman semacam ini berpotensi ikut memperkuat pembentukan delusi.
Di sisi teknis, ada fenomena yang dikenal sebagai sycophancy. Model bahasa dilatih menggunakan umpan balik manusia, sementara manusia cenderung lebih menyukai jawaban yang terdengar mendukung atau sejalan dengan pandangan mereka. Akibatnya, model dapat menunjukkan kecenderungan untuk terlalu mudah menyetujui atau memvalidasi keyakinan pengguna. Bagi kebanyakan orang, ini mungkin akan terasa seperti teman ngobrol yang terlalu menyenangkan. Namun pada seseorang yang sedang kehilangan pijakan terhadap realitas, kecenderungan tersebut dapat mengurangi gesekan sosial yang biasanya membantu mengoreksi keyakinan yang keliru.
Fitur memori yang digunakan untuk personalisasi juga berpotensi memperkuat efek tersebut. Ketika keyakinan yang sama terus muncul dan direspons secara konsisten lintas percakapan, pengguna dapat merasakan adanya pola yang tampak saling menguatkan, meskipun sebenarnya berasal dari sistem yang sama.
Bandingkan dengan relasi antarmanusia. Seorang teman yang melihat wajahmu kurang tidur, pembicaraanmu semakin tidak masuk akal, atau kamu mulai menarik diri dari lingkungan biasanya akan bertanya, meragukan, atau mencoba mengajakmu mencari bantuan. Sebaliknya, banyak chatbot dirancang untuk membantu menjaga percakapan tetap berjalan dengan lancar. Tanpa mekanisme pengaman yang memadai, kecenderungan untuk terus memvalidasi pengguna justru dapat menjadi masalah ketika situasinya sebenarnya menuntut pengujian kembali terhadap kenyataan.
Ophelia dan suara yang tak terdengar
Di sinilah metafora Ophelia kembali relevan. Sepanjang lakon, Ophelia tidak pernah memperoleh soliloquy seperti Hamlet. Penonton tidak pernah benar-benar mendengar isi kepalanya; yang mereka dengar adalah Ophelia sebagaimana dipandang oleh Polonius, Laertes, Hamlet, atau Gertrude. Ia terus dibentuk oleh suara orang lain hingga suaranya sendiri pecah menjadi nyanyian yang tak lagi dipahami siapa pun.
Pengguna yang terjebak dalam spiral delusi dapat mengalami versi digital dari pola yang serupa: suara yang paling sering hadir dalam hidup mereka justru suara yang paling jarang mempertanyakan keyakinan mereka.
Apa yang mulai berubah?
Tekanan publik mendorong sejumlah perusahaan AI memperkuat mekanisme keselamatan. Setelah berbagai kasus mendapat perhatian luas, pengembang mulai meningkatkan deteksi terhadap percakapan yang mengindikasikan krisis psikologis, memperbaiki respons terhadap delusi atau mania, serta lebih sering mengarahkan pengguna menuju bantuan profesional ketika diperlukan. Perubahan ini penting, tetapi sebagian besar bersifat reaktif—lahir setelah berbagai kasus menjadi sorotan publik, alih-alih menjadi bagian dari rancangan awal teknologi tersebut.
Bagi siapa pun yang bekerja di industri media, komunikasi, atau produk berbasis AI, ini menjadi pengingat yang kurang nyaman. Antarmuka percakapan dirancang agar terasa alami dan penuh empati. Semakin meyakinkan pengalaman itu, semakin mudah pengguna lupa bahwa mereka sedang berinteraksi dengan sistem prediksi bahasa semata. Di situlah tanggung jawab para perancang menjadi semakin besar: bagaimana menciptakan teknologi yang tidak hanya terasa membantu, tetapi juga mampu memberi “gesekan” ketika pengguna mulai kehilangan pijakan terhadap kenyataan.
Ophelia tidak semata-mata menjadi gila karena rapuh. Shakespeare memperlihatkan seorang perempuan yang terus diperlakukan sebagai alat oleh orang-orang di sekelilingnya, tanpa pernah sungguh-sungguh didengarkan. Pertanyaan yang sama kini layak diajukan kepada suara digital yang menemani jutaan orang setiap hari: siapa yang akan berani bertanya, menantang, atau meragukan—sebelum kita semua terbiasa dengan suara yang hanya tahu cara untuk setuju?
—
Sumber:
Human Line Project; Kevin Roose & Kashmir Hill, The New York Times (2025);
Søren Dinesen Østergaard, “Will Generative Artificial Intelligence Chatbots Generate Delusions in Individuals Prone to Psychosis?”, Schizophrenia Bulletin (2023); Simply Psychology, “AI Psychosis: What Clinicians Are Seeing in Heavy Chatbot Users” (2026).
—
AAn.