{"id":1066,"date":"2025-12-12T09:25:37","date_gmt":"2025-12-12T09:25:37","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/?p=1066"},"modified":"2025-12-12T09:25:37","modified_gmt":"2025-12-12T09:25:37","slug":"street-art-sebagai-medium-strategis-dalam-rebranding-wisata-kota-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/2025\/12\/12\/street-art-sebagai-medium-strategis-dalam-rebranding-wisata-kota-bandung\/","title":{"rendered":"Street Art sebagai Medium Strategis dalam Rebranding Wisata Kota Bandung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n<h6 style=\"text-align: justify\">\n<em>Street art<\/em> adalah bentuk seni yang ditempatkan di ruang publik, seperti mural dan grafiti di tembok jalanan, yang bisa dilihat langsung oleh siapa saja. Di Kota Bandung, karya <em>street art<\/em> berkembang sejak 1990-an di kawasan seperti Jalan H. Juanda di Dago dan terus menjadi bagian dari wajah kota. Seni mural juga muncul di kawasan wisata seperti Jalan Braga sebagai bagian dari penataan lingkungan wisata kreatif, yang melibatkan mahasiswa dan komunitas dalam pembuatan karya visual yang bernilai estetika dan edukasi. Pemerintah Kota Bandung memberi ruang legal bagi karya <em>street art<\/em>, seperti di Taman Sari, sehingga mural dan grafiti dapat muncul tanpa dianggap vandalisme. Bandung diakui sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network dalam kategori <em>City of Design<\/em>, yang menunjukkan keterlibatan kreativitas dalam identitas kota dan strategi pemasaran wisata. Mural juga menjadi daya tarik bagi wisatawan saat berkunjung ke lokasi-lokasi kreatif seperti Kampung Wisata Kreatif Braga dan Lembur Katumbiri, di mana warna-warna visual yang mencolok digunakan untuk memperkaya pengalaman wisata. \u00a0Artikel ini menjelaskan peran <em>street art<\/em> dalam rebranding wisata Bandung sebagai kota yang memadukan seni visual dalam strategi kota kreatif, memberi contoh nyata bagi siswa SMA yang tertarik pada studi animasi, seni visual, atau desain.<\/h6>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Street art<\/em> adalah istilah untuk karya seni yang dipasang di ruang publik seperti tembok jalan, jembatan, atau bangunan kota dan dapat langsung dilihat oleh masyarakat umum. Karya ini meliputi <em>mural<\/em>, yaitu lukisan atau gambar yang digambar langsung di permukaan besar seperti dinding, dan <em>grafiti<\/em>, yaitu tulisan atau gambar yang dibuat di ruang publik yang awalnya sering muncul sebagai ekspresi anak muda di jalanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di Bandung, <em>street art<\/em> mulai muncul di kawasan Jalan H. Juanda di Dago sejak era 1990-an sebagai ruang ekspresi kreatif masyarakat lokal dan sering memuat pesan sosial. Pada era 2000-an, karya-karya visual ini semakin sistematis muncul sebagai mural dan grafiti yang menghiasi permukaan ruang publik, menarik perhatian warga dan wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kota Bandung menerima pengakuan internasional sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network dalam kategori <em>City of Design<\/em> sejak tahun 2015. Status ini menunjukkan bahwa kreativitas, termasuk desain visual dan seni publik, menjadi bagian dari strategi pembangunan kota. Sekitar 56 persen aktivitas ekonomi di Bandung berhubungan dengan desain dan industri kreatif termasuk media visual, yang mendukung keberadaan seni jalanan sebagai bagian dari citra kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Strategi <em>city branding<\/em> atau penataan citra kota melibatkan penggunaan elemen visual dan kegiatan kreatif untuk menunjukkan karakter kota kepada publik, termasuk wisatawan. Dalam pendekatan ini, karya <em>street art<\/em> dipandang sebagai elemen yang memberi identitas visual bagi Bandung sekaligus menarik pengunjung. <em>Street art<\/em> memberi pengalaman visual langsung di ruang kota, sehingga saat wisatawan berjalan kaki di area pusat kota, mereka dapat melihat karya seni yang dekat dengan kehidupan urban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kawasan wisata seperti Jalan Braga kini mendapatkan tambahan nilai visual dari karya mural di sudut-sudut jalan. Jalan Braga adalah lokasi bersejarah di pusat kota Bandung yang dikenal dengan arsitektur lama dan suasana pejalan kaki yang ramai. \u00a0<em>Street art<\/em> di sepanjang kawasan ini menjadi spot foto populer bagi pengunjung dan memberi pengalaman visual yang berbeda dari sekedar melihat bangunan tua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Proyek mural yang dilakukan oleh mahasiswa dari universitas lokal seperti Universitas Pasundan dan Universitas Bina Nusantara di Kampung Wisata Kreatif Braga menunjukkan kolaborasi antara dunia akademik, masyarakat, dan sektor swasta. Karya mural ini dibuat sebagai bagian dari penataan kawasan wisata kreatif yang menggabungkan sejarah dan budaya lokal dengan karya visual kontemporer, sehingga mengundang wisatawan untuk menjelajah lokasi melalui pengalaman visual dan interaksi dengan cerita di balik mural.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Street art<\/em> juga muncul di lokasi lain seperti Lembur Katumbiri di Jalan Siliwangi, di mana deretan mural warna-warni menghiasi tembok rumah warga dan menetapkan area tersebut sebagai kampung seni yang menarik kunjungan. Ruang publik seperti ini memberi suasana berbeda yang bisa dinikmati wisatawan dan warga sekitar, sehingga setiap sudut kota dapat menjadi area eksplorasi kreatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Visual yang ditampilkan melalui <em>street art<\/em> sering menghadirkan warna, bentuk, dan simbol yang memiliki makna estetika atau cerita tentang kehidupan kota. Dari gaya figuratif sampai desain yang lebih abstrak, karya mural memberi pengalaman visual yang bisa diserap oleh pengunjung saat berjalan melalui lingkungan kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Konsep <em>urban tourism<\/em> atau pariwisata perkotaan memperlakukan ruang publik sebagai bagian dari daya tarik wisata. Seni mural dan grafiti menjadi atraksi dalam wisata perkotaan karena karya ini dapat dilihat langsung oleh pelancong yang berjalan melalui jalur-jalur kota. Seni seperti ini sering dibagikan di media sosial oleh pengunjung sehingga memengaruhi pengenalan lokasi dan bisa menaikkan minat orang lain untuk mengunjungi tempat tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kolaborasi antara pemerintah kota, komunitas seni, mahasiswa, dan pihak swasta dalam pembuatan mural memberi contoh nyata tentang bagaimana karya visual dapat diintegrasikan ke dalam strategi wisata kota. Keterlibatan berbagai pihak ini memperlihatkan bahwa <em>street art<\/em> berfungsi sebagai medium kreatif yang memperkaya pengalaman wisata di Bandung, memberi gambaran bagi siswa SMA yang ingin mengejar studi animasi, seni visual, atau desain tentang bagaimana karya visual bekerja dalam konteks ruang publik dan pariwisata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abstrak Street art adalah bentuk seni yang ditempatkan di ruang publik, seperti mural dan grafiti di tembok jalanan, yang bisa dilihat langsung oleh siapa saja. Di Kota Bandung, karya street art berkembang sejak 1990-an di kawasan seperti Jalan H. Juanda di Dago dan terus menjadi bagian dari wajah kota. Seni mural juga muncul di kawasan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[314,315,316,310,312],"class_list":["post-1066","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","tag-mural-wisata-bandung","tag-rebranding-wisata","tag-seni-jalanan","tag-street-art-bandung","tag-unesco-creative-cities-network"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1066"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1067,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1066\/revisions\/1067"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/dkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}