{"id":17978,"date":"2022-08-03T18:42:49","date_gmt":"2022-08-03T11:42:49","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/?p=17978"},"modified":"2022-08-03T18:42:49","modified_gmt":"2022-08-03T11:42:49","slug":"praktik-sustainable-restaurant","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/2022\/08\/03\/praktik-sustainable-restaurant\/","title":{"rendered":"Praktik Sustainable Restaurant"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Restoran dan industri makanan pada umumnya adalah industri yang paling menghasilkan limbah. Limbah yang berasal dari kelebihan penggunaan bahan baku makanan, limbah kemasan dan limbah makanan sisa pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika ada pertanyaan, <strong>seperti apa restoran yang berkelanjutan (<em>sustainable restaurant<\/em>)?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada dasarnya, model bisnis dan operasional sebuah restoran itu sama seperti yang lain. Laporan terbaru mengungkapkan, memesan makanan secara online mungkin dapat meninggalkan jejak karbon yang lebih rendah daripada membeli makanan langsung di supermarket atau di lokasi restaurant. Menurut <em>Science Direct<\/em>, pengiriman makanan (<em>food delivery<\/em>) yaitu bisnis layanan makanan yang memiliki rata-rata emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, sedangkan membeli makanan di supermarket, dapat menghasilkan sampah makanan yang lebih banyak.\u00a0Di saat yang bersamaan, pelanggan yang telah lebih sadar lingkungan, 83% mengatakan bahwa mereka berharap restoran akan menggunakan bahan makanan dan proses pengolahan yang lebih ramah lingkungan, dan sebanyak dua pertiga konsumen saat ini siap membayar lebih untuk produk ramah lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terdapat beberapa praktik <em>sustainable restaurant<\/em>:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Menggunakan bahan baku makanan produksi lokal atau produksi sendiri<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan bahan baku dan persediaan secara lokal adalah cara terbaik untuk mengurangi jejak karbon restoran. Masing-masing restaurant dapat mengembangkan bahan baku produk sendiri secara mandiri di rooftop, taman belakang, atau kebun lokal. Lalu, pemilik restaurant dapat mempertimbangkan untuk menceritakan proses ini ke pelanggan terkait dengan menu yang mereka pesanan melalui tampilan grafis, info bahan di aplikasi pengiriman, dan postingan media sosial.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><strong>Menyesuaikan menu berdasarkan limbah makanan, menu populer, dan lainnya<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan berpartisipasi dalam <em>sustainability<\/em>, pemilik <em>restaurant<\/em> bisa membuat rencana untuk menghindari membuang makanan dan memastikan membuang sesedikit mungkin sampah makanan selama operasional restoran. <em>Restaurant<\/em> dapat mengurangi menu terlaris dan beralih ke menu yang menghasilkan sampah sesedikit mungkin. Selanjutnya, <em>restaurant<\/em> juga bisa mengembangkan sistem untuk mengurangi penggunaan bahan baku makanan berlebih dan memanfaatkan kelebihan bahan baku untuk makanan sampingan seperti saus, kaldu, <em>smoothie<\/em>, dll.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li>Menggunakan menu virtual<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sustainable restaurant<\/em> dapat membuang menu fisik menjadi <em>QR code<\/em> atau <em>e-menu<\/em>. Penerapan hal ini secara permanen akan dapat menghilangkan sampah kertas dan biaya yang terkait dengan pencetakan menu. Cara ini termasuk sederhana namun efektif untuk menurunkan jejak karbon bisnis.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li>Membuat kompos<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahukah anda bahwa 60 &#8211; 80% dari semua sampah restoran adalah sisa makanan? Meskipun banyak <em>restaurant<\/em> menawarkan porsi yang lebih kecil untuk membantu menghilangkan limbah makanan, namun akan selalu ada pelanggan yang tidak menghabiskan makanan mereka. Alih-alih membuang sisa makanan, pertimbangkan untuk membuat kompos. Membuat kompos hanya membutuhkan sedikit peralatan &amp; cukup sederhana, dan merupakan langkah yang sangat positif untuk sistem pangan lokal dan lingkungan.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"5\">\n<li>Menggunakan kemasan yang dapat digunakan lagi<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena banyak restoran beralih ke layanan pengiriman di tengah <em>pandemic<\/em> Covid-19, sampah plastik menjadi masalah besar. Para ahli memprediksi sampah plastik bisa meningkat sebesar 40% selama dekade berikutnya jika kemasan yang berkelanjutan tidak dikembangkan. Untungnya pada awal 2021, restoran mulai memutus dan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai. Untuk pesanan <em>takeout<\/em> dan pengiriman, restaurant telah membebankan pelanggan untuk membayar plastik kemasan kompos berbasis tanaman.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"6\">\n<li>Meminimalkan penggunakan barang sekali pakai<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jaman sebelum pandemi, sangatlah umum kita lihat adanya penggunaan sedotan dan serbet makan atau tissue makan yang berlebihan. Pelanggan dapat mengambil sedotan dan tissue makan sesukanya. Selama pandemic covid 19, sedotan, alat makan dan tissue makan termasuk barang yang tidak boleh dijangkau sendiri oleh pelanggan untuk menjaga higienitasnya. Sebagai penggantinya, pelanggan harus meminta barang tersebut dan <em>restaurant<\/em> hanya akan memberikan 1 buah per pelanggan. Atau, <em>restaurant<\/em> dapat beralih ke peralatan makanan <em>reusable<\/em> dan serbet makan dari kain yang dapat dicuci dan dipergunakan lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pastinya, masih banyak praktik <em>sustainable restaurant<\/em> yang belum saya sebutkan, seperti penggunaan energi dari <em>renewable energy<\/em>, penggunaan <em>recycled water<\/em>, penggunaan barang daur ulang. Setidaknya, bahasan saya telah sedikit membantu membuka wawasan mengenai <em>sustainable restaurant<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<ul>\n<li>Environment and energy leader. 2017. Time to Fire Up Restaurant Sustainability \u2013 Here\u2019s How. <a href=\"https:\/\/www.environmentalleader.com\/2017\/12\/time-fire-restaurant-sustainability-heres\/\">https:\/\/www.environmentalleader.com\/2017\/12\/time-fire-restaurant-sustainability-heres\/<\/a><\/li>\n<li>Image Source: <a href=\"https:\/\/mir-s3-cdn-cf.behance.net\/project_modules\/disp\/5ab81631701911.5605a488e6eec.jpg\">5ab81631701911.5605a488e6eec.jpg (600\u00d7600) (behance.net)<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Restoran dan industri makanan pada umumnya adalah industri yang paling menghasilkan limbah. Limbah yang berasal dari kelebihan penggunaan bahan baku makanan, limbah kemasan dan limbah makanan sisa pelanggan. Jika ada pertanyaan, seperti apa restoran yang berkelanjutan (sustainable restaurant)? Pada dasarnya, model bisnis dan operasional sebuah restoran itu sama seperti yang lain. Laporan terbaru mengungkapkan, memesan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":17979,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-17978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"featured":{"small":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/08\/27.png"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17978"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17978\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17980,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17978\/revisions\/17980"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/accounting-technology\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}