{"id":8006,"date":"2021-04-21T13:25:37","date_gmt":"2021-04-21T06:25:37","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?p=8006"},"modified":"2021-04-30T09:25:35","modified_gmt":"2021-04-30T02:25:35","slug":"kritik-pendidikan-desain-pragmatik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/","title":{"rendered":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Oleh: Bayu R. W. Edward S.Ds., M.Ds.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Interior Design School Of Design Binus\u00a0 University\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Desain, sebuah kata yang tidak bisa disebut baru\u00a0 lagi di Indonesia. Sejak kehadirannya secara\u00a0 resmi sebagai salah satu bidang keilmuan pada\u00a0 zaman penjajahan, kini istilah desain telah\u00a0 semakin akrab di telinga masyarakat baik dalam\u00a0 pengertian yang tepat ataupun meleset.\u00a0 Ditambah lagi, perubahan zaman sangat\u00a0 berperan penting dalam meramaikan dan\u00a0 menyadarkan banyak pihak terhadap peran keahlian desain dalam perputaran roda\u00a0 peradaban. Desain kini di telinga masyarakat\u00a0 Indonesia, adalah bak lencana simbol kekinian\u00a0 syarat untuk sebuah pangkat eksistensi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Animo dan opini masyarakat terhadap bidang\u00a0 desain-pun berkembang. Para siswa SMA yang\u00a0 bersiap untuk memutuskan arah masa depan\u00a0 mereka, menjadikan bidang desain sebagai\u00a0 pilihan. Dengan segala kemeriahan dan\u00a0 glamornya berita mengenai desain-desain baru\u00a0 yang bermunculan, tidak luput juga cerita\u00a0 tentang para desainernya sendiri yang\u00a0 digambarkan begitu \u2018keren\u2019, membuat siswa siswa sekaligus orang tua mereka semakin\u00a0 mantap untuk menjajal pendidikan desain di\u00a0 kampus-kampus ternama di Indonesia. Apa yang\u00a0 menjadi harapan mereka adalah betapa\u00a0 persisnya \u2018kekerenan\u2019 yang mereka lihat akan\u00a0 juga terjadi pada anak-anak mereka kelak.\u00a0 Betapa hebatnya ketika produk ataupun tempat tempat bergaya di masa depan merupakan hasil\u00a0 dari karya anak-anak mereka. Dan tentu saja,\u00a0 betapa makmurnya mereka ketika jutaan orang\u00a0 menggunakan karya anak-anak mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Harapan-harapan tersebut sayangnya jarang\u00a0 diikuti dengan bayangan mengenai akan seperti\u00a0 apakah pendidikan desain yang dijalani oleh\u00a0 anak-anak mereka? Pelajaran seperti apa yang\u00a0 akan didapatkan dan menjadi keahlian anak anak mereka sebagai seorang desainer?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kebanyakan orang tua yang memasukkan anak anaknya ke kampus desain setidaknya\u00a0 mengetahui sesuatu yakni bahwa anak-anak\u00a0 mereka akan pintar menggambar. Atau lebih\u00a0 spesifik lagi, bila masuknya ke desain produk\u00a0 maka akan pintar menggambar benda, jika\u00a0 masuknya ke desain interior akan pintar\u00a0 menggambar ruang yang indah, jika masuknya\u00a0 ke desain komunikasi visual akan pintar\u00a0 menggambar poster atau pada kaos.\u00a0 Pragmatisnya pemahaman masyarakat terhadap\u00a0 desain yang seperti ini tidak bisa disalahkan.\u00a0 Namun jika kita pahami secara fenomenologi,\u00a0 maka citra adalah refleksi dari kondisi sebenarnya, sehingga cerminnya ialah metode\u00a0 atau formula yang membentuk citra. Maka\u00a0 untuk kasus ini, apakah citra pragmatisnya\u00a0 desain di masyarakat memanglah cerminan dari\u00a0 pragmatisnya pendidikan desain di Indonesia? Ataukah akibat kesalahan pada metode\u00a0 penyampaian (iklan, branding, dll.) sehingga\u00a0 citra pragmatis tersebut sesungguhnya distorsi\u00a0 dari pendidikan desain yang nyatanya esensial?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tulisan ini saya buat dalam kapasitas saya\u00a0 sebagai pengajar desain, praktisi desain\u00a0 (berprofesi, berkarya dan menyampaikan karya\u00a0 ke masyarakat), dan tentu saja pernah juga\u00a0 sebagai pelajar desain. Lima tahun pendidikan\u00a0 sarjana desain, dan 3 tahun pendidikan magister\u00a0 desain, mengajar desain sejak 8 tahun lalu, dan\u00a0 berdagang desain sejak 11 tahun lalu. Tulisan ini\u00a0 merupakan analisis reflektif terhadap ketiga\u00a0 sektor tersebut, yaitu pelajar, pengajar, dan\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Maret 2021 Bayu R.W. Edward S.Ds., M.Ds.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">2\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">realita lapangan dalam lingkup dan rentang\u00a0 waktu saya dalam menggeluti bidang desain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mari kembali pada topik pragmatika pendidikan\u00a0 desain. Pragmatis, adalah sebutan bagi suatu\u00a0 perbuatan ataupun pikiran yang dilakukan tanpa\u00a0 disertai pemahaman esensial dari perbuatan\u00a0 atau pikiran tersebut. Sehingga dalam konteks\u00a0 tulisan ini yaitu pendidikan desain, maka dapat\u00a0 dipahami sebagai belajar dan mengajar desain\u00a0 tanpa disertai pemahaman esensial terhadap\u00a0 desain itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika kita tarik secara mendalam, pengertian\u00a0 desain bisa kita lihat dari tiga tingkatan\u00a0 pemahaman. Pertama, secara permukaan.\u00a0 Desain didefinisikan sebatas pada apa yang\u00a0 terlihat saja. Sehingga pengertian desain pada\u00a0 tingkatan ini bisa diartikan sebagai ilmu\u00a0 menggambar, ilmu membuat, ilmu pertukangan,\u00a0 ilmu menghias, ilmu mengoperasikan alat, dan\u00a0 padanan pragmatis lainnya. Kedua, secara\u00a0 intelektual. Desain dapat diartikan sebagai ilmu\u00a0 dalam menerapkan metode analisa tertentu dalam menghasilkan sintesa (gagasan atau ide),\u00a0 ilmu merekayasa (pemikiran, gagasan, metode).\u00a0 Sederhananya pada tingkatan intelektual, desain\u00a0 diartikan sebagai olah cipta melalui rekayasa\u00a0 pemikiran (olah pikir) dan rekayasa metode atau\u00a0 proses. Pada tingkatan ini, pengertian desain\u00a0 sebagai ilmu menggagas bisa disematkan.\u00a0 Ketiga, pada pemahaman tingkat filosofis.\u00a0 Pengertian desain pada tingkatan ini diambil dari\u00a0 latar belakang sehingga ilmu ini muncul, dan\u00a0 tujuan dari ilmu tersebut. Pada tingkatan ini,\u00a0 desain terbebas dari pengkotak-kotakkan\u00a0 metode dan tampilan (desain interior, desain\u00a0 produk, arsitektur, desain grafis, desain fashion,\u00a0 UI UX, dll.). Pengertian desain ialah ilmu yang\u00a0 mencakup keseluruhan tingkatan diatas sebagai\u00a0 produk dari fitrah kreatifitas manusia. Artinya desain, berinduk pada kreatifitas. Tanpa\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">kreatifitas, sesuatu tidak dikatakan desain ataupun mendesain. Dengan demikian, secara\u00a0 tidak langsung, pemahaman seseorang terhadap\u00a0 desain bergantung juga pada sejauh mana\u00a0 pemahaman mereka tentang kreatifitas. Sebagai\u00a0 contoh, jika kreatifitas diartikan sebagai \u2018beda\u2019,\u00a0 maka penekanan desain ada pada ke-unikan. Jika\u00a0 kreatifitas diartikan sebagai solutif, maka\u00a0 penekanan desain ada pada tingkat inovasi. Jika\u00a0 kreatifitas dipahami sebagai \u2018good will\u2019, maka\u00a0 penekanan desainnya ada pada tujuan\u00a0 komprehensif mengenai kemanfaatannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika desain telah dipahami pada tingkat ketiga,\u00a0 maka pengertian desain akan berupa cakupan,\u00a0 bukan spesifikasi, akan berupa alur berputar berkesinambungan, bukan tahapan linear. Seperti diungkapkan oleh John Heskett tentang\u00a0 pengertian desain, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Design is to design a design,\u00a0 to produce a design<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sedemikian dalam tingkatan dalam ilmu desain\u00a0 maka sudah sepatutnya pelaksanaan pendidikan\u00a0 desain pun tidak bisa hanya sebatas permukaan\u00a0 belaka. Seseorang yang digelari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">desainer\u00a0 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sepatutnya memenuhi ketiga tingkatan tersebut,\u00a0 artinya ia adalah pakar dalam mewujudkan\u00a0 desain, pakar dalam menggunakan metode\u00a0 dalam menggagas, dan berangkat dari\u00a0 mentalitas kreatifitas yang baik. Bahasa\u00a0 mudahnya mungkin seperti ini, mampu\u00a0 membuat, mampu menggagas, dan bermental\u00a0 kreatif. Dengan demikian, dalam melaksanakan\u00a0 pendidikan desain, setidaknya harus\u00a0 mengandung ketiga elemen berikut yakni, teknik mengkonstruksikan gagasan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">how to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), metode menghasilkan gagasan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">what to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), dan kreatifitas\u00a0 dalam melihat persoalan sebagai latar belakang\u00a0 filosofis (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">why<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Memang terdengar berat, tapi\u00a0 bisa diatur dan disesuaikan tingkat kesulitan pada tiap elemennya tanpa mengabaikan salah\u00a0 satu dari ketiga elemen tersebut.<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Maret 2021 Bayu R.W. Edward S.Ds., M.Ds.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">3\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Penguasaan hanya terhadap tingkat pertama\u00a0 saja akan menjadikan mahasiswa mahir dalam\u00a0 membuat tapi lemah dalam menggagas. Ini\u00a0 menjadikan mahasiswa kelak hanya akan\u00a0 mampu mengoperasikan saja. Penguasaan\u00a0 hanya terhadap tingkatan kedua saja akan\u00a0 menjadikan mahasiswa mahir menggagas hal\u00a0 yang unik dan berbeda, namun tidak cukup bijak\u00a0 untuk memastikan nilai-nilai kebaikan dari\u00a0 gagasannya, keberlanjutan, dan cenderung\u00a0 egosentris. Penguasaan hanya pada tingkat\u00a0 ketiga saja akan menjadikan mahasiswa kritis\u00a0 terhadap banyak hal, namun lemah dalam\u00a0 mewujudkan pemikirannya kedalam karya,\u00a0 sehingga niat hanyalah niat, pemikiran hanyalah\u00a0 pemikiran, tanpa perwujudan dan manfaat yang\u00a0 sampai ke masyarakat. Dan sebaliknya, jika pengajaran desain menerapkan dua tingkatan saja, maka kelemahannya ada pada tingkatan\u00a0 yang ditinggalkan. Mengabaikan tingkatan\u00a0 pragmatic, menjadikan mahasiswa hanya bisa\u00a0 berhipotesa tanpa implementasi nyata sehingga\u00a0 kemanfaatan tidak sampai ke sasarannya.\u00a0 Mengabaikan tingkatan intelektual,\u00a0 menyebabkan desain yang justru\u00a0 membahayakan keselamatan. Dan mengabaikan\u00a0 tingkatan filosofis akan menjadikan desain yang\u00a0 dilandasi niatan jahat (evil design).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Melihat situasi negara kita yang sudah bervisi\u00a0 akan kemajuan dan kemandirian secara\u00a0 teknologi industri, digitalisasi, dan informasi maka kampus-kampus desain diharapkan tidak\u00a0 mempersiapkan dirinya hanya sebatas penyedia\u00a0 operator-operator sebagaimana terjadi ketika\u00a0 dunia sedang ada di era industri dimana sarjana\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">sarjana dihasilkan hanya untuk mampu\u00a0 mengoperasikan mesin-mesin yang diciptakan\u00a0 negara-negara maju. Kampus desain harus\u00a0 menghasilkan desainer-desainer yang orisinil,\u00a0 asli, cerdas, bijaksana, dan betul-betul \u2018baik\u2019. Berani menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">trend setter <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">bukan takut salah\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">apabila tidak sesuai dengan tren. Semangat dan komitmen dalam berproses, bukan spesialis jalan pintas dan instan. Mendesain untuk alam\u00a0 semesta dan isinya, bukan sekedar ekspresi diri.\u00a0 Bukan seorang futuris, kontemporer, ataupun\u00a0 konservatif, melainkan menjadikan ketiganya\u00a0 semata-mata sebagai bahan pertimbangan\u00a0 untuk sebuah desain yang bijaksana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai penutup, setidaknya, mulai benahi\u00a0 kurikulum pendidikan desain sehingga\u00a0 mengandung ketiga tingkatan tersebut agar para\u00a0 pengajar desain tidak mengeluhkan\u00a0 perbuatannya sendiri di masa depan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Bayu Edward\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Maret, 2021\u00a0<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Maret 2021 Bayu R.W. Edward S.Ds., M.Ds. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Bayu R. W. Edward S.Ds., M.Ds.\u00a0 Interior Design School Of Design Binus\u00a0 University\u00a0 Desain, sebuah kata yang tidak bisa disebut baru\u00a0 lagi di Indonesia. Sejak kehadirannya secara\u00a0 resmi sebagai salah satu bidang keilmuan pada\u00a0 zaman penjajahan, kini istilah desain telah\u00a0 semakin akrab di telinga masyarakat baik dalam\u00a0 pengertian yang tepat ataupun meleset.\u00a0 Ditambah lagi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[121],"tags":[],"class_list":["post-8006","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-interior-design"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-04-21T06:25:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-30T02:25:35+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"cmcbinus\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"cmcbinus\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\"},\"author\":{\"name\":\"cmcbinus\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\"},\"headline\":\"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK\",\"datePublished\":\"2021-04-21T06:25:37+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T02:25:35+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\"},\"wordCount\":1209,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Interior Design\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\",\"name\":\"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\"},\"datePublished\":\"2021-04-21T06:25:37+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T02:25:35+00:00\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"width\":140,\"height\":84,\"caption\":\"BINUS UNIVERSITY\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\",\"name\":\"cmcbinus\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"cmcbinus\"},\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","og_description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","og_url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/","og_site_name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","article_published_time":"2021-04-21T06:25:37+00:00","article_modified_time":"2021-04-30T02:25:35+00:00","author":"cmcbinus","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"cmcbinus","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/"},"author":{"name":"cmcbinus","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c"},"headline":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK","datePublished":"2021-04-21T06:25:37+00:00","dateModified":"2021-04-30T02:25:35+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/"},"wordCount":1209,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"articleSection":["Interior Design"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/","name":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website"},"datePublished":"2021-04-21T06:25:37+00:00","dateModified":"2021-04-30T02:25:35+00:00","description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2021\/04\/kritik-pendidikan-desain-pragmatik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"KRITIK PENDIDIKAN DESAIN PRAGMATIK"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization","name":"BINUS UNIVERSITY","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","contentUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","width":140,"height":84,"caption":"BINUS UNIVERSITY"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c","name":"cmcbinus","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","caption":"cmcbinus"},"url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8006"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8006\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8080,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8006\/revisions\/8080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}