{"id":19471,"date":"2025-12-11T09:16:10","date_gmt":"2025-12-11T02:16:10","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/?p=19471"},"modified":"2025-12-11T09:16:10","modified_gmt":"2025-12-11T02:16:10","slug":"model-audit-berkelanjutan-berbasis-blockchain-pada-lembaga-keuangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/2025\/12\/11\/model-audit-berkelanjutan-berbasis-blockchain-pada-lembaga-keuangan\/","title":{"rendered":"Model Audit Berkelanjutan Berbasis Blockchain pada Lembaga Keuangan"},"content":{"rendered":"<p>Transformasi digital dalam industri keuangan telah mengubah cara perusahaan mencatat transaksi, mengelola risiko, dan menyajikan laporan keuangan. Di tengah meningkatnya volume transaksi dan kompleksitas operasional perbankan, metode audit tradisional yang dilakukan secara periodik kini dianggap kurang memadai. Audit yang bersifat retrospektif sering terlambat dalam mendeteksi anomali atau potensi penyimpangan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, muncul konsep audit berkelanjutan (<em>continuous audit<\/em>), yaitu pendekatan audit yang dilakukan secara otomatis, langsung, dan terus-menerus (Alotaibi, 2022). Salah satu teknologi yang mendukung terciptanya audit berkelanjutan adalah <em>blockchain<\/em>.<\/p>\n<p><em>Blockchain<\/em>, sebagai teknologi pencatatan terdistribusi, memiliki karakteristik transparan, aman, dan tidak dapat diubah. Setiap transaksi dicatat dalam jaringan dan diverifikasi oleh banyak pihak, sehingga data yang tersimpan menjadi jauh lebih andal dibanding sistem terpusat. Dalam konteks audit, <em>blockchain<\/em> memberikan akses langsung terhadap transaksi yang terjadi secara <em>real-time<\/em>. Auditor tidak perlu menunggu laporan bulanan atau tahunan untuk melakukan pemeriksaan; mereka dapat memantau aktivitas keuangan setiap saat dengan tingkat keakuratan yang tinggi.<\/p>\n<p>Dalam lembaga keuangan, audit berkelanjutan berbasis <em>blockchain<\/em> berpotensi meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengendalian internal. Semua aktivitas keuangan, seperti penyaluran kredit, pergerakan dana nasabah, atau transaksi pasar uang, dapat tercatat secara otomatis dalam blockchain. Auditor dapat menggunakan <em>smart contract<\/em> untuk menetapkan aturan pemeriksaan tertentu. Misalnya, jika ada transaksi yang melebihi batas risiko atau tidak sesuai kebijakan internal, sistem secara otomatis memberikan peringatan. Dengan mekanisme ini, audit tidak lagi hanya bersifat menemukan kesalahan di akhir periode, tetapi menjadi alat pencegahan yang aktif (Antwi <em>et al<\/em>, 2024).<\/p>\n<p>Keunggulan lain dari penggunaan <em>blockchain<\/em> adalah peningkatan transparansi dan jejak audit (<em>audit trail<\/em>). Setiap transaksi dapat ditelusuri kembali tanpa khawatir ada data yang dihapus atau dimodifikasi. Hal ini sangat penting dalam sektor keuangan yang penuh risiko. Jejak transaksi yang tidak dapat diubah membantu auditor memastikan bahwa laporan keuangan yang disusun bersifat akurat dan bebas dari rekayasa. Selain itu, proses audit menjadi lebih cepat karena auditor tidak perlu melakukan rekonsiliasi data secara manual.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, penerapan audit berkelanjutan berbasis <em>blockchain<\/em> menghadapi beberapa tantangan. Integrasi antara <em>blockchain<\/em> dengan sistem inti perbankan memerlukan investasi besar, baik dari sisi teknologi maupun sumber daya manusia. Auditor juga perlu meningkatkan pemahaman mereka mengenai prinsip kerja <em>blockchain<\/em>, keamanan data, dan cara menguji keandalan <em>smart contract<\/em>. Selain itu, belum adanya standar audit yang mengatur secara rinci pemeriksaan sistem berbasis <em>blockchain<\/em> membuat lembaga audit harus mengembangkan metode internal yang sesuai.<\/p>\n<p>Walaupun tantangan tersebut masih ada, potensi <em>blockchain<\/em> untuk menciptakan audit yang lebih transparan, cepat, dan efektif sangat besar. Dengan meningkatnya digitalisasi sektor keuangan, audit berkelanjutan bukan lagi sebuah opsi, tetapi kebutuhan strategis untuk memastikan integritas laporan keuangan dan menjaga kepercayaan public (Binh, 2025). <em>Blockchain<\/em> membuka jalan bagi masa depan audit yang lebih adaptif dan responsif terhadap risiko, sehingga mampu mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Alotaibi, E. (2022). A Conceptual Model of Continuous Government Auditing Using Blockchain-Based Smart Contracts.\u00a0<em>International Journal of Business and Management<\/em>,\u00a017(11).\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.5539\/ijbm.v17n11p1\">https:\/\/doi.org\/10.5539\/ijbm.v17n11p1<\/a><\/p>\n<p>Antwi, B. O., Adelakun, B. O., Fatogun, D. T., &amp; Olaiya, O. P. (2024). Enhancing audit accuracy: The role of AI in detecting financial anomalies and fraud.\u00a0<em>Finance &amp; Accounting Research Journal<\/em>,\u00a0<em>6<\/em>(6), 1049.\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.51594\/farj.v6i6.1235\">https:\/\/doi.org\/10.51594\/farj.v6i6.1235<\/a><\/p>\n<p>B\u00ecnh, N. T. T. (2025). Transforming Auditing in the AI Era: A Comprehensive Review.\u00a0<em>Information<\/em>,\u00a016(5).\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/info16050400\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/info16050400<\/a><\/p>\n<p>Gokoglan, K., Kabaagac, A., (2025). A research on independent auditors \u2018perspectives on digital auditing. Journal of Economics, Finance and Accounting (JEFA), 12(1). <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.17261\/pressacademia.2025.1963\">https:\/\/doi.org\/10.17261\/pressacademia.2025.1963<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Transformasi digital dalam industri keuangan telah mengubah cara perusahaan mencatat transaksi, mengelola risiko, dan menyajikan laporan keuangan. Di tengah meningkatnya volume transaksi dan kompleksitas operasional perbankan, metode audit tradisional yang dilakukan secara periodik kini dianggap kurang memadai. Audit yang bersifat retrospektif sering terlambat dalam mendeteksi anomali atau potensi penyimpangan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, muncul konsep [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-19471","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"featured":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19471"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19473,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19471\/revisions\/19473"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}