Oleh: Analisis Laporan Reuters Institute for the Study of Journalism, Maret 2026


Bayangkan seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Jakarta. Setiap pagi ia membuka Instagram, menggulir Reels, lalu berpindah ke TikTok. Di sela-sela itu, ia menemukan klip pendek tentang kebijakan pemerintah, cuplikan debat politik, atau penjelasan seorang kreator tentang isu lingkungan. Ia tidak membuka situs berita. Ia tidak berlangganan koran digital. Namun ia tahu banyak hal yang terjadi di dunia.

Inilah potret generasi muda saat ini — bukan generasi yang tidak peduli berita, melainkan generasi yang membaca dunia dengan cara yang sama sekali berbeda.


Dari Online-First ke Social-First

Selama lebih dari satu dekade, Reuters Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford mendokumentasikan perubahan mendasar dalam cara anak muda usia 18–24 tahun berinteraksi dengan berita. Laporan terbaru mereka, diterbitkan Maret 2026, merangkum temuan dari 12 tahun riset lintas 48 negara — dan hasilnya mengejutkan banyak pihak di industri media.

Pada 2015, anak muda sudah tergolong pengguna internet yang aktif untuk berita. Saat itu, 36% dari mereka menyebut situs web dan aplikasi berita sebagai sumber utama informasi. Namun satu dekade berselang, angka itu anjlok menjadi hanya 24%. Yang menggantikannya? Media sosial, yang kini diklaim sebagai sumber utama berita oleh 39% anak muda.

Pergeseran ini bukan sekadar soal platform. Ini adalah perubahan dalam cara berita ditemukan. Sebelumnya, anak muda aktif mencari berita — mereka membuka situs, mengetik alamat portal, mengklik tautan. Kini, berita datang kepada mereka tanpa diminta, menyelinap di antara video kucing, konten hiburan, dan kiriman teman-teman di media sosial.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai konsumsi berita yang bersifat insidental — tidak disengaja, tidak terencana, dan seringkali tidak disadari.


TikTok, Instagram, YouTube: Tiga Serangkai Baru

Jika dulu Facebook mendominasi konsumsi berita anak muda — dengan 47% pengguna muda memakainya untuk berita pada 2014 — kini platform itu nyaris ditinggalkan. Hanya 16% anak muda yang masih menggunakannya untuk berita pada 2025. Seorang responden perempuan berusia 18–20 tahun dari Inggris dalam studi kualitatif Reuters Institute merangkumnya dengan tepat: Facebook adalah “sesuatu yang kuno, milik ibu-ibu.”

Sebagai gantinya, tiga platform visual mendominasi konsumsi berita anak muda: Instagram (30%), YouTube (23%), dan TikTok (22%). Ketiganya memiliki satu benang merah — format audiovisual yang imersif, pendek, dan berbasis algoritma rekomendasi.

Hampir setengah dari semua anak muda usia 18–24 tahun (47%) menggunakan TikTok setiap minggu untuk berbagai keperluan — angka yang hampir nol hanya enam tahun lalu. Sementara YouTube terbukti lintas generasi; platform ini populer tidak hanya di kalangan muda tetapi juga terus tumbuh di kalangan pengguna berusia 55 tahun ke atas.

Rata-rata, anak muda menggunakan 4,6 platform digital per minggu, dibanding 3,4 platform di kalangan yang lebih tua. Mereka tidak setia pada satu ekosistem — mereka berlayar di banyak lautan sekaligus.


Lebih Sedikit, Tapi Bukan Tidak Ada

Salah satu temuan yang kerap disalahpahami adalah soal frekuensi konsumsi berita. Data menunjukkan bahwa hanya 64% anak muda mengakses berita setiap hari, jauh di bawah 87% pada kelompok usia 55 tahun ke atas. Angka ini turun 15 poin persentase sejak 2017 — dua kali lebih cepat dibanding penurunan pada kelompok lebih tua.

Namun para peneliti memperingatkan agar angka ini tidak ditafsirkan secara dangkal. Anak muda tidak sedang meninggalkan informasi — mereka sedang mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan “berita.”

Riset kualitatif Reuters Institute secara konsisten menemukan bahwa anak muda memiliki definisi berita yang lebih luas. Bagi mereka, ada perbedaan antara “berita” (informasi yang relevan dan menarik bagi kehidupan mereka, dari berbagai format dan sumber) dan “the news” (produk jurnalisme konvensional yang terasa formal dan jauh dari kehidupan sehari-hari). Yang mereka tinggalkan adalah yang kedua — bukan yang pertama.


Kepercayaan yang Tak Berjarak Jauh

Sering diasumsikan bahwa anak muda sangat tidak percaya media. Kenyataannya lebih bernuansa.

Pada 2025, 37% anak muda usia 18–24 menyatakan mereka “mempercayai sebagian besar berita sebagian besar waktu” — hanya 9 poin persentase di bawah kelompok usia 55 tahun ke atas (46%). Kesenjangan ini konsisten sejak Reuters Institute pertama kali mengukur kepercayaan pada 2015, dan tidak melebar secara signifikan meski kepercayaan terhadap media secara umum menurun di hampir semua negara.

Yang lebih menarik, perbedaan pandangan antara anak muda dan orang tua soal impartialitas berita juga tidak sedrastis yang sering diberitakan. Mayoritas di semua kelompok usia setuju bahwa media seharusnya berusaha netral. Namun anak muda memang lebih banyak (32%) yang berpendapat bahwa ada isu-isu tertentu — seperti perubahan iklim atau rasisme — di mana netralitas tidak lagi relevan. Bandingkan dengan 19% pada kelompok 55 tahun ke atas.

Ini bukan sinisme terhadap berita, melainkan cerminan dari nilai-nilai yang berbeda tentang apa yang dianggap adil dan apa yang dianggap fakta.


Menghindari Berita: Alasan yang Berbeda

Sekitar 42% anak muda mengaku kadang atau sering menghindari berita. Angka ini hampir sama dengan kelompok usia lain (37% pada kelompok 55+), sehingga penghindaran berita bukan fenomena yang unik bagi generasi muda.

Namun alasan mereka berbeda secara bermakna.

Semua kelompok usia sepakat bahwa berita membuat suasana hati buruk — ini menjadi alasan utama penghindaran di semua kelompok. Tetapi anak muda jauh lebih mungkin menyebut dua alasan tambahan: berita terasa tidak relevan dengan kehidupan mereka (21% vs 16% pada kelompok tua), dan berita sulit dipahami (15% vs hanya 5% pada kelompok tua).

Poin terakhir ini sangat penting. Berita yang kompleks, penuh jargon, dan mengasumsikan pembaca memiliki latar belakang pengetahuan mendalam — tentang Brexit, kebijakan moneter, atau konflik geopolitik yang sudah berlangsung bertahun-tahun — terasa seperti teks dalam bahasa asing bagi mereka yang baru mulai mengikutinya.

Seorang responden laki-laki berusia 21–24 tahun dari Inggris menggambarkan pengalamannya: jika seseorang baru mencoba memahami Brexit setelah lama tidak mengikutinya, ia harus mencari dari nol, dan itu terasa seperti beban yang terlalu berat.


Selera Berita yang Berbeda

Anak muda dan orang tua ternyata berbagi dua minat berita yang sama di posisi teratas: berita lokal dan berita internasional. Namun di luar itu, perbedaan mulai terlihat jelas.

Anak muda menempatkan berita politik di urutan kesembilan dari sepuluh kategori yang disurvei. Sebaliknya, kelompok usia 55+ menaruhnya di urutan ketiga. Yang menaiki tangga popularitas di kalangan muda adalah “berita yang menyenangkan” — satir, humor, konten yang menghibur — serta berita hiburan dan selebriti.

Ada pula perbedaan berdasarkan gender di kalangan anak muda sendiri. Laki-laki muda cenderung lebih tertarik pada sains, teknologi, olahraga, dan politik. Perempuan muda lebih condong pada kesehatan mental, kriminalitas, dan hiburan. Keduanya sama-sama menaruh berita lokal dan internasional di daftar atas.

Satu temuan yang menonjol: perempuan muda (39%) jauh lebih mungkin merasa liputan media tentang kelompok usia mereka tidak adil, dibanding laki-laki muda (47% yang merasa adil). Para peneliti mengaitkan ini dengan sejarah panjang media yang secara tradisional lebih berpihak pada perspektif laki-laki dalam peliputannya.


Kreator Menggeser Media

Mungkin pergeseran yang paling mengguncang industri media adalah meningkatnya kepercayaan anak muda pada kreator konten individu sebagai sumber berita.

Ketika ditanya siapa yang paling mereka perhatikan di media sosial untuk urusan berita, 51% pengguna media sosial berusia 18–24 menjawab: kreator atau tokoh individu. Hanya 39% yang menjawab: media berita tradisional atau jurnalis. Proporsi ini hampir terbalik pada kelompok 55 tahun ke atas.

Ekosistem kreator ini sangat beragam. Di satu sisi ada komentator partisan dan kontroversial seperti Joe Rogan atau Tucker Carlson yang mendominasi perhatian. Di sisi lain, tumbuh kelompok kreator muda yang mengkhususkan diri dalam menerjemahkan berita ke bahasa yang lebih mudah dipahami — mengemas ulang konten arus utama menjadi format yang lebih aksesibel dan relevan bagi penonton muda.

Hugo Travers dari Prancis, yang membangun kanal YouTube-nya saat masih mahasiswa menjadi sebuah perusahaan media yang ditonton jutaan anak muda, menjadi contoh paling menonjol. Serupa dengannya adalah Dylan Page dari Inggris, serta Abhi and Niyu dari India — semuanya menemukan ceruk yang sama: menjadi “penerjemah berita” untuk generasi yang merasa media konvensional berbicara dalam bahasa yang bukan milik mereka.

Namun para peneliti juga mengingatkan bahwa temuan ini tidak berarti kreator menggantikan media arus utama sepenuhnya. Data justru menunjukkan sebaliknya: mereka yang paling banyak mengonsumsi konten dari kreator individu adalah juga mereka yang paling banyak mengonsumsi berita dari media mainstream. Mereka adalah pecinta berita — bukan pelarian dari berita.


Generasi AI

Tidak ada laporan tentang anak muda dan media di 2025 yang lengkap tanpa membicarakan kecerdasan buatan.

Sekitar 15% anak muda usia 18–24 menggunakan AI chatbot untuk mengakses berita setiap minggu — angka yang tampak kecil, tetapi lima kali lipat lebih tinggi dibanding kelompok usia 55 tahun ke atas (3%). Dan cara mereka menggunakannya berbeda secara mendasar dari generasi yang lebih tua.

Orang tua yang menggunakan AI untuk berita cenderung memakainya untuk mendapatkan headline atau ringkasan cepat. Anak muda menggunakannya dengan cara yang lebih elaboratif: hampir separuh (48%) dari pengguna muda AI untuk berita menggunakannya khusus untuk membuat suatu berita lebih mudah dipahami — jauh di atas 27% pada kelompok tua. Mereka juga lebih sering menggunakan AI untuk mengevaluasi sumber berita dan mengajukan pertanyaan lanjutan tentang suatu isu.

Ini bukan ketergantungan yang naif. Ini adalah respons pragmatis terhadap lingkungan informasi yang penuh sesak — di mana anak muda, yang seringkali tidak memiliki konteks historis tentang isu-isu yang sudah berlangsung lama, menggunakan AI sebagai pemandu navigasi di labirin informasi.

Pada saat yang sama, anak muda juga lebih khawatir tentang konten palsu yang dihasilkan AI. Pada 2025, 60% anak muda menyatakan kekhawatiran tentang apa yang nyata dan palsu di internet — naik 8 poin persentase sejak 2022. Paradoks ini menggambarkan posisi mereka yang unik: paling awal mengadopsi AI, sekaligus paling sadar akan risikonya.


Preferensi Format: Menonton dan Mendengarkan

Jika ada satu hal yang menyatukan semua kecenderungan di atas, itu adalah preferensi terhadap konten audiovisual.

Membaca masih menjadi format pilihan utama untuk berita online di semua kelompok usia, termasuk anak muda. Namun proporsi anak muda yang lebih memilih menonton berita online (32%) jauh lebih tinggi dibanding kelompok 55+ (25%). Demikian pula dengan mendengarkan — 16% vs 10%.

Hampir tiga dari empat anak muda (73%) menonton video berita pendek setiap minggu, dibanding 60% pada kelompok tua. Banyak dari video ini berbentuk vertikal — format yang dipopulerkan TikTok dan Instagram Reels — yang kini mulai diadopsi oleh media mainstream seperti The Economist, New York Times, dan CNN melalui tab video khusus di aplikasi mereka.

Soal podcast, anak muda memang lebih banyak mendengarkan podcast secara umum (59% per bulan vs 24% pada kelompok tua). Namun menariknya, proporsi podcast berita dalam keseluruhan konsumsi podcast mereka justru lebih kecil dibanding kelompok tua. Bagi anak muda, podcast adalah tentang obrolan, humor, dan topik yang mereka minati — bukan selalu tentang berita konvensional.


Bukan Apatis, Tapi Berbeda

Di balik semua data ini, satu kesimpulan besar terus menguat: anak muda bukan generasi yang apatis terhadap dunia. Mereka mengonsumsi informasi dalam jumlah yang masif — hanya saja dalam format yang berbeda, melalui platform yang berbeda, dan dengan ekspektasi yang berbeda.

Mereka tumbuh dalam dunia yang dibentuk oleh komputer, smartphone, dan internet. Bagi mereka, AI bukanlah ancaman yang datang dari luar — melainkan langkah logis berikutnya dalam rangkaian teknologi yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka menavigasi ekosistem media yang lebih terfragmentasi dan lebih beragam dibanding generasi mana pun sebelumnya.

Tantangan sesungguhnya bukan terletak pada apakah anak muda peduli pada informasi. Mereka peduli. Tantangannya adalah apakah dunia informasi — media, jurnalisme, institusi yang menghasilkan pengetahuan — mampu berbicara dalam bahasa yang mereka mengerti, di tempat-tempat yang mereka huni, dengan format yang mereka percayai.

Dan itu bukan pertanyaan tentang anak muda. Itu pertanyaan tentang kita semua.


Referensi

Craig T. Robertson, Amy Ross Arguedas, Mitali Mukherjee, and Richard Fletcher. Understanding young news audiences at a time of rapid change. (24 Maret 2026). Reuters Institute Report. Diakses dari https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/understanding-young-news-audiences-time-rapid-change

Catatan:

Artikel ini disusun berdasarkan laporan “Understanding Young News Audiences at a Time of Rapid Change” yang diterbitkan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford, Maret 2026. Laporan ini ditulis oleh Craig T. Robertson, Amy Ross Arguedas, Mitali Mukherjee, dan Richard Fletcher, berdasarkan analisis sekunder dari Digital News Report 2013–2025 yang mencakup 48 negara.