Uang Digital dan Perilaku Konsumen: Mengapa Kita Lebih Mudah Boros Online
Perubahan bentuk uang yang awanya kertas menjadi uang digital telah menjadikan cara orang membelanjakan uang secara mendasar. Pembayaran elektronik seperti kartu kredit dan e-wallet membuat pengurangan uang terasa kurang nyata. Studi dari University of Adelaide mengungkap bahwa konsumen yang menggunakan metode pembayaran cashless akan cenderung mengeluarkan lebih banyak uang dibandingkan dengan yang memilih metode membayar dengan uang kas, fenomena ini disebut dengan”Cashless effect” (Schomburgk et al., 2024). Fenomena ini didukung oleh riset dari Broekhoff dan Van Der Cruijsen (2024) yang menunjukkan bahwa transaksi digital dinilai kurang ”Menyakitkan” dibandingkan dengan uang tunai dan mengurangi hambatan psikologis yang biasanya menahan konsumen dalam melakukan pembelanjaan impulsif. Konsep ini berakar pada perilaku ekonomi dimana rasa kehilangan yang nyata akan memperlambat perbelanjaan.
Lebih jauh lagi, riset terbaru dari (Faraz & Anjum, 2025) memperkenalkan konsep “Spendception” yang menjelaskan bagaimana sistem pembayaran digital meruntuhkan hambatan psikologis yang menghalangi kita dari pengeluaran yang berlebihan. Menurut studi tersebut, saat pembayaran terjadi secara digital, oengguna cenderung kurang menyadari dampak finansialnya sehingga pengeluaran semakin besar. Selain itu kemudahan akses dan desain layanan keuangan digital juga turut mendorong perilaku konsumtif. Laporan The Week menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital membuka peluang besar untuk overspending dikarenakan setiap langkah transaksi terasa cepat dan tidak menimbulkan rasa bersalang secara langsung (Ita, 2025). Survei yang dilakukan oleh Time juga mendukung argumen bahwa kenyamanan dan kecepatan transaksi menjadi pemicu utama konsumen mengeluarkan uang lebih banyak. Peneliti menemukan bahwa ketika hambatan berupa pembayaran fisik hilang, konsumen membeli lebih impulsif dan akhirnya menciptakan lonjakan utang rumah tangga yang cukup signifikan (Semuels, 2024).
Fenomena belanja online juga seringkali dikaitkan dengan “Retail Therapy”, yaitu dorongan membeli barang untuk meredam mood dan menghilangkan stress. Pembelian ini tidak selalu didoring oleh kebutuhan, tapi cenderung kepada pelampiasan emosi. Secara singkat uang digital memang memudahkan kehidupan sehari hari tetapi mempermudah juga belanja secara tidak terkontrol. Efektivitas sistem pembayaran digitaldapat diakui sangat mempermudah transaksi, namun dengan alurya yang memicu impuls pengguna sering terjebak dalam silkus pemborosan. Kesadaran dan strategi seperti budgeting digital, penggunaan pengingat anggaran, dan jeda sebelum membeli sangat penting untuk membendung tren konsumtif era digital.
Referensi:
Broekhoff, M., & Van Der Cruijsen, C. (2024). Paying in a blink of an eye: it hurts less, but you spend more. Journal of Economic Behavior & Organization, 221, 110–133. https://doi.org/10.1016/j.jebo.2024.03.017
Faraz, N., & Anjum, A. (2025). Spendception: The psychological impact of digital payments on consumer purchase behavior and impulse buying. Behavioral Sciences, 15(3), 387. https://doi.org/10.3390/bs15030387
Ita, D.-A. (2025). Is Going Cashless Making You Overspend? Learn How to Outsmart the Cashless Effect. Investopedia. https://www.investopedia.com/the-cashless-effect-and-your-spending-11739269?utm_source=chatgpt.com
Semuels, A. (2024, March 14). Why We’re Spending So Much Money. TIME; Time. https://time.com/6899688/why-we-spend-money-frictionless-transactions
Schomburgk, L., Belli, A., & Hoffmann, A. O. (2024). Less cash, more splash? A meta-analysis on the cashless effect. Journal of Retailing, 100(3), 382–403. https://doi.org/10.1016/j.jretai.2024.05.003
Comments :