{"id":3559,"date":"2019-04-12T15:45:05","date_gmt":"2019-04-12T08:45:05","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?p=3559"},"modified":"2023-08-15T10:46:50","modified_gmt":"2023-08-15T03:46:50","slug":"sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/","title":{"rendered":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game"},"content":{"rendered":"<h1><strong>Awal Mula Sejarah Virtual Reality di Bidang Game<\/strong><\/h1>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3561 size-full\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ccc.png\" alt=\"\" width=\"553\" height=\"178\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Virtual Reality adalah teknologi dimana pengguna berinteraksi dengan lingkungan 3 Dimensi yang disimulasikan oleh komputer seakan-akan membuat pengguna merasa berada di dalam dunia nyata<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Virtual Reality menciptakan ilusi seolah olah kita hadir di tempat non fisik dalam waktu dan tempat yang sama. Tujuannya ialah untuk membantu simulasi sesuatu yang sulit untuk dihadirkan secara langsung agar menjadi lebih praktis dan menghemat biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada mulanya di abad ke 19, Virtual Reality adalah lukisan mural atau lukisan panorama untuk memberikan keseluruhan bidang penglihatan para penonton, sehingga membuat mereka merasa hadir dalam pemandangan lukisan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1929, Edward Link menciptakan contoh pertama simulator penerbangan komersial yang dikendalikan dengan motor yang terhubung ke kemudi dan kolom kemudi untuk memodifikasi pitch and roll hal ini digunakan untuk pelatihan penerbangan pesawat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1950 Cinematographer Morton Heilig Mengembangkan Sensorema<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1950, seorang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">cinematographer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang bernama Morton Heilig mengembangkan Sensorema yang merupakan sebuah teater dengan gaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">arcade<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dapat merangsang semua indera seperti penglihatan dan pendengaran yang dinamakan Sensorama. Tak hanya speaker dan layar tetapi kipas angin dan kursi bergetar yang bertujuan memberikan sensasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fully<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8211;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">immersive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> kepada setiap orang dalam film pendek buatan Heilig yang berjudul \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Motorcycle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Belly<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Dancer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Helicopter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">A<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Date<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">with Sabrina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">dan I\u2019m a Coca Cola Bottle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">!\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/creativepreneurship\/2023\/06\/22\/mengenal-sosial-bisnis-sociopreneurship-social-enterprise-2\/\">Mengenal Sosial Bisnis Sociopreneurship Social Enterprise<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1960 Morton Heilig Menemukan Telesphere Mask\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada 1960, Morton Heilig menemukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Telesphere<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Mask<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan contoh pertama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Head-Mounted Display<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (HMD), hal ini diciptakan untuk film yang tidak melibatkan interaksi tanpa sensor gerak. Headset tersebut menyediakan stereocospic 3D dan visi yang besar dengan suara stereo.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1961 Dua orang ahli mesin dari Philco Corporation (Comeau dan Bryan)\u00a0 <\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dua orang ahli mesin dari Philco Corporation (Comeau dan Bryan) pada tahun 1961 mengembangkan precursor pertama untuk HMD yang sekarang kita tahu &#8211; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">the<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Headsight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Alat ini bekerja sama dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">video<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">screen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk setiap mata dan sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">magnetic<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">motion<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">tracking<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">systems<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang terhubung dengan sirkuit kamera. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Headsight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sebenarnya tidak dikembangkan khusus untuk aplikasi VR tetapi memberikan akses untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">immersive<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">remote<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">viewing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk situasi berbahaya dalam militer. Pergerakan kepala akan menimbulkan gerak pada kamera remot, mengizinkan pengguna untuk melihat sekeliling lingkungan secara natural.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1968 Ivan Sutherland bersama muridnya Bob Sproull membuat HMD ( Head Mounted Display )\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1968, Ivan Sutherland bersama muridnya Bob Sproull membuat HMD ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Head Mounted Display<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ) \u00a0yang dapat terhubung dengan komputer dan kamera , tetapi kelemahannya yaitu alat yang di pakai oleh pengguna \u00a0terlalu berat sehinggak alat tersebut harus di tempelkan di langit-langit. Grafik yang dihasilkan berupa ruang dan bingkai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wireframe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang sangat primitif<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1969 Myron Krueger seorang artis VR Computer<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1969, Myron Kruegere seorang artis VR Computer mengembangkan seri dari pengalaman yang ia namakan \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Artificial<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Reality\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dimana ia mengembangkan lingkungan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">computer-generated<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang memberi respon kepada orang yang berada di dalamnya. Projek tersebut dinamakan Glowflow, \u00a0Metaplat, \u00a0dan Psychic space merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">progress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk penelitiannya yang memberi jalan untuk pengembangan teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">video place<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Teknologi ini dapat \u00a0membantu orang-orang untuk berkomunikasi satu sama lain dalam lingkungan yang diciptakan komputer walau terpisah jarak yang jauh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1982, Thomas A. Furness II Menciptakan Simulasi Virtual Flight<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1982, Thomas A. Furness II menciptakan sebuah simulasi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> virtual flight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang bernama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Visually Coupled Airborne Systems Simulator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (VCASS) atau dikenal juga dengan nama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Super<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Cockpit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Ini merupakan sebuah helm pilot yang dapat memberikan grafis dengan resolusi tinggi yang ditampilan pada lensa yang \u00a0berada di helm pilot, tujuannya adalah untuk melatih para pilot untuk menerbangkan pesawat tanpa memikirkan resiko tinggi dan dapat menghemat biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Walaupun dengan berkembangnya VR, namun bidang ini belum memiliki nama. Hal ini berubah pada 1987 saat Jaron Lanier seorang pendiri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The Visual Programming Lab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (VPL), mengenalkan istilah \u201cVirtual Reality\u201d. Area penilitian yang sekarang bernama VR, lewat perusahaannya VPL <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">research<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, Jaron mengembangkan alat VR termasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Dataglove<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (bersama Tom Zimmerman) dan \u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">EyePhone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> HMD.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1991 The Virtuality Group meluncurkan berbagai arcade games dan\u00a0perangkat permainan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1991, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The Virtuality Group<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> meluncurkan berbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">arcade<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">games<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan perangkat permainan. Pemain akan mengenakan set kacamata VR dan bermain di dalam mesin game secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">real time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">immersive<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">stereoscopic 3D visuals<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Beberapa unit terhubung bersama untuk memberikan pengalaman <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">multi-player<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">gaming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The Lawnmower Man<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mengenalkan konsep dari VR kepada penonton yang lebih besar pada 1992. Film ini bercerita tentang pendiri VR, HJaron Lanier. Jaron diperankan oleh Pierce Brosnan, ilmuwan yang menggunakan terapi VR untuk pasien dengan keterbatasan mental. Alat VR sungguhan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">VPL Research Labs<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> digunakan dalam film ini. Sutradara Brett Leonard, mengakui mendapatkan inspirasi dari perusahaan seperti VPL.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun \u00a01993, perusahaan SEGA memperkenalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Headset<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk konsol Sega Genesis pada tahun 1993 di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Consumer Electronica Show<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Alat ini di lengkapi dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Head Motion Traking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, suara stereo dan juga layar LCD di visor.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 1999, Wachowski bersaudara memerankan The Matrix yang sangat\u00a0terkenal di teater<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1999, Wachowski bersaudara memerankan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The Matrix<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang sangat terkenal di teater. Film tersebut menyuguhkan karakter yang tinggal di dalam dunia yang seutuhnya di simulasi, yang mana mereka benar-benar tidak sadar bahwa mereka tidak tinggal dalam dunia nyata. Walaupun beberapa film sebelumnya sudah mengenalkan tentang VR seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Tron<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tahun 1982 dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Lawnmower Man<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tahun 1992, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">Matrix<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mempunyai peran utama dalam pengaruh budaya dan membawa topik tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">virtual<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">reality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> menjadi hal yang biasa bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2001, SAS Cube (SAS3) dibuat oleh Z-A Production\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2001, SAS Cube (SAS3) dibuat oleh Z-A Production yang didirikan oleh Maurice Benayoun, David Nahon, Barco, dan Clarte menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">PC based cubic room<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang pertama. Dari Perpustakaan SAS ini dibuatlah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Virtools VR Pack<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2007 Google Memperkenalkan Google Street Viewer<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Google mengenalkan fitur terbaru yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Street View<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> pada tahun 2007. Dengan fitur ini, pengguna dapat melihat pemandangan panorama sesuai dengan posisi yang diinginkan. Melalui fitur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Street<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">View<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, akan terlihat dengan cukup jelas letak jalan, kondisi lingkungan, bangunan dalam ruangan, hingga daerah pedesaan seperti aslinya. Dilanjutkan pada tahun 2010, Street View dilengkapi dengan moda Stereoscopic 3D.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2010, Oculus Rift menjadi purwa-rupa atau prototype untuk VR\u00a0Headset<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2010, Oculus Rift menjadi purwa-rupa atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">prototype<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk VR Headset yang didesain oleh Palmer Luckey walaupun pada saat itu Oculus Rift hanya mampu untuk memindai pergerakan rotasi. Namun keunggulannya adalah pengguna dapat melihat keadaan lingkungan dalam jangkauan 90 dejarat yang sebelumnya tidak dapat dirasakan oleh pengguna pada masa itu. Sejak saat itu, Oculus Rift digunakan untuk menjadi model dasar untuk pengembangan HMD berikutnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2011 Sampai Sekarang Perangkat Virtual Reality Semakin Banyak<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2011 sampai sekarang perangkat Virtual Reality semakin banyak bermunculan mulai dari merk ternama seperti samsung, Valve, Oculus Rift, Google Cardboard, HTC Vive, dan merk lainnya mulai memasuki pasar. Spesifikasi yang diberikan oleh perangkat tersebut pun hampir mirip dan kebanyakan sudah memberikan grafik dan resolusi tinggi. Perangkat Virtual Reality pada zaman sekarang lebih berfokus pada pembuatan game yang membuat penguna masuk kedalam game tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2013 VR Semakin Berkembang dengan Adanya Tampilan Persistensi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2013 VR semakin berkembang dengan adanya tampilan persistensi rendah yang membuat lama sebuah objek tampil ke layar menjadi lebih baik yang mengakibatkan tanpa lag dan objek yang jelas. Penemuan ini ditemukan oleh Valve Corporation dan selanjutnya di adopsi oleh Oculus dan digunakan pada proyek headset mereka. Di awal tahun 2014, prototype dari SteamSight dipamerkan oleh Valve yang dilengkapi fitur \u00a0pelacakan posisi di area yang luas, persistensi rendah, tampilan pemisah 1K per mata, dan lensa fresnal.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2014 Perusahaan Oculus Merilis Sebuah Perangkat VR<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada Januari 2014, perusahaan Oculus merilis sebuah perangkat VR yang merupakan penyempurnaan dari perangkat-perangkat sebelumnya, yang dinamakan Crystal Cove.Perangkat ini menggunakan layar tipe OLED yang lebih fleksibel serta hemat dibandingkan layar LED.Selain itu, ada kamera eksternal yang terpisah dari perangkat ini untuk mendeteksi titik infra merah yang ada di sekujur headset VR nya.Fungsinya adalah agar pergerakan user dapat dideteksi secara lebih detail.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-3564 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\" alt=\"\" width=\"537\" height=\"359\" \/><\/p>\n<h2><strong>Pada 18 Maret \u00a02014, Perusahaan Sony merilis sebuah perangkat <i>headset <\/i>Virtual Reality<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada 18 Maret \u00a02014, Perusahaan Sony merilis sebuah perangkat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">headset <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Virtual Reality dengan nama \u201cProject Morpheus\u201d yang didukung dengan perangkat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">PlayStation <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">4.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2015, perusahaan HTC dan Valve merilis sebuah headset VR yang dinamakan HTC Vive<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2015, perusahaan HTC dan Valve merilis sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">headset <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">VR yang dinamakan HTC Vive.HTC Vive ini memiliki lensa Binocular dengan resolusi 1080 x 1200p.HTC Vive ini menggunakan teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tracking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang memungkinkan user untuk melakukan navigasi secara natural dengan berjalan keliling, sekaligus teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">motion-tracked hand controllers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang memungkinkan user untuk dapat memanipulasi obyek dan berinteraksi dengan lingkungan VR tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, perusahaan Google juga merilis Google Cardboard.Perangkat ini disinkronkan dengan sebuah smartphone.Perangkat ini memiliki akses yang mudah untuk bereksperimen dengan dunia virtual.Pada 15 September 2015, \u201cProject Morpheus\u201d diubah namanya secara resmi menjadi PlayStation VR.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahun 2016, HTC merilis sebuah perangkat yang dinamakan HTC Vive Steam VR headset<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 2016, HTC merilis sebuah perangkat yang dinamakan HTC Vive Steam VR headset.Perangkat ini merupakan perangkat pertama yang menonjolkan teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sensor-based tracking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> , yang memudahkan user untuk bergerak sebebasnya dengan lingkungan yang sudah ditentukan.Pada tahun 2017, Sony merancang sebuah perangkat yang menggunakan teknologi mirip Vive untuk PlayStation VR, dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wireless headset<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penulis: Alya Naila Hasni, Felia Putri, Charlene Mariscal, Novita Gunawan<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awal Mula Sejarah Virtual Reality di Bidang Game Virtual Reality adalah teknologi dimana pengguna berinteraksi dengan lingkungan 3 Dimensi yang disimulasikan oleh komputer seakan-akan membuat pengguna merasa berada di dalam dunia nyata. Virtual Reality menciptakan ilusi seolah olah kita hadir di tempat non fisik dalam waktu dan tempat yang sama. Tujuannya ialah untuk membantu simulasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3564,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[92,46],"tags":[],"class_list":["post-3559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-news"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-04-12T08:45:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-08-15T03:46:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"245\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"164\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"cmcbinus\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"cmcbinus\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\"},\"author\":{\"name\":\"cmcbinus\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\"},\"headline\":\"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game\",\"datePublished\":\"2019-04-12T08:45:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-08-15T03:46:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\"},\"wordCount\":1456,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\",\"articleSection\":[\"Article\",\"News\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\",\"name\":\"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\",\"datePublished\":\"2019-04-12T08:45:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-08-15T03:46:50+00:00\",\"description\":\"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png\",\"width\":245,\"height\":164},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif\",\"description\":\"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization\",\"name\":\"BINUS UNIVERSITY\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png\",\"width\":140,\"height\":84,\"caption\":\"BINUS UNIVERSITY\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c\",\"name\":\"cmcbinus\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"cmcbinus\"},\"url\":\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","og_description":"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.","og_url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/","og_site_name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","article_published_time":"2019-04-12T08:45:05+00:00","article_modified_time":"2023-08-15T03:46:50+00:00","og_image":[{"width":245,"height":164,"url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png","type":"image\/png"}],"author":"cmcbinus","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"cmcbinus","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/"},"author":{"name":"cmcbinus","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c"},"headline":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game","datePublished":"2019-04-12T08:45:05+00:00","dateModified":"2023-08-15T03:46:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/"},"wordCount":1456,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png","articleSection":["Article","News"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/","name":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game | BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","isPartOf":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png","datePublished":"2019-04-12T08:45:05+00:00","dateModified":"2023-08-15T03:46:50+00:00","description":"Virtual Reality adalah teknologi yang disimulasikan dengan lingkungan 3 Dimensi. Pelajari selengkapnya di artikel berikut.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#primaryimage","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png","contentUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/ddd.png","width":245,"height":164},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/2019\/04\/sejarah-virtual-reality-dalam-bidang-game\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Virtual Reality Dalam Bidang Game"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#website","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","name":"BINUS UNIVERSITY BANDUNG - Kampus Teknologi Kreatif","description":"Binus kampus komunitas kreatif Bandung dengan visi membangun universitas yang berkelas dunia di tahun 2020 mendatang, sebagai langkah menuju visi tersebut, BINA NUSANTARA kampus komunitas kreatif mengambil suatu langkah mantap untuk membuka jaringan pendidikan di Kota Bandung.","publisher":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#organization","name":"BINUS UNIVERSITY","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","contentUrl":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/site-logo.png","width":140,"height":84,"caption":"BINUS UNIVERSITY"},"image":{"@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/f3d91be938f8fd4c72e0531c11adf26c","name":"cmcbinus","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d55450a51e075980932005cd0987c4324255b634bc10f6ee56068b92bba05b81?s=96&d=mm&r=g","caption":"cmcbinus"},"url":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/author\/cmcbinus\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3559"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3559\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11683,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3559\/revisions\/11683"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3564"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}