1982, Tron gagal masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Visual Effects. Alasannya: film ini dianggap curang karena memakai komputer untuk menghasilkan gambar. Padahal dari total durasinya, cuma sekitar 12 sampai 15 menit yang benar-benar memanfaatkan CGI. Sisanya tetap digambar tangan, dianimasikan manual, atau diproses lewat rotoscope seperti film animasi lain di zaman itu. Tapi bagi anggota Academy waktu itu, sedikit saja sentuhan “mesin” cukup untuk membatalkan legitimasi sebuah karya visual.

Oscar tahun itu jatuh ke E.T. the Extra-Terrestrial. Tron pulang membawa dua nominasi “remeh”: Best Sound dan Best Costume Design. Kekalahan yang terasa seperti ironi, mengingat 40 tahun kemudian nyaris seluruh film blockbuster dunia bergantung penuh pada teknologi yang dulu dituduh curang itu.

Cerita ini menarik jauh melampaui sekadar trivia sinema. Ia jadi cermin yang pas untuk membaca kegaduhan kita hari ini soal AI generatif — dari kekhawatiran penulis skenario, ilustrator, sampai musisi yang merasa profesi mereka sedang direbut mesin. Pola resistensinya sama persis, hanya nama teknologinya yang berbeda.

Melvin Kranzberg, sejarawan teknologi dari Georgia Tech, punya rumusan yang sering dikutip: teknologi tidak baik, tidak buruk, dan juga tidak netral. Dampaknya pada masyarakat selalu melampaui niat awal penciptanya, dan faktor-faktor di luar teknologi itu sendiri — nilai budaya, struktur kekuasaan, siapa yang merasa terancam — jauh lebih menentukan nasibnya ketimbang kecanggihan teknisnya. Penolakan Academy terhadap CGI berakar pada ancaman yang dirasakannya terhadap definisi mereka sendiri soal kerja kreatif yang layak dihormati, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kualitas hasil visual yang ditampilkan.

Sekarang bagian paling menariknya. Cuma 13 tahun setelah Tron dicap curang, Academy berbalik total. Pada 1996, mereka memberi Special Achievement Academy Award kepada Toy Story — film pertama dalam sejarah yang seratus persen dianimasikan komputer. Selain penghargaan khusus itu, Toy Story bahkan masuk nominasi Best Original Screenplay, kategori kompetitif reguler yang sebelumnya tak pernah disentuh film animasi. John Lasseter, sutradaranya, naik podium dan bilang begini: “Komputer saja tidak menciptakan Toy Story. Sekelompok orang yang sangat berbakat yang melakukannya.”

Kalimat inilah kuncinya. Lasseter membela manusia di balik teknologi itu. Dan Academy, yang 13 tahun sebelumnya menolak gagasan komputer sebagai alat seni, langsung luluh begitu narasi authorship manusianya meyakinkan. Kemampuan industrinya meyakinkan publik bahwa mesin cuma alat, dan tangan manusia tetap memegang kendali kreatif, itulah yang berubah sepanjang 13 tahun itu — CGI-nya sendiri jujurly tidak banyak berubah.

Pertanyaannya sekarang: berapa lama siklus tersebut berlangsung untuk AI generatif?

Kalau CGI perlu 13 tahun untuk berpindah dari status “kecurangan” ke status “prestasi yang dirayakan”, AI generatif kemungkinan besar tidak akan menunggu selama itu. Laporan AI Index 2026 dari Stanford HAI mencatat adopsi AI generatif menembus 53 persen populasi global cuma dalam tiga tahun sejak diluncurkan massal — lebih cepat dari personal computer, lebih cepat dari internet. Di tingkat organisasi, angka adopsinya sudah 88 persen pada 2025. Kalau kecepatan difusi teknisnya jauh lebih ngebut dibanding CGI era 1980-an, logikanya siklus penerimaan kelembagaannya juga akan lebih pendek.

Dan memang begitu kenyataannya. Academy sudah bergerak. Pada Mei 2026, mereka menetapkan aturan baru untuk Oscar ke-99: penggunaan AI generatif tidak akan menolong atau merugikan peluang nominasi sebuah film. Yang dinilai tetap sejauh mana authorship kreatif manusia jadi inti pencapaiannya. Satu-satunya pengecualian tegas ada di kategori akting dan penulisan naskah, yang tetap mensyaratkan performa dan skenario dikerjakan manusia yang bisa diverifikasi kreditnya. Bandingkan dengan 1982: dulu penolakannya kategoris dan buta warna, main pukul rata satu kategori penuh. Sekarang kebijakannya sudah granular, dipilah sampai level sub-kategori.

Kegelisahan publiknya sendiri tetap nyata dan terukur. Survei Pew Research awal 2025 menemukan 56 persen publik Amerika sangat khawatir AI akan menghilangkan lapangan kerja mereka, jauh di atas kalangan pakar AI yang cuma 25 persen merasa sama. Survei Anthropic akhir 2025 juga mencatat 64 persen responden AS menyebut ketakutan kehilangan pekerjaan akibat AI sebagai kekhawatiran nomor satu, konsisten lintas afiliasi politik. Angka-angka ini jauh lebih besar dibanding kegelisahan publik terhadap CGI di masanya. Tidak pernah ada survei nasional soal ketakutan animator kehilangan pekerjaan gara-gara Tron.

Di sinilah bedanya, dan penting untuk tidak menyamaratakan begitu saja. CGI menggantikan cara mengerjakan sesuatu, tapi tetap butuh operator manusia terampil dalam jumlah besar untuk menjalankannya. AI generatif berpotensi menggantikan fungsi kognitif itu sendiri — menulis, menyusun plot, bahkan meniru suara dan wajah aktor. Skala ancamannya memang lebih luas. Tapi justru karena itu, pola yang sama tetap berlaku, cuma dengan taruhan yang lebih tinggi: industri yang berhasil membangun narasi kredibel soal peran manusia di balik AI akan lebih cepat diterima, sementara yang gagal melakukannya akan terus menghadapi resistensi, apa pun kecanggihan teknologinya.

Jadi kalau ada yang bertanya apakah AI akan bernasib seperti CGI — dari dicap curang jadi dirayakan sebagai prestasi — jawabannya kemungkinan besar iya, cuma jauh lebih cepat. Yang belum terjawab adalah siapa yang akan berdiri di podium 13 tahun — atau mungkin cuma tiga tahun — dari sekarang, mengulang kalimat Lasseter dengan versi barunya.


AAn.