Pengantar: Sebuah Kegelisahan Seorang UI Designer 

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang membahas sesuatu yang sebenarnya sudah lama mengganjal di benak saya. Sebagai UI designer yang tumbuh dengan prinsip less is more, saya terbiasa melihat bahkan mempromosikan estetika minimalis: ruang putih yang lega, tipografi bersih, hierarki yang tenang, dan konten yang disederhanakan. 

Namun ada satu fenomena yang terasa kontras bagi saya pribadi: desain website Jepang. 

UI Marketplace Jepang, Rakuten 2026

Banyak situs web di Jepang tampak padat, penuh warna, sarat teks, dan nyaris tanpa “napas” visual. Dalam kacamata desain Barat kontemporer, tampilannya sering dianggap “ramai” atau bahkan “kuno”. Anehnya, gaya ini relatif konsisten dan tidak banyak berubah meski tren global bergerak ke arah minimalisme ekstrem. 

Pertanyaannya: mengapa?

Apakah ini sekadar ketertinggalan tren, atau justru ada logika desain yang berbeda di baliknya? 

 

Yang Ditemukan oleh Studi Visual

Artikel di sabrinas.space mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang tidak hanya berdasarkan opini belaka. Melalui analisis kuantitatif dan kualitatif, termasuk pengumpulan ribuan tangkapan layar situs populer dari berbagai negara ditemukan bahwa desain web Jepang memang memiliki pola visual yang berbeda secara konsisten. 

Beberapa ciri yang menonjol seperti kepadatan informasi tinggi dalam satu layar, penggunaan warna yang lebih variatif dan kontras , banyak elemen navigasi dan teks ditampilkan sekaligus dan minim ruang kosong dibandingkan tren Barat. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya tersebut bukan kebetulan atau anomali individual, melainkan pola desain yang sistematis.

 

Faktor 1: Sistem Penulisan CJK dan Tantangan Tipografi 

Salah satu faktor paling fundamental adalah sistem penulisan Jepang yang menggunakan kombinasi kanji, hiragana, dan katakana yang merupakan bagian dari rumpun CJK (Chinese–Japanese–Korean). 

Typesetting principles of Japanese text

 

Karakter CJK secara visual lebih kompleks dan padat dibanding alfabet Latin. Hal ini membawa beberapa konsekuensi desain yang mempengaruhi ukuran karakter cenderung lebih besar agar tetap terbaca, pengaturan jarak (line height, tracking) memerlukan pertimbangan khusus serta pilihan font yang optimal lebih terbatas dibanding alfabet Latin. 

Dalam praktiknya, kepadatan visual karakter CJK membuat ruang kosong terlihat berbeda secara optik. Tata letak yang terasa “lega” dalam alfabet Latin bisa tampak terlalu kosong atau tidak seimbang dalam konteks CJK. Akibatnya, desainer sering menyesuaikan komposisi dengan menambahkan elemen informasi lain untuk mencapai keseimbangan visual. 

Penelitian tentang typesetting CJK modern juga menunjukkan bahwa struktur karakter sangat memengaruhi cara informasi diproses dan dipahami oleh pembaca. 

 

Faktor 2: Evolusi Mobile yang Unik di Jepang 

Sejarah perkembangan internet di Jepang juga memainkan peran penting. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Jepang mengalami ledakan penggunaan internet melalui ponsel dengan sistem seperti i-mode yang dikembangkan oleh NTT DoCoMo. 

Japan DOCOMO Imotion via ChatGPT
Japan DoCoMo Imotion via ChatGPT

Berbeda dengan banyak negara Barat yang lebih dahulu mengembangkan desktop web sebelum mobile, Jepang lebih cepat membangun budaya internet berbasis ponsel. Hal ini mendorong desain antarmuka yang mengutamakan fungsional dan informatif dalam ruang terbatas, menampilkan banyak pilihan dalam satu tampilan dan mengutamakan akses cepat ke berbagai fitur. Kebiasaan ini membentuk ekspektasi pengguna terhadap “kaya informasi” sebagai nilai tambah, bukan gangguan. Jejak historis ini masih terasa dalam estetika web Jepang saat ini. 

Selain itu, Jepang juga dikenal sebagai negara yang “lambat” dalam mengadopsi teknologi. Data menunjukkan bahwa separuh bisnis di Jepang masih menggunakan Internet Explorer padahal Microsoft telah mengumumkan untuk mengakhiri dukungan untuk program tersebut. Bapak Internet di Jepang, Murai Jun, mencatat penolakan aktif terhadap teknologi internet di negara tersebut yang menyebabkan  “lag” di belakang Amerika Serikat.

 

Faktor 3: Preferensi Budaya dan Ekspektasi Informasi 

Penelitian lintas budaya dalam bidang usability menunjukkan bahwa pengguna dari latar budaya berbeda memiliki preferensi terhadap struktur informasi yang berbeda pula. 

Dalam konteks Jepang, terdapat kecenderungan untuk menghargai informasi yang komprehensif sebelum mengambil keputusan, mengurangi ambiguitas melalui detail yang lengkap dan yang tidak kalah penting memiliki toleransi lebih tinggi terhadap kepadatan informasi. Dengan kata lain, desain yang terlihat “ramai” mungkin justru memberikan rasa kejelasan dan kepercayaan bagi pengguna lokal. 

Dari sudut pandang ini, banyaknya informasi dalam satu layar bukanlah kekurangan, melainkan strategi untuk memenuhi ekspektasi pengguna. 

 

Refleksi: sebagai UI Designer di Indonesia 

Sebagai desainer yang bekerja di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa desain tidak pernah berdiri di ruang hampa budaya. Kita sering mengadopsi prinsip minimalisme global sebagai standar universal. Namun realitasnya, efektivitas desain selalu bergantung pada bahasa, sejarah teknologi, pola konsumsi digital dan preferensi budaya pengguna 

Indonesia sendiri memiliki karakteristik yang unik. Di beberapa sektor seperti e-commerce atau travel, pengguna lokal juga cenderung menginginkan informasi detail dalam satu layar sebelum mengambil keputusan. Artinya, pendekatan seminimalis mungkin tidak selalu menjadi jawaban terbaik. 

Pelajaran terbesar dari web Jepang bukanlah meniru estetikanya, melainkan memahami bahwa konteks lokal harus menjadi fondasi keputusan desain.

 

Penutup: Kuno atau Brilian? 

Melihat dari kacamata global minimalisme, desain web Jepang mungkin tampak usang. Namun ketika ditinjau melalui data, sejarah, tipografi, dan budaya, gaya tersebut menunjukkan konsistensi yang rasional. Website Jepang bukan ketinggalan tren, tapi ia adalah hasil evolusi yang berbeda. 

Sebagai UI designer, mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi:
“Kenapa mereka tidak mengikuti tren?” 

Melainkan:
“Apa yang bisa kita pelajari dari keberanian mereka mempertahankan konteksnya sendiri?” 

Karena pada akhirnya, desain yang baik itu bukan yang paling bersih atau paling modern, melainkan yang paling relevan bagi penggunanya. 

 

Bonus

Setelah mecari beberapa daftar situs paling populer di Jepang, saya menemukan salah satu website Jepang yang tetap mempertahankan tipografi tradisional namun terasa lebih bersih dan minimalis. Ini bukti bahwa desain Jepang sebenarnya tidak stagnan atau anti-tren, melainkan selektif dalam beradaptasi. 

Ameba Blog (Ameblo)

Artinya, evolusi desain tetap terjadi, namun mereka tidak meninggalkan identitas visual dan sistem bahasanya. Cukup menyederhanakan tata letak, memperjelas hirarki, dan mengatur ulang kepadatan informasi tanpa kehilangan karakter lokalnya.

 

Referensi 

  • Sabrina. (2024). The Peculiar Case of Japanese Web Design. Diakses dari: https://sabrinas.space/ 
  • Ishii, K. (2004). Internet use via mobile phone in Japan. Telecommunications Policy, 28(1), 43–58. 
  • Chen, W., et al. (2024). The influence of Chinese typography on information dissemination in graphic design. Journal of Visual Communication Research. 
  • Marcus, A., & Gould, E. W. (2000). Crosscurrents: Cultural dimensions and global web user-interface design. Interactions, 7(4), 32–46. 
  • Cyr, D. (2013). Website design, trust and culture: An eight country investigation. Electronic Commerce Research and Applications, 12(6), 373–385. 
  • Reinecke, K., & Bernstein, A. (2011). Improving performance, perceived usability, and aesthetics with culturally adaptive user interfaces. ACM Transactions on Computer-Human Interaction (TOCHI), 18(2).