{"id":19456,"date":"2025-12-11T09:12:34","date_gmt":"2025-12-11T02:12:34","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/?p=19456"},"modified":"2025-12-11T09:12:34","modified_gmt":"2025-12-11T02:12:34","slug":"blockchain-dan-akuntansi-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/2025\/12\/11\/blockchain-dan-akuntansi-lingkungan\/","title":{"rendered":"Blockchain\u00a0 dan Akuntansi Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p>Percepatan perubahan iklim mendorong perusahaan di berbagai sektor untuk mengadopsi sistem pelaporan emisi karbon yang lebih transparan, akurat, dan dapat diaudit. Selama ini, pelacakan biaya emisi karbon menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakakuratan data, manipulasi pelaporan, kurangnya standardisasi, serta ketergantungan pada verifikasi pihak ketiga yang memakan waktu. Dalam konteks tersebut, teknologi <em>blockchain <\/em>hadir sebagai model baru yang menawarkan solusi berbasis keandalan data dan transparansi. <em>Blockchain<\/em>, dengan karakteristik <em>immutable ledger<\/em> dan kemampuan pencatatan transaksi secara terdistribusi, berpotensi mentransformasi cara perusahaan mengukur, memantau, dan melaporkan biaya emisi karbon secara <em>real-time<\/em>.<\/p>\n<p><em>Blockchain <\/em>memungkinkan setiap aktivitas yang menghasilkan emisi karbon, seperti konsumsi energi, proses produksi, atau transportasi logistik, dicatat secara permanen pada jaringan terdistribusi (Ju <em>et al<\/em>, 2022). Setiap catatan bersifat tidak dapat diubah, sehingga mengurangi risiko <em>data tampering<\/em> atau manipulasi angka emisi yang sering menjadi kritik terhadap laporan keberlanjutan tradisional. Dengan kemampuan pelacakan granular, <em>blockchain <\/em>menciptakan \u201crantai nilai karbon\u201d digital yang dapat diverifikasi langsung oleh auditor, pemangku kepentingan, dan regulator. Hal ini bukan hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga memperkuat legitimasi perusahaan dalam praktik <em>Environmental, Social, and Governance<\/em> (ESG).<\/p>\n<p>Selain itu, penggunaan <em>smart contract<\/em> dalam <em>blockchain <\/em>memungkinkan otomasi penghitungan biaya emisi karbon berdasarkan parameter yang telah disepakati, seperti nilai <em>carbon intensity<\/em>, durasi proses, atau volume energi fosil yang digunakan (Merlo <em>et al<\/em>, 2025). Ketika suatu aktivitas produksi terjadi, <em>smart contract<\/em> dapat secara otomatis menghasilkan catatan emisi dan menghitung biaya yang harus dibebankan ke perusahaan. Model otomatis ini mengurangi potensi human error dan memberikan efisiensi signifikan dalam proses pelaporan, terutama bagi perusahaan yang beroperasi pada rantai pasok yang kompleks. Dengan demikian, <em>blockchain <\/em>mampu mendukung sistem akuntansi biaya yang lebih adaptif dan responsif terhadap standar keberlanjutan global.<\/p>\n<p>Integrasi <em>blockchain <\/em>dengan teknologi IoT (Internet of Things) meningkatkan keakuratan pelacakan emisi secara lebih detail. Sensor IoT dapat dipasang pada mesin produksi, alat transportasi, atau fasilitas energi untuk mengumpulkan data emisi secara langsung. Data yang dihasilkan kemudian dikirim ke jaringan <em>blockchain <\/em>untuk direkam secara otomatis. Kolaborasi IoT dan <em>blockchain <\/em>ini memungkinkan verifikasi langsung terhadap aktivitas emisi tanpa intervensi manual, sehingga menjadi terobosan bagi perusahaan dalam menjaga integritas pelaporan dan mengoptimalkan strategi mitigasi emisi.<\/p>\n<p>Dalam konteks audit dan kepatuhan, <em>blockchain <\/em>menawarkan manfaat besar melalui <em>real-time auditability<\/em>. Auditor dapat mengakses data emisi kapan saja tanpa harus menunggu laporan periodik. Dengan begitu, proses audit menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien, serta membantu perusahaan mematuhi kebijakan pemerintah terkait pelaporan emisi. Model pelacakan ini juga memberikan insentif bagi perusahaan untuk menurunkan jejak karbon secara berkelanjutan, karena kinerja lingkungan dapat dipantau secara langsung oleh investor, lembaga keuangan, dan publik.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, penerapan <em>blockchain <\/em>sebagai model pelacakan biaya emisi karbon menciptakan paradigma baru dalam sistem akuntansi lingkungan. Dengan meningkatkan integritas data, mempercepat proses audit, dan memungkinkan pelaporan otomatis berbasis <em>smart contract<\/em>, <em>blockchain\u00a0 <\/em>\u00a0menjadi teknologi kunci dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Meski tantangan teknis dan regulasi masih perlu dibahas lebih lanjut, potensinya untuk merevolusi praktik pelaporan keberlanjutan sangat besar dan menjanjikan masa depan pelacakan emisi yang lebih transparan serta bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Ju, C., Shen, Z., Bao, F., Weng, P., Xu, Y., &amp; Xu, C. (2022). A Novel Credible Carbon Footprint Traceability System for Low Carbon Economy Using <em>Blockchain\u00a0 <\/em>\u00a0Technology.\u00a0<em>International Journal of Environmental Research and Public Health<\/em>,\u00a0<em>19<\/em>(16), 10316.\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/%20ijerph191610316\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/ ijerph191610316<\/a><\/p>\n<p>Merlo, A. L. C., Mendon\u00e7a, D., Santos, J. dos, Carvalho, S. T., Guerra, R., &amp; Brand\u00e3o, D. (2025). <em>Blockchain\u00a0 <\/em>\u00a0for the carbon market: a literature review.\u00a0<em>Discover Environment<\/em>,\u00a0<em>3<\/em>(1). Springer Science+Business Media.\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s44274-025-00260-4\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/s44274-025-00260-4<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Percepatan perubahan iklim mendorong perusahaan di berbagai sektor untuk mengadopsi sistem pelaporan emisi karbon yang lebih transparan, akurat, dan dapat diaudit. Selama ini, pelacakan biaya emisi karbon menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakakuratan data, manipulasi pelaporan, kurangnya standardisasi, serta ketergantungan pada verifikasi pihak ketiga yang memakan waktu. Dalam konteks tersebut, teknologi blockchain hadir sebagai model baru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-19456","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"featured":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19456"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19456\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19457,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19456\/revisions\/19457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}