Tantangan Pengambilan Keputusan Bisnis Berkelanjutan di Big Data Governance dan Artificial Intelligence
Transformasi digital telah mengubah cara perusahaan mengambil keputusan bisnis. Pada tahun 2026, penggunaan big data dan artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar alat pendukung operasional, melainkan menjadi fondasi utama dalam strategi bisnis modern. Perusahaan memanfaatkan data pelanggan, transaksi digital, media sosial, hingga perilaku konsumen untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan prediktif. Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan besar terkait big data governance dan akuntabilitas AI dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Big data governance mengacu pada mekanisme pengelolaan data yang memastikan kualitas, keamanan, integritas, serta kepatuhan penggunaan data dalam organisasi. Dalam praktiknya, banyak perusahaan menghadapi masalah terkait validitas data, privasi pelanggan, dan keamanan informasi. Ketika perusahaan menggunakan AI berbasis big data tanpa tata kelola yang baik, keputusan yang dihasilkan berpotensi bias, tidak transparan, bahkan merugikan stakeholder. Oleh karena itu, governance menjadi elemen penting agar pemanfaatan AI tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada tanggung jawab bisnis dan keberlanjutan.
Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan AI adalah rendahnya tingkat transparansi algoritma. Banyak model AI mampu menghasilkan prediksi yang sangat akurat, tetapi sulit dijelaskan bagaimana keputusan tersebut diambil. Dalam konteks bisnis, kondisi ini dapat menimbulkan risiko serius, terutama pada sektor keuangan, perbankan digital, dan e-commerce. Sebagai contoh, algoritma kredit berbasis AI dapat menolak pengajuan pinjaman tanpa alasan yang jelas, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai akuntabilitas keputusan tersebut. Menurut Sharma dan Sharma (2019), kualitas sistem dan informasi memang meningkatkan efektivitas teknologi digital, tetapi belum tentu mampu menjawab aspek akuntabilitas dalam pengambilan keputusan berbasis teknologi.
Selain itu, penggunaan AI dalam bisnis juga menghadapi risiko algorithmic bias. Bias dapat muncul karena data historis yang digunakan untuk melatih AI bisa mengandung ketimpangan tertentu. Dalam dunia bisnis digital, hal ini dapat memengaruhi rekomendasi produk, penilaian risiko pelanggan, hingga strategi pemasaran perusahaan. Rahman et al. (2023) menjelaskan bahwa investasi teknologi digital memang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, tetapi tanpa governance yang baik, teknologi tersebut dapat menciptakan risiko baru berupa ketidakadilan dan penurunan kepercayaan publik.
Akuntabilitas AI menjadi semakin penting karena keputusan bisnis modern semakin bergantung pada otomatisasi. Perusahaan perlu memastikan bahwa keputusan berbasis AI tetap dapat dipertanggungjawabkan secara etis maupun hukum. Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah penggunaan Explainable Artificial Intelligence (XAI), yaitu sistem AI yang mampu menjelaskan alasan di balik keputusan yang dihasilkan. Dengan adanya transparansi algoritma, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan stakeholder sekaligus meminimalkan risiko reputasi dan regulasi.
Di sisi lain, governance AI juga berkaitan erat dengan keberlanjutan bisnis (business sustainability). Perusahaan yang gagal mengelola data dan AI secara bertanggung jawab berpotensi menghadapi sanksi hukum, penurunan reputasi, hingga kehilangan loyalitas pelanggan. Sebaliknya, perusahaan yang menerapkan tata kelola data dan AI secara baik akan memiliki keunggulan kompetitif dalam jangka panjang. Al-Busaidi dan Al-Muharrami (2021) menyatakan bahwa investasi teknologi yang disertai pengelolaan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas, skalabilitas, dan daya saing perusahaan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, era ekonomi digital menuntut perusahaan untuk tidak hanya fokus pada kecanggihan teknologi AI, tetapi juga pada governance dan akuntabilitasnya. Big data dan AI memang menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas keputusan bisnis, namun tanpa tata kelola yang kuat, teknologi tersebut dapat menjadi sumber risiko baru. Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun sistem governance yang transparan, etis, dan berorientasi pada keberlanjutan agar pengambilan keputusan bisnis berbasis AI dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh stakeholder.
Referensi
Al-Busaidi, K. A., & Al-Muharrami, S. (2021). Beyond profitability: ICT investments and financial institutions performance measures in the GCC. Journal of Enterprise Information Management, 34(1), 77–95. https://doi.org/10.1108/JEIM-09-2019-0273
Rahman, M., Islam, M. S., Al Mamun, A., & Ahmed, R. (2023). Exploring the adoption of artificial intelligence in banking: The role of technological investment and digital transformation. Technology in Society, 72, 102190. https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2022.102190
Sharma, S. K., & Sharma, M. (2019). Examining the role of trust and quality dimensions in the actual usage of mobile banking services: An empirical investigation. International Journal of Information Management, 44, 65–75. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt. 2018.09.013
Comments :