Dulu, traveling identik dengan destinasi populer.
Semua orang pergi ke tempat yang sama:
- landmark terkenal
- spot wisata viral
- lokasi “wajib” turis.
Namun sekarang, pola itu mulai berubah.
Semakin banyak orang justru mencari:
hidden gem.
Tempat yang:
- tidak terlalu ramai
- terasa lebih autentik
- dan belum “terlalu internet”.
Fenomena ini semakin terlihat di media sosial, terutama TikTok, di mana konten perjalanan kini tidak lagi hanya tentang destinasi terkenal,
tetapi juga:
- cafe tersembunyi
- kota kecil
- pantai sepi
- hingga spot lokal yang belum banyak diketahui wisatawan.
Media Sosial Mengubah Cara Orang Traveling
TikTok dan media sosial membuat proses traveling berubah total.
Dulu orang mencari referensi lewat:
- blog perjalanan
- artikel wisata
- atau rekomendasi agen travel.
Sekarang?
Cukup scroll beberapa menit,
orang bisa menemukan:
- itinerary
- hidden spot
- local food
- bahkan tips transportasi.
Format short video membuat destinasi terasa:
- lebih hidup
- lebih emosional
- lebih immersive.
Akibatnya, orang merasa:
“Aku juga pengen ke sana.”
Kenapa Hidden Gem Justru Lebih Menarik?
Ada alasan psikologis kenapa wisata hidden gem semakin diminati.
1. Mencari Pengalaman yang Lebih Personal
Destinasi populer sering terasa:
- terlalu ramai
- terlalu komersial
- terlalu “template”.
Sementara hidden gem menawarkan pengalaman yang terasa lebih:
- intimate
- tenang
- autentik.
Banyak orang kini traveling bukan sekadar untuk checklist destinasi,
tetapi untuk:
merasakan pengalaman yang berbeda.
2. Era “Instagrammable” dan Uniqueness
Media sosial juga menciptakan dorongan untuk mencari sesuatu yang unik.
Jika semua orang mengunggah foto di tempat yang sama,
nilai “special”-nya berkurang.
Karena itu, hidden gem menjadi menarik karena memberikan:
- visual baru
- pengalaman baru
- cerita baru.
- Keinginan Kabur dari Keramaian
Setelah bertahun-tahun hidup di dunia yang:
- cepat
- padat
- penuh notifikasi
banyak orang mulai mencari tempat yang terasa lebih “sunyi”.
Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya minat terhadap:
- slow travel
- healing trip
- mindful traveling.
Traveling bukan lagi soal sebanyak mungkin tempat,
tetapi:
seberapa bermakna pengalaman tersebut.
TikTok Membuat Destinasi Bisa Viral dalam Semalam
Yang menarik,
media sosial punya kekuatan besar dalam mengubah lokasi biasa menjadi viral.
Sebuah video sederhana bisa membuat:
- cafe kecil mendadak penuh
- desa wisata ramai pengunjung
- hidden beach jadi destinasi populer.
Fenomena ini menunjukkan bahwa:
algoritma kini bisa memengaruhi arus wisata global.
Tapi Ada Ironinya…
Ketika hidden gem mulai viral,
tempat tersebut perlahan kehilangan statusnya sebagai hidden gem.
Karena semakin banyak orang datang:
- tempat jadi ramai
- harga naik
- nuansa lokal berubah
- bahkan muncul overtourism.
Fenomena ini terjadi di banyak lokasi wisata dunia yang awalnya dikenal karena: ketenangan dan keasliannya.
Generasi Baru Traveler
Pola traveling generasi muda juga berbeda dibanding sebelumnya.
Mereka lebih menyukai:
- pengalaman lokal
- budaya autentik
- aktivitas unik
- interaksi personal.
Karena itu,
destinasi kecil justru terasa lebih menarik dibanding tempat wisata mainstream.
Traveling Kini Lebih Tentang Cerita
Dulu traveling fokus pada:
“aku pergi ke mana.”
Sekarang berubah menjadi:
“aku mengalami apa.”
Orang ingin:
- mencoba makanan lokal
- naik transportasi umum
- mengunjungi tempat tersembunyi
- menemukan spot yang tidak semua orang tahu.
Traveling menjadi lebih emosional dan personal.
Konten Travel Juga Ikut Berubah
Konten perjalanan sekarang tidak lagi hanya cinematic dan mewah.
Justru video yang terasa:
- spontan
- realistis
- jujur
- dan sederhana
sering lebih disukai.
Karena audiens merasa:
pengalaman itu nyata dan bisa mereka lakukan juga.
Dampaknya untuk Industri Pariwisata
Fenomena hidden gem membawa dampak besar bagi sektor wisata.
Positif:
- destinasi kecil mulai dikenal
- ekonomi lokal berkembang
- wisata lebih tersebar
Negatif:
- risiko overtourism
- kerusakan lingkungan
- perubahan budaya lokal.
Karena itu,
banyak negara mulai memikirkan:
bagaimana menjaga keseimbangan antara viralitas dan keberlanjutan wisata.
Wisata Masa Depan: Lebih Personal dan Slow
Tren ini menunjukkan bahwa masa depan traveling kemungkinan akan bergerak ke arah:
- experience-based travel
- slow travel
- sustainable tourism.
Orang mulai lebih menghargai:
- kualitas pengalaman
dibanding - jumlah destinasi.
Kesimpulan
Fenomena hidden gem travel menunjukkan bahwa traveling kini bukan hanya soal pergi jauh,
tetapi tentang:
mencari pengalaman yang terasa lebih nyata dan personal.
Media sosial memang membuat destinasi lebih mudah ditemukan,
namun di saat yang sama juga mengubah cara manusia menikmati perjalanan.
Dan mungkin,
di era digital yang serba cepat ini,
orang justru semakin merindukan sesuatu yang:
- tenang
- autentik
- dan belum terlalu ramai.
Karena terkadang,
tempat terbaik bukan yang paling terkenal—
melainkan yang paling terasa.
Referensi
TikTok Travel Trend Observation.
https://www.tiktok.com/@josi.travelplanning/video/7628441345417432341
UN Tourism. (2025). Global Trends in Experience-Based Tourism.
Condor Ferries. (2025). Travel Trends Report: Gen Z and Slow Travel.
Skift Research. (2025). The Rise of Hidden Gem Tourism in Social Media Era.
Catatan:
Visual dan naskah dikembangkan dengan bantuan AI berbasis whitepaper penulis.