Biometrik saat ini menjadi sorotan dunia finansial sebagai solusi untuk meningkatkan keamanan transkasi, teknologi seperti sidik jari, pemindaian wajah, dan pola suara digunakan untuk memastikan bahwa identitas pengguna sudah terverifikasi (Investopedia, 2016). Penggunaan teknologi ini di industri keuangan semakin meluas, sebuah studi dari International Journal of Research Publication and Reviews menunjukkan bahwa sistem berdasarkan pola ketikan, gerakan layar, dan perilaku pemakaian mampu mendeteksi aktivitas penipuan dengan akurasi hingga 96,3%. Hal tersebut menandakan pendekatan autentikasi real time yang tidak mengganggu pengguna namun efektif memperkuat perlindungan finansial mereka (Ogunwobi, 2025).

Tetapi potensi keunggulan ini diimbangi dengan risiko privasi yang serius, alat biometrik menyimpan data yang jauh lebih sensitif dibandingkan pola tradisional. Dikarenakan data yang ada dalam biometrik sangat sensitif, apabila bocor maka dampaknya akan jauh lebih parah dibandingkan kata sandi karena data biometrik tidak bisa diganti. Malik (2024) menyoroti ancaman seperti kebocoran, penyalahgunaan, dan serangan spoofing. Ia juga menegaskan perlunya perlindungan data yang kuat, kepatuhan hukum dan sistem yang etis agar teknologi ini tidak merugikan individu tertentu. Isu bias dan diskriminasi juga menjadi sebuah tantangan serius dalam penerapan biometrik. Studi dari Drozdowski et al (2020) mengemukakan bahwa algoritma pengenalan wajah sering kali kurang akurat terhadap individu dari kelompok ras tertentu. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakadilan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi finansial baru ini. Organisasi perlu waspada dan melakukan audit berkala untuk memastikan keadilan algoritmik dan inklusivitas.

Dari sudut pandang regulasi, kerangka umu seperti Illinois Biometric Information Privacy act mewakili awal perlindungan konsumen, hal ini memungkinkan individu menuntut perusahaan yang mengumpulkan data biometrik tanpa izin. Secara keseluruhan biometrik menawarkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi dalam transaksi finansial, namun teknologinya bukan tanpa kelemahan. Regulasi, desain etis, pengawasan, dan kesadaran pengguna tentang potensi penyalahgunaan menjadi prasyarat agar teknologi ini tidak berubah menjadi ancaman privasi. Jika diterapkan dengan bijak teknologi biometrik memiliki potensi besar menjadi landasan sistem keuangan digital yang lebih aman dan manusiawi.

 

Referensi:

Drozdowski, P., Rathgeb, C., Antitza Dantcheva, Damer, N., & Busch, C. (2020). Demographic Bias in Biometrics: A Survey on an Emerging Challenge. IEEE Transactions on Technology and Society1(2), 89–103. https://doi.org/10.1109/tts.2020.2992344

Investopedia. (2016). Biometrics

Malik, N. G. (2024). Biometric Authentication-Risks and advancements in biometric security systems. Journal of Computer Science and Technology Studies, 6(3), 159–180. https://doi.org/10.32996/jcsts.2024.6.3.14

Ogunwobi, E. (2025). Advancing financial security using behavioral biometrics and AI-Driven authentication. International Journal of Research Publication and Reviews, 6(3), 720–727. https://doi.org/10.55248/gengpi.6.0325.1121