{"id":488,"date":"2024-05-24T07:47:06","date_gmt":"2024-05-24T07:47:06","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/?p=488"},"modified":"2024-05-24T07:47:06","modified_gmt":"2024-05-24T07:47:06","slug":"wisata-budaya-wot-batu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/2024\/05\/24\/wisata-budaya-wot-batu\/","title":{"rendered":"Wisata Budaya: Wot BaTu"},"content":{"rendered":"<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"font-family: 'Open Sans'\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-490\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-143812.png\" alt=\"\" width=\"440\" height=\"289\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-143812.png 440w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-143812-300x197.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 440px) 100vw, 440px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt\">Gambar 1\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt\">Wot Batu, instalasi Batu Air\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ruang seni Wot Batu diresmikan oleh Bapak Anies Baswedan pada 2015 lalu. Pembangunan sendiri dimulai dari 2012, selama 3 tahun hingga 2015. Selain sebagai ruang seni untuk wisata Budaya, Wot batu ini juga sering digunakan sebagai venue event-event, terutama event kebudayaan.Merupakan salah satu situs yang wajib dikunjungi Ketika kita berkunjung ke Bandung.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\"> \u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Wisatawan yang memasuki bandung melalui pintu gerbang Pasteur bisa menggunakan jalan layang Pasupati dan melanjutkan menelusuri Jalan Haji Djuanda atau biasa disebut Dago. Dari terminal Dago bisa disambung dengan menyusuri Jalan Bukit Pakar Timur. Alamat Wot Batu ini berada di Bukit Pakar Timur no 98 Bandung.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\"> \u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Di Area Wot Batu sendiri tidak tersedia restaurant, hanya caf\u00e9 kecil saja sebagai pendukung. Pengunjung yang ingin mengisi perut bisa menggunakan fasilitas restaurant di Selasar Sunarya yang tidak jauh dari site Wot Batu.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\"> \u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Tiket masuk sendiri terbagi menjadi 2 harga, yaitu: 50 ribu untuk umum dan 30rb untuk mahasiswa, dosen dan pelajar. Pembelian tiket tersedia di are pintu gerbang, lengkap beserta tempat pemaparan aturan2 bagi pengunjung.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\"> \u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Wot Batu merupakan hasil karya perupa Bapak Sunarya seorang seniman yang sudah lama menetap di kota Bandung. Tercipta dari sebuah gagasan intuisi serta perjalanan spiritual baliau. Wot sendiri artinya Jembatan yang diambil dari Bahasa Jawa Kuno. Dan Wot Batu sendiri artinya Jembatan spiritual yang menghubungkan jiwa manusia dan wujud ragawi kehidupan.\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Pada pintu gerbang terlihat sebuah batu yang menggambarkan batu2 yang akan kita temui di dalamnya. Setelah Gerbang kita akan melalui sebuah jalan setapak panjang yang dinamai Lorong transisi, yang menggambarkan transisi kesibukan di kota\/ luar site dan menuju ketenangan di dalam Wot Batu itu sendri. Lorong transisi tersebut menggunakan lantai kerikil yang mengajak kita untuk berjalan pelan menikmati tiap langkahnya, dan bukan terburu buru.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Instalasi pertama yang terlihat setelah melalui Lorong transisi adalah instalasi abah dan ambu, yang merepresntasikan asal muasal kehidupan manusia dan penyatuan element yang berlatar belakang berbeda.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Tidak jauh dari instalasi Abah dan Ambu terdapat Pula instalasi batu merenung, yang juga berfunsi untuk pengunjung dapat duduk merenung dan menikmati Wot Batu dengan melihat seluruh area Wot Batu dari titik tersebut.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Instalasi selanjutnya adalah instalasi bumi dan Langit. Batu buminya adalah batu batu yang terletak di tanah sedangkan batu langit adalah batu batu yang menempel di dinding. Batu bumi menggambarkan hubungan manusia dengan sesama dan alam tempat dimana kita tinggal. Sedangkan batu langit secara posisi mengarah ke atas, menggambarkan sisi spiritual hubungan manusia dengan Tuhannya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Di area Tengah site terdapat instalasi batu panggung, yang menggambarkan panggung kehidupan selama manusia tinggal di dunia. Terdapat juga instalasi batu perahu, yang mengarah ke area air. Instalasi ini menggambarkan perjalan hidup manusia ke kehidupan yang selanjutnya. Di sebelah batu perahu terdapat instalasi lawang batu yang berbentuk seperti pintu gerbang, yang disimbolkan sebagai pintu masuk manusia memasuki kehidupan selanjutnya.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Instalasi selanjutnya adalah batu api, dimana menggambarkan api yang membuat pengetahuan manusia tetap ada dan terus berkembang. Selanjutnya yang menjadi instalasi favourit pengunjung adalah batu air. Yang menceritakan kembalinya manusia ke alam semesta.\u00a0 Ada pula instalasi batu sepuluh yang merupana batu tanpa konstruksi yang disusun dan diketahui dia berhenti di batu kesepuluh, karenanya dinamakan batu sepuluh.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><span data-contrast=\"auto\">Selain itu ada ruangan kaca yang memutarkan video tentang pembentukan alam semesta dan pembentukan bumi. Pesan yang ingin disampaikan melalui instalasi ini adalah bagaimana manusia<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u00a0sebenarnya adalah makhluk yang kecil dibandingkan alam semesta ini. Selain itu ada pula sebuah garis yang mengarah ke arah kota mekah dan diujung garis tersebut dibangun sebuah mushola dan diletakan batu2 yang berasal dari kota mekah sendiri.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Semua batu yang ada di Wot Batu adalah Batu Vulkanik. Pak Sunaryo menginginkan batu yang memang berasal langsung dari perut bumi dan telah berada di alam dalam jangka waktu yang sudah cukup lama.\u00a0 Kebanyakan batu batu tersebut berasal dari Jawa Barat, yang di survey dalam jangka periode selama 3 tahun selama masa pembangunan. Selain batu batu yang di dominasi dari jawa Barat terdapat juga batu yang berasal dari jawa timur, bali, Eropa dan India. Selain batu vulkanik terdapat juga batu kapur yang peletakannya menghadap ke\u00a0 arah timur. Dimana Timur disimbolkan dengan energi berwarna putih (matahari terbit).<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:2,&quot;335551620&quot;:2,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-491\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-144403.png\" alt=\"\" width=\"391\" height=\"217\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-144403.png 391w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2024\/05\/Screenshot-2024-05-24-144403-300x166.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 391px) 100vw, 391px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt\">Gambar 2\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt\">Wot Batu, wisata untuk menghayati kehidupan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Mengunjungi Wot Batu kita bukan hanya datang sebagai turis\/ pengunjung tetapi juga sebagai penikmat seni. Dimana kita bukan hanya menikmati site yang ada tetapi juga menjadi lebih terdidik secara seni dan spiritual.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Gambar 1\u00a0 Wot Batu, instalasi Batu Air\u00a0 \u00a0 Ruang seni Wot Batu diresmikan oleh Bapak Anies Baswedan pada 2015 lalu. Pembangunan sendiri dimulai dari 2012, selama 3 tahun hingga 2015. Selain sebagai ruang seni untuk wisata Budaya, Wot batu ini juga sering digunakan sebagai venue event-event, terutama event kebudayaan.Merupakan salah satu situs yang wajib [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":489,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-488","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=488"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/488\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":492,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/488\/revisions\/492"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/media\/489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=488"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=488"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/interior-design\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}