{"id":8031,"date":"2021-04-21T14:04:35","date_gmt":"2021-04-21T07:04:35","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?p=8031"},"modified":"2021-04-30T09:24:05","modified_gmt":"2021-04-30T02:24:05","slug":"nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/","title":{"rendered":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada ranah arsitektur, konservasi adalah proses dimana individu atau suatu kelompok berusaha\u00a0 untuk melindungi nilai suatu bangunan dari perubahan yang tidak diinginkan<\/span><span style=\"font-weight: 400\">[1]<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Sedangkan interior\u00a0 desain adalah sebuah perencanaan tata letak dan perancangan ruang dalam di dalam bangunan. Keadaan\u00a0 fisiknya memenuhi kebutuhan dasar penggunanya akan naungan dan perlindungan, mempengaruhi\u00a0 bentuk aktivitas dan memenuhi aspirasi, serta mengekspresikan gagasan yang menyertai tindakan,\u00a0 disamping itu sebuah desain interior juga mempengaruhi pandangan, suasana hati dan kepribadian kita\u00a0 (Ching &amp; Binggeli, 2012) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">[1]<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa konservasi interior adalah\u00a0 proses melindungi nilai yang ada dalam suatu ruang dalam bangunan dengan tujuan menunjang fungsi,\u00a0 mempertahankan nilai estetis, serta meningkatkan psikologi pengguna di dalamnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di Indonesia, kegiatan konservasi interior begitu banyak digalakkan pada bangunan bekas\u00a0 penjajah, salah satu alasannya ialah karena bangunan tersebut dianggap memiliki nilai sejarah yang\u00a0 memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Alasan lainnya ialah\u00a0 bangunan peninggalan penjajah memiliki fungsi all-purpose yang fleksibel untuk digunakan memenuhi\u00a0 kebutuhan pekerjaan apapun. Dan, museum merupakan salah satu contoh populer yang ada di Indonesia.\u00a0 Museum sebagai sarana edukasi (memajang koleksi seni sekaligus artefak hasil perkembangan iptek dan\u00a0 budaya) merupakan bentuk bangunan yang dapat merepresentasikan keseluruhan pengetahuan dan\u00a0 budaya dalam lingkup nasional, seperti Museum Nasional Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Museum Nasional Indonesia sebagai museum pusat di Indonesia merupakan museum yang\u00a0 menampilkan keseluruhan budaya-budaya yang ada di Indonesia. Berawal dari perkumpulan peneliti\u00a0 asal Belanda yang menetap di Indonesia dan mengembangkan iptek disini, mereka menghasilkan\u00a0 pemikiran baru yang serta merta juga memengaruhi arsitektur dan interior yang ada di Indonesia, Dan,\u00a0 hal tersebut menjadi salah satu poin analisa yang menarik bagi penulis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada kongres majelis umum ICOM (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">International Council of Museum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) sebuah organisasi\u00a0 internasional dibawah UNESCO, menetapkan defenisi museum sebagai berikut: \u201cMuseum adalah\u00a0 sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat, terbuka\u00a0 untuk umum, memperoleh, mengawetkan, mengkomunikasikan dan memamerkan barang-barang\u00a0 pembuktian manusia dan lingkungan untuk tujuan pendidikan, pengkajian dan hiburan\u201d <\/span><span style=\"font-weight: 400\">[1]<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Berdasarkan\u00a0 rumusan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Internasional Council of Museums <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(ICOM) ada beberapa hal yang diutamakan dalam museum,\u00a0 antara lain:\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">1) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Dokumentasi dan penelitian\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">2) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Mengumpulkan dan menjaga warisan alam dan budaya\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">3) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Preservasi dan Konservasi\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">4) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Pemerataan dan penyebaran ilmu kepada masyarakat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">5) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Memperkenalkan dan menghayati kesenian\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">6) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Memperkenalkan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">7) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Visualisasi warisan alam dan budaya\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">8) <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Media untuk menyatakan syukur bagi Tuhan pemilik hidup kita\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan jenis koleksi, museum terbagi atas: (1) Museum Umum, terdiri dari kumpulan bukti\u00a0 material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan seni, disiplin ilmu dan teknologi. (2)\u00a0 Museum Khusus, terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan\u00a0 dengan salah satu cabang disiplin ilmu dan teknologi. Berdasarkan kedudukannya, museum terbagi atas:\u00a0 (1) Museum Nasional, terdiri atas kumpulan benda yang mewakili seluruh wilayah Indonesia. (2)\u00a0 Museum Provinsi, terdiri atas kumpulan-kumpulan benda yang mewakili dalam satu provinsi. (3)\u00a0 Museum Lokal, terdiri atas kumpulan-kumpulan benda yang mewakili dalam satu wilayah kabupaten\u00a0 atau kotamadya. Berdasarkan pengelolanya, museum terbagi atas: (1) Museum Pemerintah, dikelola\u00a0 oleh pemerintah. (2) Museum Swasta, dikelola oleh pihak swasta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 9 Tahun 1999 Bab IV, dijabarkan tolok ukur\u00a0 kriteria sebuah bangunan cagar budaya antara lain, (1) tolok ukur nilai sejarah, dikaitkan dengan\u00a0 peristiwa-peristiwa perjuangan, ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi simbol nilai kesejarahan\u00a0 pada tingkat nasional dan atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (2) Tolok ukur umur, dikaitkan dengan\u00a0 usia sekurang-kurangnya 50 tahun. (3) Tolok ukur keaslian, dikaitkan dengan keutuhan baik sarana dan\u00a0 prasarana lingkungan maupun struktur, material, tapak bangunan dan bangunan di dalamnya. (4) Tolok\u00a0 ukur tengeran atau landmark, dikaitkan dengan keberadaaan sebuah bangunan tunggal monument atau\u00a0 bentang alam yang dijadikan symbol dan wakil dari suatu lingkungan sehingga merupakan tanda atau\u00a0 tengeran lingkungan tersebut. (5) Tolok ukur arsitektur, dikaitkan dengan estetika dan rancangan yang\u00a0 menggambarkan suatu zaman dan gaya tertentu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dari kriteria dan tolok ukur di atas lingkungan cagar budaya diklasifikasikan dalam 3 golongan,\u00a0 yakni: (1) Golongan I: lingkungan yang memenuhi seluruh kriteria, termasuk yang mengalami sedikit\u00a0 perubahan tetapi masih memiliki tingkat keaslian yang utuh. (2) Golongan II: lingkungan yang hanya\u00a0 memenuhi 3 kriteria, telah mengalami perubahan namun masih memiliki beberapa unsur keaslian. (3) Golongan III: lingkungan yang hanya memenuhi 3 kriteria, yang telah banyak perubahan dan kurang\u00a0 mempunyai keaslian. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan Perda yang sama tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan\u00a0 dan Cagar Budaya, bangunan cagar budaya dari segi arsitektur maupun sejarahnya dibagi dalam 3 (tiga)\u00a0 golongan, yaitu (1) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan A. (2) Pemugaran Bangunan Cagar\u00a0 Budaya Golongan B. (3) Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan C.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Bangunan golongan A antara lain adalah sebagai berikut:\u00a0 (1) Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah. (2) Apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh,\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti\u00a0 semula sesuai dengan aslinya. (3) Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan\u00a0 yang sama \/ sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen\u00a0 bangunan yang telah ada. (4) Dalam upaya revitalisasi memungkinkan adanya penyesuaian atau\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya. (5) Di\u00a0 dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya memungkinkan adanya bangunan tambahan yang\u00a0 menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan B antara lain: (1) Bangunan dilarang dibongkar\u00a0 secara sengaja, dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat\u00a0 dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan asliny. (2)\u00a0 Pemeliharan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah pola tampak depan, atap, dan\u00a0 warna, serta dengan mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting. (3) Dalam upaya\u00a0 rehabilitasi dan revitalisasi memungkinkan adanya perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah\u00a0 struktur utama bangunan. (4) Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya\u00a0 bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan C antara lain: (1) Perubahan bangunan dapat\u00a0 dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan.\u00a0 (2) Detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam\u00a0 keserasian lingkungan. (3) Penambahan Bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat\u00a0 dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar\u00a0 budaya dalam keserasian lingkungan. (4) Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana Kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Metode Konservasi Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Burra Charter adalah sebagai berikut:\u00a0 (1) Pemeliharaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Maintenance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) adalah hal yang mendasar dalam konservasi, dimana pemeliharaan\u00a0 harus diambil ketika suatu bagian dianggap bermakna budaya dan harus dipertahankan melalui proses\u00a0 perawatan secara berkala untuk menjaga makna budaya tersebut. (2) Pelestarian (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Preservation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) adalah\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">proses konservasi dimana bangunan dipertahankan seperti kondisi awal ditemukan dikarenakan untuk menunjukkan. kondisi keadaan bagian (dari suatu tempat), namun kurangnya ada bukti-bukti makna\u00a0 budaya, yang memungkinkan untuk dilakukannya proses pemugaran. (3) Restorasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Restoration<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) adalah\u00a0 proses konservasi yang mana melibatkan bangunan dikembalikan seperti kondisi aslinya saat pertama\u00a0 kali berdiri dengan menggunakan material aslinya dan dilakukan apabila terdapat bukti yang cukup\u00a0 mengenai bentuk tempat pada awal mulanya. (4) Rekonstruksi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Reconstruction<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) dikatakan sebagai\u00a0 proses konservasi yang melibatkan bangunan yang diubah sebagian apabila suatu bangunan tidak utuh\u00a0 dikarenakan kerusakan atau mengalami perubahan (secara fisik), dan hanya jika terdapat bukti \u2013 bukti\u00a0 yang cukup untuk membuat ulang bentuk awal mulanya, namun tetap mempertahankan suatu makna\u00a0 budaya dari suatu bangunan. (5) Adaptasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Adaptation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) merupakan proses konservasi yang mana\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">melibatkan bangunan yang dialihfungsikan, namun memiliki dampak yang kecil terhadap perubahan\u00a0 makna budaya tempat tersebut. Adaptasi harus melibatkan perubahan yang minim terhadap bagian\u00a0 penting, yang mana hanya bisa didapatkan melalui pertimbangan solusi \u2013 solusi alternatif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bernama\u00a0 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada\u00a0 tanggal 24 April 1778. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(BG) merupakan\u00a0 lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu\u00a0 pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan\u00a0 sejarah, Berta menerbitkan hash penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cTen Nutte van het\u00a0 Algemeen\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(Untuk Kepentingan Masyarakat Umum). Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu J.C.M.\u00a0 Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan\u00a0 di Jakarta- Kota beserta sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna. Sumbangan\u00a0 Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung\u00a0 museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dutu disebut\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Koningsplein West<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868. Museum ini sangat\u00a0 dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya \u201cGedung\u00a0 Gajah\u201d atau \u201cMuseum Gajah\u201d karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu\u00a0 hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun\u00a0 1871. Kadang kala disebut juga \u201cGedung Arca\u201d karena di dalam gedung memang banyak tersimpan\u00a0 berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">koninklijk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u201d karena jasanya dalam bidang\u00a0 ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Koninklijk Bataviaasch Genootschap van\u00a0 Kunsten en Wetenschappen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Pada tanggal 26 Januari 1950, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Koninklijk Bataviaasch Genootschap van\u00a0 Kunsten en Wetenschappen <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Mengingat\u00a0 pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia, maka pada tanggal 17 September 1962 pengelolaan\u00a0 museum diserahkan kepada pemerintah Indonesia oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia, yang\u00a0 kemudian mengalami perubahan nama menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat\u00a0 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092\/ 0\/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum\u00a0 Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional <\/span><span style=\"font-weight: 400\">[1]<\/span><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Langgan gaya klasik eropa pada gedung Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu\u00a0 wujud pengaruh Eropa, terutama semangat Abad Pencerahan, yang muncul pada sekitar abad 18. Gedung ini dibangun pada tahun 1862 oleh pemerintah sebagai tanggapan atas perhimpunan Bataviaasch\u00a0 Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Visi dari Museum Nasional Indonesia adalah: Terwujudnya Museum Nasional Indonesia\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa,\u00a0 meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan nasional, serta memperkokoh persatuan\u00a0 dan persahabatan antar bangsa. Misinya adalah Mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber\u00a0 daya manusia yang profesional, dan sarana-prasarana di lingkungan Museum Nasional Indonesia yang\u00a0 berdampak pada peningkatan keamanan dan kenyamanan, meningkatkan penyajian informasi koleksi\u00a0 yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa serta menumbuhkan daya apresiatif, inovatif, dan\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">imajinatif, meningkatkan kualitas pemeliharaan dan penyajian koleksi yang mampu meningkat-kan\u00a0 pelestarian budaya dan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan nasional, meningkatkan kualitas\u00a0 pelayanan informasi yang berdampak pada peningkatan apresiasi masyarakat dan kunjungan ke Museum\u00a0 Nasional Indonesia, dan meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan registrasi dan dokumentasi\u00a0 melalui database koleksi dan kepustakaan yang mudah diakses oleh pengguna data\/user baik secara\u00a0 offline maupun online.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Museum Nasional Indonesia sebagai museum umum tingkat nasional, merupakan unit pelaksana\u00a0 teknis di lingkungan kementrian kebudayaan dan pariwisata, berkedudukan di bawah, dan bertanggung\u00a0 jawab kepada deputi bidang sejarah dan purbakala, Museum Nasional Indonesia dipimpin oleh seorang\u00a0 kepala museum.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-8032\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png\" alt=\"\" width=\"486\" height=\"289\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png 640w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-480x286.png 480w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-768x457.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21.png 941w\" sizes=\"auto, (max-width: 486px) 100vw, 486px\" \/>Berdasarkan data-data di atas, Museum Nasional Indonesia merupakan bangunan cagar budaya\u00a0 yang berdiri dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Bangunan Museum Pusat Nasional milik pemerintah,\u00a0 dimana pemerintah mengelola benda \u2013 benda peninggalan sejarah dari seluruh penjuru Indonesia yang\u00a0 dipajang di Museum Nasional. (2) Bangunan Cagar Budaya Golongan I, dimana bangunan ini\u00a0 mengalami sedikit perubahan dari segi arsitektural dan desain, serta keasliannya masih terjaga. (3) Bangunan Cagar Budaya Golongan C, dimana bangunan ini tetap mempertahankan keaslian fasad,\u00a0 arsitektur utama, dan bangunan, dapat mengubah fungsi asli (perpustakaan dan meeting club ke\u00a0 museum), serta penambahan bangunan baru yang mengikuti arsitektur aslinya (penambahan Gedung B).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Pre-1862\u00a0<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Museum Nasional\u00a0 menempati gedung\u00a0 lain dan berupa\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>perpustakaan\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>tertutup\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>1979\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Naik status menjadi\u00a0 Museum Nasional\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>1862-1868\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Pembangunan\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Museum Nasional\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>1962\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Berubah menjadi\u00a0 Museum Pusat,\u00a0 dikelola pemerintah\u00a0 pusat\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>1868\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Museum Nasional\u00a0 dibuka<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>1871\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Pemberian patung\u00a0 gajah oleh Rama V\u00a0<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan timeline, dapat dipastikan bahwa bangunan ini tidak mengalami perubahan yang\u00a0 berarti dari segi arsitektur, desain dan fungsi. Sejak awal didirikan, peralihan dari perpustakaan dan\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">meeting club <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">ke museum bukanlah perubahan yang besar, karena bangunan ini secara resmi diakui\u00a0 berdiri sebagai museum daripada perpustakaan tertutup milik peneliti Belanda yang tinggal di Indonesia.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Metode yang digunakan dalam konservasi bangunan ini adalah metode maintenance dan\u00a0 preservasi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Maintenance <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">didapat dari bukti terjaganya unsur \u2013 unsur nilai budaya yang terkandung di\u00a0 dalam ruang Museum Nasional. Sementara itu, preservasi didapat dari konsistennya fungsi ruang interior\u00a0 yang sejak dulu dipakai sebagai museum untuk memajang artefak dan koleksi sejarah milik peneliti\u00a0 Belanda hingga koleksi budaya seluruh Indonesia pasca kemerdekaan, serta keaslian unsur \u2013 unsur nilai\u00a0 budaya yang ada, baik dari fasad, bentuk atap, dan arsitektural utama, sehingga tidak boleh diubah-ubah\u00a0 karena bertentangan dengan ketentuan yang sudah melekat dengan bangunan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Konsep desain yang digunakan dalam konservasi bangunan ini adalah neo-classical dengan ciri\u00a0 khas pilar kolom era Yunani Kuno berjumlah genap yang memiliki keseimbangan simetris dan bertitik\u00a0 bebas, sehingga menghasilkan ruang terbuka di tengah ruangan yang dapat digunakan sebagai area\u00a0 sirkulasi. Selain itu, konsep ini juga memiliki warna dominan putih, warna konsep neo-classical kebarat\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">baratan yang wajib pada zamannya. Konsep ini dipertahankan beserta keaslian unsur \u2013 unsur nilai\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">budaya yang ada, baik dari fasad, bentuk atap, dan arsitektural utama, sehingga tidak boleh diubah-ubah\u00a0 karena bertentangan dengan ketentuan yang sudah melekat dengan bangunan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>REFERENSI\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">[1] <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">Griffith, Richard (2010) &#8216;Listed building control? A critique of historic building\u00a0 administration&#8217;, Cultural Trends, 19: 3, p.192\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">[2] <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.museumnasional.or.id\/, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">diakses pada tanggal 27 Januari 2019.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">[3] <\/span><span style=\"font-weight: 400\">h<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ttps:\/\/cagarbudaya.kemdikbud.go.id\/public\/objek\/detailcb\/PO2016030200013\/gedung-a museum-nasional, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">diakses pada tanggal 27 Januari 2019.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada ranah arsitektur, konservasi adalah proses dimana individu atau suatu kelompok berusaha\u00a0 untuk melindungi nilai suatu bangunan dari perubahan yang tidak diinginkan[1]. Sedangkan interior\u00a0 desain adalah sebuah perencanaan tata letak dan perancangan ruang dalam di dalam bangunan. Keadaan\u00a0 fisiknya memenuhi kebutuhan dasar penggunanya akan naungan dan perlindungan, mempengaruhi\u00a0 bentuk aktivitas dan memenuhi aspirasi, serta mengekspresikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[121],"tags":[],"class_list":["post-8031","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-interior-design"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-04-21T07:04:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-30T02:24:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"cmcbinus\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"cmcbinus\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\"},\"author\":{\"name\":\"cmcbinus\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\"},\"headline\":\"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA\",\"datePublished\":\"2021-04-21T07:04:35+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T02:24:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\"},\"wordCount\":2102,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png\",\"articleSection\":[\"Interior Design\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\",\"name\":\"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png\",\"datePublished\":\"2021-04-21T07:04:35+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T02:24:05+00:00\",\"description\":\"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21.png\",\"width\":941,\"height\":560},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"width\":140,\"height\":84,\"caption\":\"BINUS UNIVERSITY\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\",\"name\":\"cmcbinus\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"cmcbinus\"},\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","og_description":"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini","og_url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/","og_site_name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","article_published_time":"2021-04-21T07:04:35+00:00","article_modified_time":"2021-04-30T02:24:05+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png"}],"author":"cmcbinus","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"cmcbinus","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/"},"author":{"name":"cmcbinus","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c"},"headline":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA","datePublished":"2021-04-21T07:04:35+00:00","dateModified":"2021-04-30T02:24:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/"},"wordCount":2102,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png","articleSection":["Interior Design"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/","name":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21-640x381.png","datePublished":"2021-04-21T07:04:35+00:00","dateModified":"2021-04-30T02:24:05+00:00","description":"Simak artikel terbaru dari BINUS Bandung di halaman berikut ini","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#primaryimage","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21.png","contentUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Picture21.png","width":941,"height":560},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/nalisis-konservasi-pada-museum-nasionaal-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"ANALISIS KONSERVASI PADA MUSEUM NASIONAAL INDONESIA"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization","name":"BINUS UNIVERSITY","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","contentUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","width":140,"height":84,"caption":"BINUS UNIVERSITY"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c","name":"cmcbinus","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","caption":"cmcbinus"},"url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8031","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8031"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8031\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8073,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8031\/revisions\/8073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8031"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8031"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8031"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}