Forensic Accounting: Mengungkap Kecurangan melalui Analisis Keuangan
Laporan keuangan tidak selalu menunjukkan seluruh kejadian yang sebenarnya terjadi di dalam perusahaan. Di balik angka penjualan, pengeluaran, dan saldo kas, mungkin terdapat transaksi tidak wajar, penyalahgunaan aset, atau manipulasi pencatatan yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Untuk menyelidiki kondisi tersebut, perusahaan dapat menggunakan pendekatan yang dikenal sebagai forensic accounting atau akuntansi forensik.
Akuntansi forensik menggabungkan pengetahuan akuntansi dengan teknik investigasi untuk menelusuri transaksi, menganalisis penyimpangan keuangan, dan menyusun bukti yang dapat mendukung proses penyelesaian sengketa atau penyelidikan kecurangan. Menurut CPA Australia (n.d.), hasil pekerjaan akuntansi forensik perlu disusun dengan standar yang sesuai untuk digunakan dalam proses hukum apabila diperlukan.
Apa Itu Forensic Accounting?
Forensic accounting adalah bidang akuntansi yang berfokus pada pemeriksaan dan analisis informasi keuangan untuk menyelidiki dugaan kecurangan, manipulasi keuangan, atau perselisihan yang berkaitan dengan uang dan aset.
Berbeda dari pencatatan akuntansi sehari-hari yang bertujuan merekam transaksi, akuntansi forensik berusaha menjawab pertanyaan yang lebih mendalam, seperti:
- Apakah terdapat transaksi yang tidak sesuai dengan aktivitas bisnis sebenarnya?
- Ke mana aliran dana perusahaan berpindah?
- Apakah aset perusahaan digunakan untuk kepentingan pribadi?
- Berapa potensi kerugian yang timbul dari transaksi yang dipermasalahkan?
- Bukti apa yang dapat mendukung atau membantah dugaan kecurangan?
Menurut Kaur et al. (2023), akuntansi forensik memiliki peran dalam mendukung pendeteksian dan pencegahan fraud melalui berbagai teknik investigasi dan analisis. Ruang lingkupnya juga tidak terbatas pada kecurangan. Akuntan forensik dapat membantu menilai kerugian dalam sengketa kontrak, menelusuri aset, atau menganalisis transaksi dalam perkara hukum lainnya (ACCA, n.d.).
Jenis Kecurangan yang Dapat Diungkap
Akuntansi forensik dapat diterapkan pada berbagai dugaan penyimpangan keuangan. Berikut beberapa contohnya.
1. Manipulasi Laporan Keuangan
Manipulasi laporan keuangan terjadi ketika informasi keuangan disajikan secara tidak benar atau menyesatkan. Contohnya adalah mencatat pendapatan yang sebenarnya belum diperoleh, menyembunyikan kewajiban, atau mencatat aset dengan nilai yang tidak didukung bukti memadai.
Akuntan forensik dapat membandingkan catatan penjualan dengan faktur, kontrak, bukti pengiriman, penerimaan kas, dan dokumen pendukung lainnya. Tujuannya adalah menilai apakah transaksi yang dilaporkan benar-benar terjadi dan dicatat secara tepat.
2. Penggelapan Aset
Penggelapan aset terjadi ketika seseorang menyalahgunakan atau mengambil aset organisasi untuk kepentingan pribadi. Bentuknya dapat berupa pengambilan uang kas, penyalahgunaan persediaan, atau pembayaran perusahaan untuk transaksi fiktif.
Sebagai contoh, perusahaan mencatat pembayaran kepada pemasok, tetapi tidak ditemukan bukti bahwa barang pernah dikirim. Penelusuran dokumen pembelian, rekening bank, dan data pemasok dapat membantu mengidentifikasi apakah transaksi tersebut memiliki dasar yang sah.
3. Korupsi dan Konflik Kepentingan
Kecurangan juga dapat terjadi melalui suap, komisi ilegal, atau transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan kepentingan yang tidak diungkapkan. Dalam situasi tersebut, pemeriksaan tidak cukup hanya dengan melihat apakah dokumen transaksi tersedia.
Akuntan forensik perlu menelusuri hubungan antar pihak, pola pembayaran, proses persetujuan, dan kewajaran transaksi dibandingkan dengan kegiatan bisnis sebenarnya.
4. Pencucian Uang dan Aliran Dana yang Mencurigakan
Dalam dugaan pencucian uang, analisis keuangan dapat membantu menelusuri perpindahan dana melalui berbagai rekening atau transaksi. Akuntan forensik dapat menyusun alur pergerakan uang, mengidentifikasi transaksi yang tidak sesuai dengan profil kegiatan bisnis, dan membantu menelusuri aset terkait.
Meski demikian, transaksi yang tidak biasa tidak otomatis merupakan tindak pidana. Temuan tersebut perlu dianalisis bersama bukti lain dan dinilai sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Bagaimana Akuntan Forensik Mengungkap Kecurangan?
Investigasi forensik dilakukan secara sistematis. Prosedurnya dapat berbeda tergantung pada dugaan kasus, tujuan pemeriksaan, dan bukti yang tersedia. Secara umum, prosesnya mencakup beberapa tahapan berikut.
1. Mengidentifikasi Indikasi Awal
Investigasi dapat dimulai dari laporan pelanggaran, hasil audit internal, keluhan pemasok, ketidaksesuaian saldo, atau pola transaksi yang tidak biasa.
Contohnya, perusahaan menemukan pembayaran berulang kepada pemasok yang sama dengan nominal serupa, padahal tidak ada dokumen pendukung yang memadai. Kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi belum membuktikan adanya kecurangan.
2. Mengumpulkan dan Memeriksa Bukti
Akuntan forensik mengumpulkan dokumen yang relevan, seperti buku besar, jurnal, faktur, kontrak, mutasi bank, bukti pembayaran, data pengadaan, dan catatan elektronik.
Keaslian, kelengkapan, dan keterkaitan dokumen perlu diperiksa. Bukti juga harus dikelola secara hati-hati agar sumber dan riwayat penanganannya dapat ditelusuri, terutama jika hasil investigasi berpotensi digunakan dalam proses hukum (ACCA, n.d.).
3. Menelusuri Transaksi dan Aliran Dana
Setelah bukti dikumpulkan, akuntan forensik menelusuri transaksi untuk memahami asal, tujuan, dan hubungan antarpergerakan dana.
Misalnya, pembayaran perusahaan kepada pemasok ditelusuri dari jurnal pembelian hingga mutasi bank. Pemeriksa kemudian mencocokkannya dengan faktur, pesanan pembelian, bukti penerimaan barang, serta identitas penerima dana.
Langkah ini membantu menjawab apakah transaksi memiliki dasar bisnis yang jelas dan apakah aliran dananya sesuai dengan dokumentasi.
4. Menganalisis Pola dan Ketidakwajaran
Analisis dilakukan untuk mencari pola yang menyimpang dari kondisi normal. Teknik yang digunakan dapat berupa perbandingan transaksi antarperiode, pemeriksaan transaksi bernilai bulat, identifikasi pembayaran berulang, analisis hubungan antar pihak, atau pencarian transaksi yang melewati batas persetujuan.
Teknologi analisis data juga dapat digunakan untuk memeriksa transaksi dalam jumlah besar. Kapo et al. (2024) membahas bagaimana data analytics, data mining, dan machine learning dapat mendukung proses deteksi fraud dalam akuntansi forensik.
Hasil analisis tersebut digunakan untuk menentukan transaksi mana yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam, bukan untuk langsung menyimpulkan bahwa kecurangan telah terjadi.
5. Menyusun Temuan dan Laporan Investigasi
Tahap terakhir adalah menyusun laporan yang menjelaskan ruang lingkup pemeriksaan, prosedur yang dilakukan, bukti yang ditemukan, hasil analisis, serta keterbatasan pemeriksaan.
Jika terdapat kerugian yang dapat dihitung, akuntan forensik dapat memperkirakan nilainya berdasarkan bukti dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Laporan perlu membedakan fakta yang telah didukung bukti, indikasi yang masih memerlukan pemeriksaan, dan kesimpulan profesional.
Apabila perkara berlanjut ke proses hukum, akuntan forensik dapat membantu menjelaskan temuan keuangan kepada pihak yang menangani perkara atau memberikan keterangan ahli sesuai kompetensi dan ketentuan yang berlaku.
Apa Perbedaan Forensic Accounting dan Audit?
Akuntansi forensik dan audit sama-sama menggunakan informasi keuangan untuk melakukan pemeriksaan, tetapi tujuan dan ruang lingkupnya dapat berbeda.
Audit laporan keuangan bertujuan memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Audit dilakukan berdasarkan standar audit dan prosedur yang dirancang sesuai penilaian risiko.
Sementara itu, akuntansi forensik biasanya berfokus pada persoalan atau dugaan tertentu yang membutuhkan investigasi lebih mendalam. Pemeriksa dapat menelusuri transaksi secara terperinci, mengidentifikasi aliran dana, menghitung kerugian, dan menyusun temuan untuk mendukung penyelesaian sengketa atau proses hukum.
Keduanya saling melengkapi. Audit dapat mengidentifikasi risiko atau indikasi penyimpangan yang kemudian memerlukan investigasi khusus. Namun, audit laporan keuangan tidak dirancang untuk menjamin bahwa seluruh kecurangan akan terdeteksi (ACCA, n.d.).
Referensi
Association of Chartered Certified Accountants (ACCA). (n.d.). Forensic accounting. https://www.accaglobal.com/africa/en/student/exam-support-resources/professional-exams-study-resources/p7/technical-articles/forensic-accounting.html
CPA Australia. (n.d.). APES 215 Forensic Accounting Services. https://www.cpaaustralia.com.au/tools-and-resources/accounting-professional-and-ethical-standards/apes-215-forensic-accounting-services
Kaur, B., Sood, K., & Grima, S. (2023). A systematic review on forensic accounting and its contribution towards fraud detection and prevention. Journal of Financial Regulation and Compliance, 31(1), 60–95. https://doi.org/10.1108/JFRC-02-2022-0015
Kapo, A., Turulja, L., & Vidačak, Z. (2024). Innovative approaches in forensic accounting: The role of data analytics. The Journal of Forensic Accounting Profession, 4(1), 1–14. https://doi.org/10.2478/jfap-2024-0001
Association of Certified Fraud Examiners Indonesia. (2023, July). Fraud investigation. https://acfe-indonesia.or.id/2023/07/fraud-investigation/
Van Dyck, H. P., & Atkinson, L. R. (n.d.). Forensic accounting in securities and financial fraud prosecutions. U.S. Department of Justice. https://www.justice.gov/usao/page/file/931366/dl?inline=
Comments :