Ketika AI mampu menghasilkan visual yang semakin kompleks dan matang, pertanyaan tentang kreativitas pun ikut bergeser. Tidak lagi cukup bertanya seindah apa hasil akhirnya, tetapi bagaimana proses itu terjadi, siapa yang mengarahkannya, dan sejauh mana manusia terlibat di dalamnya. Di era desain berbasis AI, makna kreativitas tidak bisa lagi dinilai hanya dari permukaan visual.
Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa kolaborasi manusia-AI tetap dinilai secara adil dan relevan dengan praktik desain yang sesungguhnya. Ketika manusia terlibat aktif sebagai pengarah, bukan sekadar penyunting hasil akhir, kualitas kreativitas cenderung meningkat. Karena itulah, evaluasi tidak cukup berhenti pada output final, proses ideasi, penyempurnaan, dan kurasi perlu ikut menjadi bagian dari cara kita menilai sebuah karya.
Berbagai kerangka penilaian kini mulai dikembangkan untuk mengakomodasi karakter generatif. Dalam beberapa dokumen konseptual, disebutkan bahwa pengukuran kreativitas sebaiknya mencakup novelty, usefulness, brand or context fit, iteration breadth, serta time-to-concept, parameter yang merekam lebih banyak dimensi daripada sekadar estetika akhir . Pendekatan ini membantu mencegah penilaian yang bias terhadap keluaran visual AI yang tampak impresif tetapi kurang relevan secara konseptual.
Salah satu aspek penting dalam penilaian adalah keberagaman eksplorasi. Studi Doshi et al. (2024) menemukan bahwa AI dapat meningkatkan kreativitas individu, tetapi juga berpotensi menyebabkan penurunan variasi ide ketika digunakan tanpa batasan. Artinya, rubrik penilaian perlu memberi nilai lebih pada eksplorasi yang luas dan beragam, bukan hanya pada “hasil terbaik” dari satu jalur eksplorasi.
Selain itu, traceability atau keterlacakan proses mulai dianggap sebagai bagian penting dalam evaluasi karya. Kemampuan menunjukkan bagaimana ide berkembang dari tahap awal hingga keputusan akhir memberi gambaran yang lebih komprehensif tentang kualitas kreativitas yang dihasilkan. Seperti dikemukakan dalam salah satu prinsip co-design, “traceability correlates with quality and adjustable agency”, menegaskan bahwa proses yang terdokumentasi dengan baik memungkinkan evaluasi yang lebih objektif dan akuntabel .
Penilaian kreativitas yang adil juga menuntut kesadaran etis. Integritas data, sumber referensi, serta kejelasan peran AI dalam proses pembuatan perlu diperhatikan. Dalam lingkungan profesional, dokumentasi penggunaan AI menjadi bagian dari pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, terutama dalam konteks hak cipta, representasi visual, dan konsistensi brand.
Dengan pendekatan penilaian yang lebih menyeluruh, organisasi dan institusi pendidikan dapat memastikan bahwa kreativitas tidak hanya diukur dari apa yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana ide-ide itu dikembangkan. Pendekatan seperti ini lebih sejalan dengan nilai-nilai desain: reflektif, kontekstual, bertanggung jawab, dan berorientasi pada makna.
Daftar Referensi
- Doshi, A. R. et al. (2024). Generative AI Enhances Individual Creativity but Reduces…. Science Advances.
- Kartika, R. (2025). AI as a Co-Designer in Visual Communication Design. BINUS University.
- Kumar, A. et al. (2025). Tracking the Evolution of Design Ideas in Human-AI Co-Ideation. ACM.
- McGuire, J. et al. (2024). Co-creation and Self-Efficacy in Creative Collaboration with Artificial Intelligence. Scientific Reports.
- Rezwana, J. et al. (2025). Human-Centered AI Communication in Co-Creativity (FAICO). ACM Digital Library.
Catatan:
Visual dan naskah dikembangkan dengan bantuan AI berbasis whitepaper penulis.