{"id":10394,"date":"2026-03-06T14:31:59","date_gmt":"2026-03-06T07:31:59","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=10394"},"modified":"2026-03-06T14:31:59","modified_gmt":"2026-03-06T07:31:59","slug":"ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/","title":{"rendered":"UGC yang Viral dan Memicu Kemarahan Netizen: Mengapa Reaksi Publik Bisa Begitu Keras?"},"content":{"rendered":"<p>User Generated Content atau UGC secara sederhana adalah konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna melalui media sosial. Pada awalnya, UGC dipahami sebagai bentuk partisipasi publik dan kreativitas digital. Namun, dalam beberapa waktu ini, sejumlah konten justru memicu kemarahan netizen Indonesia karena dianggap tidak etis, manipulatif, atau sengaja memancing emosi publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10397\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1280\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-scaled.jpg 1920w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-640x427.jpg 640w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-1200x800.jpg 1200w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-480x320.jpg 480w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-768x512.jpg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-1024x683.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><span style=\"font-size: 10pt\">Source: Freepik<\/span><\/em><\/p>\n<p>Fenomena ini sering terjadi ketika sebuah brand atau kreator membuat konten yang menyinggung isu sensitif, memanfaatkan keresahan sosial, atau menggunakan strategi pemasaran yang terlalu eksplisit. Misalnya, beberapa waktu lalu sebuah brand fashion lokal menjadi sorotan karena membuat konten yang menyinggung standar kecantikan dengan pendekatan yang dinilai merendahkan kelompok tertentu. Alih alih dianggap kreatif, konten tersebut justru menuai kritik karena dianggap tidak sensitif terhadap realitas sosial.<\/p>\n<p>Contoh lain yang kerap muncul adalah ketika brand membuat konten yang seolah-olah personal dan relatable, tetapi kemudian publik menyadari bahwa konten tersebut hanyalah strategi pemasaran terselubung. Ketika netizen merasa \u201cditipu\u201d atau dimanipulasi secara emosional, respons yang muncul sering kali berupa komentar sinis seperti \u201cujung ujungnya marketing.\u201d Reaksi ini menunjukkan adanya kecurigaan publik terhadap motif komersial di balik konten yang terlihat autentik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1><strong>Mengapa UGC Bisa Memicu Kemarahan?<\/strong><\/h1>\n<ol>\n<li><strong>Pelanggaran Ekspektasi Audiens<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam teori Expectancy Violations, Burgoon menjelaskan bahwa individu memiliki ekspektasi tertentu terhadap perilaku komunikasi. Ketika ekspektasi tersebut dilanggar, respons emosional yang muncul cenderung negatif. Dalam konteks UGC, audiens mengharapkan kejujuran dan sensitivitas. Ketika konten dianggap manipulatif atau tidak empatik, pelanggaran ekspektasi tersebut memicu kemarahan kolektif (Burgoon, 1993).<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Persepsi Manipulasi dan Hilangnya Keaslian<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>UGC sering dipandang autentik karena berasal dari pengguna biasa. Namun, ketika konten ternyata merupakan bagian dari strategi pemasaran tersembunyi, tingkat kepercayaan publik dapat menurun drastis. Penelitian Lou dan Yuan (2019) menunjukkan bahwa persepsi keaslian sangat memengaruhi kepercayaan dan sikap audiens terhadap konten digital. Ketika keaslian dipertanyakan, respons negatif lebih mudah muncul.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Dinamika Cancel Culture dan Digital Shaming<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Media sosial memungkinkan reaksi publik menyebar secara cepat dan masif. Konsep cancel culture menjelaskan bagaimana individu atau brand dapat \u201cdibatalkan\u201d secara kolektif akibat satu konten yang dianggap bermasalah. Menurut Ng (2020), cancel culture di ruang digital sering kali menjadi bentuk kontrol sosial yang lahir dari kemarahan kolektif dan solidaritas daring.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong>Algoritma dan Polarisasi Emosi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Algoritma media sosial cenderung mendorong konten dengan tingkat interaksi tinggi. Konten yang memicu emosi kuat, termasuk kemarahan, sering kali mendapatkan engagement lebih besar. Hal ini mempercepat penyebaran kontroversi dan memperluas dampaknya. Fenomena ini sejalan dengan temuan bahwa emosi moral seperti kemarahan memiliki kecenderungan viral yang lebih tinggi dibandingkan emosi netral (Brady et al., 2017).<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10398\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Picture1.jpg\" alt=\"\" width=\"531\" height=\"354\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Picture1.jpg 531w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Picture1-480x320.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 531px) 100vw, 531px\" \/><span style=\"font-size: 10pt\">Source: <\/span><\/em><span style=\"font-size: 10pt\"><a href=\"https:\/\/fair-indonesia.com\/ugc-marketing-vs-influencer-marketing\/\"><em>https:\/\/fair-indonesia.com\/ugc-marketing-vs-influencer-marketing\/<\/em><\/a><\/span><\/p>\n<h1><strong>Dampak terhadap Ruang Publik Digital<\/strong><\/h1>\n<p>Fenomena kemarahan terhadap UGC menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang publik digital tempat opini individu dapat berubah menjadi tekanan kolektif. Konsep public sphere dari Habermas menekankan bahwa ruang publik idealnya menjadi tempat diskusi rasional. Namun dalam praktiknya, diskursus digital sering kali dipenuhi emosi dan polarisasi (Habermas, 1989).<\/p>\n<p>Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan meningkatnya kesadaran publik terhadap etika komunikasi digital. Netizen tidak lagi menjadi audiens pasif. Mereka aktif mengkritik, mengevaluasi, dan bahkan memberi sanksi sosial terhadap konten yang dianggap melanggar norma.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h1>\n<p>UGC memiliki peran penting dalam membentuk dinamika komunikasi digital. Namun, ketika konten dinilai manipulatif, tidak sensitif, atau terlalu komersial, reaksi netizen dapat berubah menjadi kemarahan kolektif. Fenomena ini memperlihatkan bahwa di era digital, keaslian dan etika komunikasi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik. Tanpa keduanya, konten yang dimaksudkan untuk menarik perhatian justru dapat berbalik menjadi krisis reputasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\"><strong>Referensi<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Brady, W. J., Wills, J. A., Jost, J. T., Tucker, J. A., &amp; Van Bavel, J. J. (2017). Emotion shapes the diffusion of moralized content in social networks. <em>Proceedings of the National Academy of Sciences, 114<\/em>(28), 7313\u20137318. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1073\/pnas.1618923114\">https:\/\/doi.org\/10.1073\/pnas.1618923114<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Burgoon, J. K. (1993). Interpersonal expectations, expectancy violations, and emotional communication. <em>Journal of Language and Social Psychology, 12<\/em>(1\u20132), 30\u201348.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Habermas, J. (1989). <em>The structural transformation of the public sphere<\/em>. MIT Press.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Lou, C., &amp; Yuan, S. (2019). Influencer marketing: How message value and credibility affect consumer trust and purchase intention. <em>Journal of Interactive Advertising, 19<\/em>(1), 58\u201373.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\">Ng, E. (2020). No grand pronouncements here: Reflections on cancel culture and digital media participation. <em>Television &amp; New Media, 21<\/em>(6), 621\u2013627.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>User Generated Content atau UGC secara sederhana adalah konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna melalui media sosial. Pada awalnya, UGC dipahami sebagai bentuk partisipasi publik dan kreativitas digital. Namun, dalam beberapa waktu ini, sejumlah konten justru memicu kemarahan netizen Indonesia karena dianggap tidak etis, manipulatif, atau sengaja memancing emosi publik. Source: Freepik Fenomena ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":10397,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[349],"tags":[],"class_list":["post-10394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-creative-communication"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.4.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>UGC yang Viral dan Memicu Kemarahan Netizen: Mengapa Reaksi Publik Bisa Begitu Keras? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"UGC yang Viral dan Memicu Kemarahan Netizen: Mengapa Reaksi Publik Bisa Begitu Keras? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"User Generated Content atau UGC secara sederhana adalah konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna melalui media sosial. Pada awalnya, UGC dipahami sebagai bentuk partisipasi publik dan kreativitas digital. Namun, dalam beberapa waktu ini, sejumlah konten justru memicu kemarahan netizen Indonesia karena dianggap tidak etis, manipulatif, atau sengaja memancing emosi publik. Source: Freepik Fenomena ini [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-06T07:31:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#website\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/\",\"name\":\"BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bekasi dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bekasi.\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/people-connected-social-media-scaled.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1280},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/\",\"name\":\"UGC yang Viral dan Memicu Kemarahan Netizen: Mengapa Reaksi Publik Bisa Begitu Keras? - BINUS @Bekasi - Kampus Beken Asyik | Business Service and Technology\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-03-06T07:31:59+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-06T07:31:59+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#\/schema\/person\/0093f9a535f53c255093cb9273f60a88\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/2026\/03\/ugc-yang-viral-dan-memicu-kemarahan-netizen-mengapa-reaksi-publik-bisa-begitu-keras\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#\/schema\/person\/0093f9a535f53c255093cb9273f60a88\",\"name\":\"editorarticle\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cd7fa27148001ad24ed966c031d91645eee771a6f7fe3b565b46a75ad24f4df6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"editorarticle\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10394"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10394\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10399,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10394\/revisions\/10399"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10397"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}