{"id":10400,"date":"2026-03-06T14:37:06","date_gmt":"2026-03-06T07:37:06","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=10400"},"modified":"2026-03-06T14:37:06","modified_gmt":"2026-03-06T07:37:06","slug":"lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/","title":{"rendered":"Lebih dari Sekadar Fandom: Mengapa Fenomena SEAblings vs Knetz Jadi Perbincangan Global?"},"content":{"rendered":"<p>Fenomena SEAblings vs Knetz berawal dari kritik terhadap dugaan pelanggaran aturan dalam konser Day6 di Kuala Lumpur pada awal 2026. Istilah Knetz merujuk pada warganet Korea Selatan, sedangkan SEAblings digunakan warganet Asia Tenggara sebagai simbol solidaritas. Perdebatan yang awalnya membahas etika konser tersebut kemudian meluas di media sosial dan berkembang menjadi isu identitas.<\/p>\n<p>Beberapa media, seperti <em>Channel News Asia<\/em> dan <em>Tempo<\/em>, mencatat bahwa perdebatan tersebut tidak lagi berfokus pada tata tertib konser, melainkan meluas menjadi isu identitas kawasan. Narasi yang berkembang di media sosial menunjukkan bagaimana sentimen kolektif terbentuk secara cepat melalui algoritma platform digital. Dalam hitungan jam, percakapan yang awalnya terbatas pada komunitas penggemar berubah menjadi argumen global.<\/p>\n<p><strong> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10396\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM.png\" alt=\"\" width=\"1536\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM.png 1536w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-640x427.png 640w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-1200x800.png 1200w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-480x320.png 480w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-768x512.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-1024x683.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><\/strong><\/p>\n<h1><strong>Asal Usul Solidaritas \u201cSEAblings\u201d<\/strong><\/h1>\n<p>Istilah SEAblings tidak muncul sebagai identitas formal, melainkan sebagai respons spontan terhadap komentar yang dianggap merendahkan. Warganet Asia Tenggara menggunakan istilah tersebut untuk menegaskan solidaritas regional. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas digital dapat terbentuk melalui pengalaman bersama di ruang digital.<\/p>\n<p>Solidaritas tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang konsumsi budaya populer Korea di Asia Tenggara. Kawasan ini merupakan salah satu pasar terbesar bagi industri K-pop dan drama Korea. Ketika muncul komentar yang dinilai menyinggung, respons yang timbul tidak hanya bersifat individual, tetapi kolektif. Dalam konteks ini, fandom menjadi sarana bagi individu untuk mengekspresikan dan menunjukkan identitas regional mereka.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1><strong>Analisis Teoretis: Identitas Sosial dan Polarisasi Digital<\/strong><\/h1>\n<p>Fenomena ini dapat dipahami melalui Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Tajfel dan Turner (1979). Teori tersebut menjelaskan bahwa individu cenderung mengelompokkan diri dalam kategori sosial tertentu (ingroup) dan membedakannya dari kelompok lain (outgroup). Dalam konflik SEAblings vs Knetz, kategorisasi tersebut terlihat jelas melalui penggunaan label kolektif. Ketika satu kelompok merasa diserang, respons defensif muncul untuk melindungi harga diri kelompok.<\/p>\n<p>Selain itu, karakteristik komunikasi digital turut mempercepat eskalasi konflik. Konsep <em>online disinhibition effect<\/em> yang diperkenalkan oleh Suler (2004) menjelaskan bahwa anonimitas dan jarak fisik dalam komunikasi daring dapat mendorong individu mengekspresikan opini secara lebih agresif dibandingkan komunikasi tatap muka. Dalam konteks ini, komentar bernada emosional lebih mudah muncul dan menyebar luas.<\/p>\n<p>Algoritma media sosial juga berperan penting. Penelitian Sunstein (2017) mengenai <em>echo chambers<\/em> menunjukkan bahwa platform digital cenderung memperkuat polarisasi karena pengguna lebih sering terpapar pada pandangan yang sejalan dengan kelompoknya. Akibatnya, diskusi menjadi semakin terfragmentasi dan sulit menemukan titik temu.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h1>\n<p>Perkembangan konflik ini menunjukkan gejala nasionalisme digital, yakni kecenderungan membela identitas budaya melalui mmedia digital. Pada awalnya, isu hanya berkaitan dengan etika penggemar konser. Namun, dinamika media sosial menggeser fokus menjadi persoalan harga diri kawasan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya populer tidak lagi sekadar hiburan, melainkan ruang negosiasi identitas dan relasi kuasa simbolik. Dalam perspektif <em>intercultural communication<\/em>, konflik ini juga menegaskan pentingnya sensitivitas terhadap perbedaan konteks sosial dan historis.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\"><strong>Referensi<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. <em>CyberPsychology &amp; Behavior, 7<\/em>(3), 321\u2013326. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1089\/1094931041291295\">https:\/\/doi.org\/10.1089\/1094931041291295<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Sunstein, C. R. (2017). <em>#Republic: Divided democracy in the age of social media<\/em>. Princeton University Press.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Tajfel, H., &amp; Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. Dalam W. G. Austin &amp; S. Worchel (Eds.), <em>The social psychology of intergroup relations<\/em> (hlm. 33\u201347). Brooks\/Cole.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Channel News Asia. (2026). Seablings\u2013Knetz online dispute following Day6 concert controversy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Tempo. (2026). What triggered the viral SEAblings vs Knetz online battle?<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenomena SEAblings vs Knetz berawal dari kritik terhadap dugaan pelanggaran aturan dalam konser Day6 di Kuala Lumpur pada awal 2026. Istilah Knetz merujuk pada warganet Korea Selatan, sedangkan SEAblings digunakan warganet Asia Tenggara sebagai simbol solidaritas. Perdebatan yang awalnya membahas etika konser tersebut kemudian meluas di media sosial dan berkembang menjadi isu identitas. Beberapa media, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":10396,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[349],"tags":[],"class_list":["post-10400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-creative-communication"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.4.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Lebih dari Sekadar Fandom: Mengapa Fenomena SEAblings vs Knetz Jadi Perbincangan Global? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lebih dari Sekadar Fandom: Mengapa Fenomena SEAblings vs Knetz Jadi Perbincangan Global? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fenomena SEAblings vs Knetz berawal dari kritik terhadap dugaan pelanggaran aturan dalam konser Day6 di Kuala Lumpur pada awal 2026. Istilah Knetz merujuk pada warganet Korea Selatan, sedangkan SEAblings digunakan warganet Asia Tenggara sebagai simbol solidaritas. Perdebatan yang awalnya membahas etika konser tersebut kemudian meluas di media sosial dan berkembang menjadi isu identitas. Beberapa media, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-06T07:37:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM-1200x800.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#website\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/\",\"name\":\"BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bekasi dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bekasi.\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/ChatGPT-Image-Mar-4-2026-09_23_13-AM.png\",\"width\":1536,\"height\":1024},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/\",\"name\":\"Lebih dari Sekadar Fandom: Mengapa Fenomena SEAblings vs Knetz Jadi Perbincangan Global? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-03-06T07:37:06+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-06T07:37:06+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#\/schema\/person\/0093f9a535f53c255093cb9273f60a88\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/lebih-dari-sekadar-fandom-mengapa-fenomena-seablings-vs-knetz-jadi-perbincangan-global\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#\/schema\/person\/0093f9a535f53c255093cb9273f60a88\",\"name\":\"editorarticle\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cd7fa27148001ad24ed966c031d91645eee771a6f7fe3b565b46a75ad24f4df6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"editorarticle\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10400"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10401,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10400\/revisions\/10401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}