{"id":19749,"date":"2026-10-22T18:06:02","date_gmt":"2026-10-22T11:06:02","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/?p=19749"},"modified":"2026-10-22T18:06:02","modified_gmt":"2026-10-22T11:06:02","slug":"face-id-untuk-transaksi-keuangan-seberapa-aman-wajah-kita-menjadi-password","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/2026\/10\/22\/face-id-untuk-transaksi-keuangan-seberapa-aman-wajah-kita-menjadi-password\/","title":{"rendered":"Face ID untuk Transaksi Keuangan: Seberapa Aman Wajah Kita Menjadi Password?"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-19750 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/10\/Picture13-300x169.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/10\/Picture13-300x169.png 300w, https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/10\/Picture13.png 316w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Dulu, membuka aplikasi keuangan hampir selalu membutuhkan password atau PIN. Sekarang, pada smartphone tertentu, pengguna cukup melihat layar. Wajah dapat digunakan untuk membuka perangkat, masuk ke aplikasi, atau mengesahkan transaksi tertentu. Teknologi ini sering disebut secara umum sebagai facial recognition, sedangkan Face ID merupakan sistem pengenalan wajah milik Apple. Namun, apakah wajah benar-benar dapat dianggap sebagai pengganti password? Jawabannya lebih rumit dari sekadar \u201cya\u201d atau \u201ctidak\u201d.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Face ID Mengenali Wajah?<\/strong><\/p>\n<p>Face ID tidak hanya mengambil foto biasa. Apple menjelaskan bahwa sistemnya menggunakan kamera TrueDepth untuk memperoleh informasi wajah dan membuat representasi matematis yang kemudian digunakan dalam proses pencocokan (Apple, 2025). Data Face ID tersebut dienkripsi dan dilindungi menggunakan Secure Enclave pada perangkat. Apple menyatakan bahwa data Face ID tidak dikirim keluar dari perangkat dan tidak dicadangkan ke iCloud (Apple, 2025). Ketika pengguna melihat perangkat, sistem membandingkan wajah yang terdeteksi dengan representasi yang telah disimpan sebelumnya. Jika dianggap cocok, perangkat dapat memberikan autentikasi untuk fungsi tertentu.<\/p>\n<p><strong>Apakah Foto Bisa Membuka Face ID?<\/strong><\/p>\n<p>Apple menyatakan bahwa Face ID menggunakan informasi kedalaman yang tidak terdapat dalam foto dua dimensi biasa. Sistem tersebut juga dirancang dengan mekanisme anti-spoofing untuk menghadapi upaya penggunaan foto, masker, atau teknik penyamaran lainnya (Apple, 2024). Menurut Apple, kemungkinan seseorang yang dipilih secara acak dapat membuka perangkat menggunakan Face ID dengan satu tampilan wajah yang terdaftar adalah kurang dari satu dalam satu juta.<\/p>\n<p>Namun, probabilitas tersebut dapat lebih tinggi dalam kondisi tertentu, misalnya pada saudara kembar, saudara kandung yang memiliki kemiripan tinggi, atau anak berusia di bawah 13 tahun (Apple, 2024). Angka tersebut menggambarkan performa sistem Face ID Apple, bukan berarti seluruh teknologi pengenalan wajah memiliki tingkat keamanan yang sama.<\/p>\n<p><strong>Wajah Bukan Rahasia<\/strong><\/p>\n<p>Ada satu kelemahan mendasar biometrik. Password hanya diketahui jika kita memberitahukannya atau jika password tersebut bocor. Wajah kita justru terlihat setiap hari. NIST menegaskan bahwa karakteristik biometrik bukanlah rahasia. Foto wajah dapat diperoleh dari internet atau diambil menggunakan kamera tanpa sepengetahuan orang tersebut (Temoshok et al., 2025).<\/p>\n<p>Karena itu, sistem biometrik perlu memiliki perlindungan tambahan. NIST meminta sistem pengenalan wajah untuk menggunakan presentation attack detection atau PAD. Teknologi ini bertujuan membantu mendeteksi upaya ketika seseorang mencoba menipu sensor menggunakan foto, video, masker, atau metode lain (Temoshok et al., 2025).<\/p>\n<p><strong>Jadi, Apakah Wajah Benar-Benar Menjadi Password?<\/strong><\/p>\n<p>Secara teknis, biometrik sebaiknya tidak dianggap sebagai password dalam arti yang sama. NIST tidak menganggap biometrik sebagai autentikator yang berdiri sendiri. Dalam model autentikasi yang direkomendasikan NIST, biometrik digunakan bersama perangkat fisik.<\/p>\n<p>Perangkat menjadi faktor \u201csesuatu yang Anda miliki\u201d, sedangkan wajah menjadi faktor \u201csesuatu yang merupakan bagian dari diri Anda\u201d (Temoshok et al., 2025). Pada smartphone, pendekatan tersebut masuk akal. Wajah digunakan untuk mengaktifkan atau membuka kredensial yang tersimpan pada perangkat. Artinya, keamanan bukan hanya berasal dari wajah, tetapi dari kombinasi perangkat, sensor, sistem operasi, dan mekanisme autentikasi yang bekerja bersamanya.<\/p>\n<p><strong>Ada Risiko yang Tidak Bisa Diganti Seperti Password<\/strong><\/p>\n<p>Jika password bocor, pengguna dapat membuat password baru. Wajah tidak dapat diganti dengan mudah. Inilah alasan data biometrik harus diperlakukan sebagai informasi pribadi yang sensitif. NIST menegaskan bahwa data biometrik perlu diamankan dengan perlindungan khusus. Panduan tersebut juga lebih menyukai pencocokan biometrik secara lokal pada perangkat dibandingkan menyimpan dan membandingkan seluruh data biometrik secara terpusat, karena penyimpanan terpusat dapat meningkatkan dampak jika terjadi serangan (Temoshok et al., 2025). Apple menggunakan pendekatan lokal tersebut pada Face ID. Representasi matematis wajah disimpan dalam Secure Enclave dan tidak dikirimkan ke server Apple untuk pencocokan rutin (Apple, 2025).<\/p>\n<p><strong>Aman, tetapi Bukan Sihir<\/strong><\/p>\n<p>Face ID dan teknologi biometrik dapat membuat autentikasi lebih mudah tanpa mengharuskan pengguna mengingat banyak password. Namun, wajah bukan kode rahasia yang sempurna. Keamanan biometrik bergantung pada sensor, kualitas algoritma, perlindungan terhadap spoofing, keamanan perangkat, serta bagaimana data biometrik disimpan. Jadi, ketika sebuah aplikasi keuangan terbuka hanya dengan satu tatapan, bukan berarti sistem hanya bertanya, \u201cApakah wajahnya terlihat sama?\u201d Sistem yang baik sebenarnya mencoba menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, yaitu apakah wajah tersebut cocok, apakah berasal dari orang yang benar-benar hadir, dan apakah autentikasi dilakukan melalui perangkat yang dapat dipercaya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bibliography<\/strong><\/p>\n<p>Apple. (2024). About Face ID Advanced Technology. <a href=\"https:\/\/support.apple.com\/en-us\/102381\">https:\/\/support.apple.com\/en-us\/102381<\/a><\/p>\n<p>Apple. (2025). Face ID &amp; Privacy. <a href=\"https:\/\/www.apple.com\/legal\/privacy\/data\/id\/face-id\/\">https:\/\/www.apple.com\/legal\/privacy\/data\/id\/face-id\/<\/a><\/p>\n<p>National Institute of Standards and Technology. (2025). NIST SP 800-63B-4: Digital Identity Guidelines, Authentication and Authenticator Management. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.6028\/NIST.SP.800-63B-4\">https:\/\/doi.org\/10.6028\/NIST.SP.800-63B-4<\/a><\/p>\n<p>Temoshok, D., Choong, Y. Y., Regenscheid, A., Galluzzo, R., Fenton, J., Richer, J., &amp; Lefkovitz, N. (2025). Digital Identity Guidelines: Authentication and Authenticator Management. National Institute of Standards and Technology.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu, membuka aplikasi keuangan hampir selalu membutuhkan password atau PIN. Sekarang, pada smartphone tertentu, pengguna cukup melihat layar. Wajah dapat digunakan untuk membuka perangkat, masuk ke aplikasi, atau mengesahkan transaksi tertentu. Teknologi ini sering disebut secara umum sebagai facial recognition, sedangkan Face ID merupakan sistem pengenalan wajah milik Apple. Namun, apakah wajah benar-benar dapat dianggap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19750,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-19749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"featured":{"small":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/10\/Picture13.png"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19749"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19749\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19751,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19749\/revisions\/19751"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}