{"id":19779,"date":"2026-10-24T14:39:38","date_gmt":"2026-10-24T07:39:38","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/?p=19779"},"modified":"2026-10-24T14:40:22","modified_gmt":"2026-10-24T07:40:22","slug":"cash-flow-vs-profit-mengapa-perusahaan-yang-untung-bisa-kehabisan-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/2026\/10\/24\/cash-flow-vs-profit-mengapa-perusahaan-yang-untung-bisa-kehabisan-uang\/","title":{"rendered":"Cash Flow vs. Profit: Mengapa Perusahaan yang Untung Bisa Kehabisan Uang?"},"content":{"rendered":"<p>Dalam menjalankan bisnis, memperoleh laba merupakan salah satu tujuan utama perusahaan. Namun, perusahaan yang mencatat laba belum tentu memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar gaji karyawan, melunasi utang kepada pemasok, atau membiayai kegiatan operasional. Kondisi ini dapat terjadi karena laba dan arus kas mengukur dua hal yang berbeda.<\/p>\n<p><em>Profit<\/em> menunjukkan hasil keuangan perusahaan berdasarkan pendapatan dan beban selama periode tertentu, sedangkan <em>cash flow<\/em> menunjukkan pergerakan uang tunai yang masuk dan keluar dari perusahaan. Association for Financial Professionals (AFP, 2024) menjelaskan bahwa kedua indikator tersebut memberikan informasi berbeda mengenai kinerja dan kondisi keuangan bisnis.<\/p>\n<p>Memahami perbedaan keduanya penting agar perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan di atas laporan keuangan, tetapi juga memastikan ketersediaan kas untuk memenuhi kewajiban sehari-hari.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Apa Itu Profit?<\/strong><\/p>\n<p><em>Profit<\/em> atau laba adalah selisih antara pendapatan dan beban yang diakui perusahaan selama periode tertentu. Laba menunjukkan apakah kegiatan bisnis menghasilkan keuntungan setelah biaya yang relevan diperhitungkan.<\/p>\n<p>Secara sederhana, laba dapat dihitung dengan rumus:<\/p>\n<p>Laba = Pendapatan \u2212 Beban<\/p>\n<p>Dalam akuntansi berbasis akrual, pendapatan diakui ketika diperoleh dan beban diakui ketika terjadi sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku, bukan semata-mata ketika uang diterima atau dibayarkan. Oleh karena itu, laba yang tercatat dalam laporan laba rugi tidak selalu sama dengan uang tunai yang tersedia di rekening perusahaan (IFRS Foundation, n.d.).<\/p>\n<p>Sebagai contoh, perusahaan menjual barang senilai Rp100 juta kepada pelanggan secara kredit. Jika pendapatan tersebut telah memenuhi kriteria pengakuan, perusahaan dapat mencatat penjualan meskipun pelanggan baru akan membayar 30 hari kemudian. Transaksi tersebut dapat meningkatkan laba, tetapi belum menambah kas perusahaan saat penjualan dicatat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Apa Itu Cash Flow?<\/strong><\/p>\n<p><em>Cash flow<\/em> atau arus kas adalah pergerakan kas dan setara kas yang masuk maupun keluar dari perusahaan selama periode tertentu. Arus kas membantu perusahaan mengetahui ketersediaan dana untuk membayar kewajiban dan membiayai aktivitas bisnis.<\/p>\n<p>Menurut IFRS Foundation melalui IAS 7, laporan arus kas mengelompokkan arus kas menjadi tiga aktivitas utama:<\/p>\n<ul>\n<li>Aktivitas operasi : arus kas yang berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan, seperti penerimaan dari pelanggan dan pembayaran kepada pemasok atau karyawan.<\/li>\n<li>Aktivitas investasi : arus kas yang berkaitan dengan pembelian atau penjualan aset jangka panjang dan investasi tertentu.<\/li>\n<li>Aktivitas pendanaan : arus kas yang berkaitan dengan pinjaman, pembayaran pokok utang, penerbitan saham, dan transaksi pendanaan lainnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ketiga kategori tersebut membantu perusahaan memahami dari mana kas berasal dan bagaimana kas digunakan. Arus kas yang positif juga perlu dianalisis berdasarkan sumbernya. Misalnya, kas dapat meningkat karena perusahaan menerima pinjaman, tetapi penerimaan tersebut tidak berarti perusahaan memperoleh laba dari kegiatan operasionalnya (IFRS Foundation, n.d.).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Mengapa Perusahaan yang Untung Bisa Kehabisan Uang?<\/strong><\/p>\n<p>Ada beberapa alasan mengapa perusahaan dapat memperoleh laba tetapi tetap mengalami kesulitan kas.<\/p>\n<p>1. Pelanggan Belum Membayar Tagihan<\/p>\n<p>Salah satu penyebab utama adalah penjualan secara kredit. Perusahaan dapat mengakui pendapatan ketika transaksi memenuhi kriteria akuntansi, tetapi penerimaan kas baru terjadi setelah pelanggan membayar tagihan.<\/p>\n<p>Misalnya, perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp500 juta dalam satu bulan, tetapi hanya menerima pembayaran Rp300 juta. Sisa Rp200 juta masih menjadi piutang usaha. Jika perusahaan harus membayar gaji dan pemasok sebelum pelanggan melunasi piutangnya, perusahaan dapat mengalami kekurangan kas meskipun penjualannya menghasilkan laba.<\/p>\n<p>Karena itu, perusahaan perlu memantau umur piutang, menetapkan kebijakan kredit yang sesuai, dan melakukan penagihan secara teratur.<\/p>\n<p>2. Terlalu Banyak Uang Tertahan dalam Persediaan<\/p>\n<p>Perusahaan dagang dan manufaktur sering perlu membeli persediaan sebelum barang terjual. Pembelian tersebut mengeluarkan kas, sedangkan pendapatan dan laba dari penjualan baru dapat diakui ketika transaksi memenuhi ketentuan akuntansi.<\/p>\n<p>Jika perusahaan menyimpan terlalu banyak barang atau persediaan bergerak lambat, sebagian besar dana dapat tertahan dalam persediaan. Akibatnya, kas yang tersedia untuk membayar biaya operasional menjadi terbatas.<\/p>\n<p>Pengelolaan persediaan yang baik membantu perusahaan menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan kebutuhan kas.<\/p>\n<p>3. Pembayaran Beban Lebih Cepat daripada Penerimaan Kas<\/p>\n<p>Perusahaan mungkin harus membayar sewa, gaji, bahan baku, dan biaya operasional lainnya sebelum menerima pembayaran dari pelanggan. Ketidaksesuaian waktu antara penerimaan dan pengeluaran tersebut dapat menimbulkan tekanan arus kas.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, perusahaan harus membayar pemasok dalam 14 hari, sedangkan pelanggan memiliki jangka waktu pembayaran 45 hari. Walaupun transaksi penjualan menghasilkan laba, perusahaan harus menyediakan dana untuk menutup selisih waktu tersebut.<\/p>\n<p>Kondisi ini menunjukkan pentingnya menyusun jadwal penerimaan dan pembayaran agar perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan kasnya.<\/p>\n<p>4. Membeli Aset dalam Jumlah Besar<\/p>\n<p>Perusahaan yang sedang berkembang mungkin membeli mesin, kendaraan, atau peralatan untuk meningkatkan kapasitas bisnis. Pembelian aset tersebut dapat menyebabkan pengeluaran kas yang besar dalam satu periode.<\/p>\n<p>Namun, pembelian aset tetap yang memenuhi kriteria pengakuan tidak selalu langsung diakui sebagai beban seluruhnya pada saat pembelian. Biaya aset umumnya dialokasikan selama masa manfaatnya melalui penyusutan, sesuai standar akuntansi yang berlaku.<\/p>\n<p>Akibatnya, perusahaan dapat mencatat laba positif sekaligus mengalami arus kas negatif karena mengeluarkan dana untuk investasi. Hal ini tidak selalu menunjukkan masalah, tetapi investasi tersebut perlu direncanakan agar perusahaan tetap mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya.<\/p>\n<p>5. Membayar Cicilan Pokok Utang<\/p>\n<p>Pembayaran pokok pinjaman mengurangi kas perusahaan, tetapi tidak dicatat sebagai beban dalam laporan laba rugi. Sebaliknya, beban bunga pinjaman pada umumnya memengaruhi laba sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran pinjaman dalam jumlah besar dapat mengalami tekanan kas meskipun tetap mencatat laba. Perencanaan pembayaran utang dan pemantauan jadwal jatuh tempo menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Contoh Perbedaan Profit dan Cash Flow dalam Bisnis<\/strong><\/p>\n<p>Sebuah perusahaan dagang mencatat pendapatan sebesar Rp200 juta dalam satu bulan. Beban yang diakui pada periode tersebut berjumlah Rp160 juta, sehingga perusahaan memperoleh laba sebesar Rp40 juta.<\/p>\n<p>Namun, tidak seluruh penjualan telah dibayar pelanggan. Perusahaan hanya menerima kas sebesar Rp120 juta dari penjualan tersebut dan membayar pemasok serta biaya operasional sebesar Rp140 juta.<\/p>\n<p>Dalam ilustrasi sederhana ini, arus kas dari penerimaan dan pembayaran tersebut adalah negatif Rp20 juta, meskipun perusahaan mencatat laba Rp40 juta. Perbedaan tersebut terjadi karena sebagian pendapatan masih berupa piutang dan waktu pembayaran tidak sama dengan waktu pengakuan pendapatan serta beban.<\/p>\n<p>Perhitungan tersebut hanya menggambarkan arus kas dari transaksi yang disebutkan, bukan keseluruhan perubahan kas perusahaan. Arus kas total juga dapat dipengaruhi oleh transaksi investasi, pendanaan, dan saldo kas awal.<\/p>\n<p>Contoh ini memperlihatkan bahwa laba dan arus kas perlu dianalisis secara bersamaan. Laba memberikan gambaran mengenai kinerja keuangan, sedangkan arus kas membantu menilai kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pembayaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Perusahaan Menjaga Keseimbangan antara Profit dan Cash Flow?<\/strong><\/p>\n<p>Untuk mengurangi risiko kekurangan kas, perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah berikut.<\/p>\n<ul>\n<li>Menyusun proyeksi arus kas. Perusahaan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas untuk mengetahui kemungkinan kekurangan dana sebelum terjadi.<\/li>\n<li>Mempercepat penagihan piutang. Perusahaan memantau tagihan yang belum dibayar, menetapkan persyaratan kredit yang sesuai, dan melakukan tindak lanjut kepada pelanggan.<\/li>\n<li>Mengendalikan persediaan. Pembelian barang disesuaikan dengan perkiraan permintaan agar dana tidak terlalu lama tertahan dalam stok.<\/li>\n<li>Mengatur jadwal pembayaran. Perusahaan merencanakan pembayaran kepada pemasok dan kewajiban lainnya dengan mempertimbangkan waktu penerimaan kas.<\/li>\n<li>Memantau laporan keuangan secara berkala. Laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, dan laporan arus kas perlu dianalisis bersama untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.<\/li>\n<\/ul>\n<p>OpenStax (2019) menjelaskan bahwa laporan arus kas membantu pengguna laporan keuangan memahami bagaimana laba berhubungan dengan kas yang dihasilkan, serta bagaimana perusahaan memperoleh dan menggunakan kasnya. Dengan demikian, pengelolaan kas tidak seharusnya hanya dilakukan ketika perusahaan mulai mengalami kesulitan pembayaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Mengapa Profit dan Cash Flow Sama-Sama Penting?<\/strong><\/p>\n<p>Profit dan cash flow memberikan perspektif yang berbeda, tetapi keduanya dibutuhkan untuk menilai kondisi keuangan perusahaan.<\/p>\n<p>Profit membantu perusahaan mengevaluasi apakah kegiatan bisnis menghasilkan keuntungan dan berpotensi berkelanjutan dalam jangka panjang. Sementara itu, cash flow menunjukkan apakah perusahaan memiliki likuiditas yang memadai untuk membayar kewajiban tepat waktu dan menjalankan operasionalnya.<\/p>\n<p>Perusahaan dengan laba tinggi tetapi arus kas operasi yang terus-menerus lemah perlu mengevaluasi kualitas pendapatannya, pengelolaan piutang, persediaan, serta kewajiban pembayaran. Sebaliknya, arus kas positif yang berasal dari pinjaman atau penjualan aset tidak selalu menunjukkan bahwa bisnis utamanya menguntungkan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, perusahaan perlu menilai sumber arus kas sekaligus kualitas laba agar keputusan keuangan tidak hanya didasarkan pada satu indikator.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Association for Financial Professionals. (2024, November 18). Understanding the difference between cash flow and profit. <a href=\"https:\/\/www.afponline.org\/training-resources\/resources\/articles\/Details\/understanding-the-difference-between-cash-flow-and-profit\">https:\/\/www.afponline.org\/training-resources\/resources\/articles\/Details\/understanding-the-difference-between-cash-flow-and-profit<\/a><\/p>\n<p>IFRS Foundation. (n.d.). IAS 7\u2014Statement of cash flows. <a href=\"https:\/\/www.ifrs.org\/issued-standards\/list-of-standards\/ias-7-statement-of-cash-flows\/\">https:\/\/www.ifrs.org\/issued-standards\/list-of-standards\/ias-7-statement-of-cash-flows\/<\/a><\/p>\n<p>OpenStax. (2019). Principles of accounting, volume 1: Financial accounting\u2014Chapter 16: Statement of cash flows. Rice University. <a href=\"https:\/\/openstax.org\/books\/principles-financial-accounting\/pages\/16-why-it-matters\">https:\/\/openstax.org\/books\/principles-financial-accounting\/pages\/16-why-it-matters<\/a><\/p>\n<p>Iowa State University Extension and Outreach. (2022, March). Cash flow and profitability are not the same. <a href=\"https:\/\/www.extension.iastate.edu\/Agdm\/wholefarm\/html\/c5-213.html\">https:\/\/www.extension.iastate.edu\/Agdm\/wholefarm\/html\/c5-213.html<\/a><\/p>\n<p>Zoho Books. (2026, June 10). 5 reasons profitable businesses run out of cash and how to prevent it. <a href=\"https:\/\/www.zoho.com\/books\/academy\/accounting-principles\/cash-flow-management.html\">https:\/\/www.zoho.com\/books\/academy\/accounting-principles\/cash-flow-management.html<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam menjalankan bisnis, memperoleh laba merupakan salah satu tujuan utama perusahaan. Namun, perusahaan yang mencatat laba belum tentu memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar gaji karyawan, melunasi utang kepada pemasok, atau membiayai kegiatan operasional. Kondisi ini dapat terjadi karena laba dan arus kas mengukur dua hal yang berbeda. Profit menunjukkan hasil keuangan perusahaan berdasarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-19779","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"featured":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19779"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19779\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19781,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19779\/revisions\/19781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}