Dulu, kita belajar untuk bisa mendapatkan pegetahuan. Belajar dilakukan manusia dengan berusaha mendatangi pusat pengetahuan, berguru pada orang berilmu dan mendatangi kelas-kelas. Pengetahuan masih begitu eksklusif, hingga proses belajar menuntut usaha, waktu dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Kemudian internet mengubah cara kira menemukan informasi. Mesin pencari seperti Google membuat jawaban lebih mudah ditermukan melalui kata kunci. Kini perkembangan Artificial Intelligence (AI) kembali mengubah lanskap dalam mencari pengetahuan. Dengan chatbot berbasis Large Language Model (LLM) seperti Chat GPT mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Kita bisa saja memintanya menjawab soal, membuat ringkasan, hingga menyusun draf esai yang cukup mengesankan.
Hari ini kita semakin sadar bahwa AI telah mengubah cara manusia dalam memeroleh pengetahuan. Aktivitas-aktivitas yang dulu membutuhkan waktu berjam- jam, dengan teknologi kini dapat selesai dalam hitungan menit saja. Namun, dari segala kemudahan tersebut, muncul pertanyaan jika AI mampu memberikan jawaban dengan begitu instan, apakah kita masih perlu untuk belajar dan berpikir? Dan lebih jauh lagi, apakah AI akan menggantikan proses berpikir?
Berbagai penelitian menunjukkan AI berpotensi untuk mendukung pembelajaran. Sebuah artikel systematic review mengenai bagaimana AI berdampak pada kemampuan berpikir kritis, menunjukkan AI dapat mendukung proses berpikir kritis. AI seperti ChatGPT mampu menyediakan akses yang mudah ke berbagai informasi, memberikan macam-macam perspektif dan membantu siswa dalam penyusunan argumen. Ketika digunakan secara tepat, AI dapat menjadi alat yang memperkaya proses berpikir, bukan sekadar mesin pencari yang canggih.
Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan sisi lain. Penggunaan AI yang berlebihan berisiko menimbulkan ketergantungan sehingga pengguna menjadi kurang terdorong untuk memeriksa, mengevaluasi, atau merefleksikan jawaban yang diberikan. Dalam dunia pendidikan, kondisi ini dapat menggeser tujuan belajar dari memahami sesuatu secara bermakna menjadi sekadar memperoleh jawaban.
Ketika pengguna terbiasa menerima jawaban instan, dorongan untuk mengevaluasi informasi, merefleksikan pemahaman, atau mempertanyakan kualitas jawaban menjadi berkurang. Dalam konteks pendidikan, kondisi ini berpotensi membuat proses belajar bergeser dari memahami menjadi sekadar memperoleh jawaban. Padahal, berpikir kritis bukan hanya tentang menemukan jawaban yang benar. Facione (1990) mendefinisikannya sebagai proses menginterpretasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti serta konteks yang relevan. Dengan kata lain, berpikir kritis menuntut seseorang untuk mempertanyakan informasi, bukan sekadar menerima jawaban saja.
Karena itu, tantangan utama pendidikan di era AI bukanlah melarang penggunaan teknologi, melainkan memastikan AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Peran pendidik adalah membimbing siswa agar mampu memverifikasi informasi, menguji argumen, dan tetap membangun kemampuan berpikir kritis.
Pada akhirnya, AI mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Namun, kemampuan untuk mempertanyakan dan menilai jawaban tersebut tetap menjadi keterampilan yang hanya dapat dimiliki manusia.
Referensi
Facione, P. A. (1990). Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction (Research Findings and Recommendations). The California Academic Press / ERIC Clearinghouse. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED315423.pdf
Melisa, R., Ashadi, A.,Triastuti, A., Hidayati, S., Salido, A., Ero, P. E.L., Marlini, C., Zefrin., & Fuad, Z. A. (2025). Critical Thinking in the Age of AI: A Systematic Review of AI’s Effects on Higher Education. Educational Process: International Journal, 14, e2025031. https://doi.org/10.22521/edupij.2025.14.31