https://unsplash.com/photos/green-leaf-with-water-drops-dXYE1d08BiY

Sustainability accounting memperluas cakupan akuntansi tradisional dengan memasukkan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam proses pengukuran, pelaporan, dan analisis kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya bukan hanya memenuhi kewajiban regulasi, melainkan juga menyediakan gambaran menyeluruh tentang bagaimana aktivitas bisnis memengaruhi lingkungan dan masyarakat, serta bagaimana risiko dan peluang terkait ESG dapat memengaruhi nilai jangka panjang perusahaan (Global Reporting Initiative, 2021).

Dalam praktik pelaporan sustainability, dua kerangka utama yang banyak diadopsi adalah standar Global Reporting Initiative (GRI) dan European Sustainability Reporting Standards (ESRS) di bawah naungan Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) Uni Eropa. GRI menyediakan pedoman terperinci untuk mengukur dampak lingkungan (misalnya emisi gas rumah kaca) dan sosial (misalnya hak pekerja) sehingga laporan dapat dibandingkan lintas industri (Global Reporting Initiative, 2021). Sementara CSRD mengharuskan perusahaan besar dan tercatat di UE untuk melaporkan kinerja ESG mereka sesuai ESRS yang di-develop oleh EFRAG, mencakup aspek materialitas ganda—yaitu bagaimana ESG memengaruhi perusahaan dan bagaimana perusahaan memengaruhi ESG—untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas lintas batas (European Financial Reporting Advisory Group, 2023).

Perkembangan teknologi memudahkan penerapan sustainability accounting. Platform ESG berbasis cloud—seperti Workiva (https://www.workiva.com), Enablon (https://www.wolterskluwer.com/en/solutions/enablon), dan SAP Sustainability Control Tower (https://www.sap.com/products/sustainability-control-tower.html)—menyediakan modul untuk otomatisasi pengumpulan data, kalkulasi metrik ESG, dan penyusunan dashboard interaktif real-time. Integrasi dengan sistem ERP memastikan bahwa data keuangan dan non-keuangan terkonsolidasi secara mulus, sehingga analisis tren lebih cepat dan mendalam (Dumay, Bernardi, Guthrie, & Demartini, 2022).

Manfaat utama penerapan sustainability accounting antara lain penurunan biaya modal akibat persepsi risiko yang membaik dan peningkatan reputasi perusahaan di mata investor serta konsumen (Velte, 2021). Dengan data ESG yang terukur, manajemen dapat merancang strategi mitigasi yang proaktif—misalnya diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah rawan bencana atau investasi pada energi terbarukan untuk menurunkan jejak karbon. Selain itu, laporan ESG yang transparan dapat membuka akses ke modal berkelanjutan, seperti green bonds atau sustainability-linked loans.

Di sisi lain, ada tantangan signifikan yang perlu diatasi. Pertama, ketersediaan dan kualitas data ESG masih sangat bervariasi antar-entitas dan wilayah, sehingga dibutuhkan protokol verifikasi dan audit yang ketat agar data dapat dipercaya. Kedua, harmonisasi antara berbagai kerangka pelaporan (misalnya GRI, CSRD/ESRS, SASB) memerlukan peta materialitas yang jelas agar perusahaan tidak membebani diri dengan pelaporan ganda yang tumpang tindih (SASB Standards, 2023). Ketiga, kompetensi SDM akuntansi dan IT harus ditingkatkan melalui pelatihan khusus untuk memahami metodologi dan teknologi baru.

Permintaan global untuk transparansi ESG terus meningkat, baik dari regulator, investor institusional, maupun konsumen akhir. Beberapa yurisdiksi di luar UE, seperti Inggris dan Kanada, juga tengah memperkuat regulasi pelaporan iklim mereka berdasarkan standar Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) yang dikeluarkan oleh Financial Stability Board (FSB) (TCFD, 2017). Dengan demikian, perusahaan multinasional harus merancang sistem sustainability accounting yang fleksibel dan terpadu agar dapat memenuhi berbagai persyaratan lokal dan internasional.

Mengadopsi sustainability accounting adalah langkah strategis untuk menciptakan nilai jangka panjang dan memperkuat daya saing di era di mana keberlanjutan menjadi faktor penentu keputusan bisnis. Dengan memadukan kerangka pelaporan yang mapan, teknologi terkini, dan komitmen manajemen, perusahaan dapat menavigasi kompleksitas ESG, mengelola risiko dengan lebih baik, sekaligus meraih kepercayaan dari semua pemangku kepentingan.


Daftar Referensi

Dumay, J., Bernardi, C., Guthrie, J., & Demartini, P. (2022). A systematic review of integrated reporting and ESG disclosure. Journal of Cleaner Production, 289, 125712. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2020.125712

European Financial Reporting Advisory Group. (2023). EFRAG draft endorsement advice on the European Sustainability Reporting Standards. https://www.efrag.org/News/Public-238/EFRAG-draft-endorsement-advice-on-the-ESRS

Global Reporting Initiative. (2021). GRI Standards. https://www.globalreporting.org/standards

SASB Standards. (2023). SASB Standards Overview. Sustainability Accounting Standards Board. https://www.sasb.org/standards-overview/

Task Force on Climate-related Financial Disclosures. (2017). Recommendations of the Task Force on Climate-related Financial Disclosures. https://www.fsb-tcfd.org/publications/final-recommendations-report/

Velte, P. (2021). The impact of sustainability reporting on firm value: A meta-analysis. Business Strategy and the Environment, 30(4), 1888–1900. https://doi.org/10.1002/bse.2735