{"id":639,"date":"2025-12-01T03:02:42","date_gmt":"2025-12-01T03:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/?p=639"},"modified":"2025-12-01T03:04:33","modified_gmt":"2025-12-01T03:04:33","slug":"dari-lahan-pertanian-ke-permainan-digital-game-yang-membumikan-ilmu-pertanian-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/2025\/12\/01\/dari-lahan-pertanian-ke-permainan-digital-game-yang-membumikan-ilmu-pertanian-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Dari Lahan Pertanian ke Permainan Digital: Game Yang Membumikan Ilmu Pertanian Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-641\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1244\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1.png 1920w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1-300x194.png 300w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1-1024x664.png 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1-768x498.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1-1536x995.png 1536w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-1-480x311.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Belajar terasa jauh lebih bermakna ketika siswa melihat bahwa pelajaran di kelas tidak hanya teori, tetapi juga bermanfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari. Untuk membantu siswa merasakan keterhubungan itu, <strong>sebuah game edukatif berbasis gamifikasi diperkenalkan kepada siswa Yayasan Hasan Al Mujtaba<\/strong>. Game ini dirancang agar siswa-siswi, khususnya bagi mereka yang tinggal di area atau lingkungan pedesaan atau komunitas agraris bisa <strong>mengeksplorasi praktik pertanian berkelanjutan secara interaktif dan menyenangkan<\/strong>, sekaligus memahami dampaknya terhadap lingkungan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-642\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2.png\" alt=\"\" width=\"1457\" height=\"944\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2.png 1457w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2-300x194.png 300w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2-1024x663.png 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2-768x498.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-2-480x311.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 1457px) 100vw, 1457px\" \/><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><strong>Belajar Sains Pertanian Lewat Bermain<\/strong><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam permainan ini, siswa diperkenalkan pada konsep pertanian ramah lingkungan seperti pembuatan <strong>pupuk Bokashi, yaitu pupuk organik hasil fermentasi bahan alami seperti sekam padi, dedak, jerami, dan kotoran hewan menggunakan mikroorganisme efektif (EM)<\/strong>. Fermentasi Bokashi tidak hanya memperkaya nutrisi tanah, tetapi juga memperbaiki struktur dan menjaga kesuburan jangka panjang. Selain itu, <strong>game ini juga mengajarkan peran tanaman legum<\/strong>, yaitu tanaman seperti kacang-kacangan yang akarnya bekerja sama dengan bakteri penambat nitrogen untuk mengikat nitrogen dari udara ke dalam tanah. Rotasi tanaman menggunakan legum merupakan teknik penting dalam pertanian berkelanjutan karena mampu menyuburkan tanah tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pendekatan \u201c<strong>belajar sambil bermain<\/strong>\u201d ini <strong>membuat siswa dapat melakukan percobaan virtual<\/strong> seperti memilih kombinasi tanaman, membuat kompos, mengatur rotasi tanaman, dan menentukan metode pengendalian hama organik. Setiap keputusan langsung terlihat dampaknya pada kesuburan tanah dan hasil panen dalam simulasi, sehingga konsep-konsep teknis yang biasanya abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><strong>Berbasis Riset dan Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan<\/strong><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Keunggulan utama dari inovasi ini adalah bahwa <strong>seluruh pengembangan aplikasi permainan dan kontennya berbasis penelitian ilmiah<\/strong>. Hal ini <strong>memastikan bahwa praktik yang diajarkan<\/strong>, seperti Bokashi dan rotasi legum, bukan sekadar teori menarik, tetapi <strong>benar-benar terbukti bermanfaat dalam meningkatkan keberlanjutan agrikultur<\/strong>. Studi yang menjadi fondasinya, \u201c<em>Development of a Gamified Mobile Learning App to Promote Sustainable Agriculture Practices in Rural Communities<\/em>\u201d, diterbitkan oleh <strong>IEEE<\/strong> dan dapat diakses melalui tautan berikut: <a href=\"https:\/\/ieeexplore.ieee.org\/document\/10928257\">https:\/\/ieeexplore.ieee.org\/document\/10928257<\/a>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, inisiatif ini secara eksplisit juga mendukung <strong><em>Sustainable Development Goals<\/em> (SDGs)<\/strong>, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><strong>SDG 4: Quality Education<\/strong>, dengan menyediakan pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan relevan<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><strong>SDG 12: Responsible Consumption and Production<\/strong>, melalui pengurangan ketergantungan pada bahan kimia dalam pertanian<\/li>\n<\/ul>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-640\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-3.jpg\" alt=\"\" width=\"297\" height=\"397\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-3.jpg 297w, https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/12\/Pertanian-ke-Game-3-224x300.jpg 224w\" sizes=\"auto, (max-width: 297px) 100vw, 297px\" \/><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><strong>Memupuk Semangat Belajar dan Masa Depan Lebih Baik<\/strong><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui game ini, siswa tidak hanya belajar tentang pertanian, tetapi juga memahami bagaimana sains, teknologi, dan keberlanjutan saling berkaitan. Bagi banyak siswa yang membantu keluarga di ladang, pendekatan ini membuka perspektif baru bahwa pendidikan dapat menjadi pintu untuk memahami lingkungan, meningkatkan praktik pertanian, dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi komunitas mereka. Model pembelajaran seperti ini bahkan berpotensi diadaptasi untuk sekolah lain di daerah pedesaan sebagai langkah kecil namun signifikan menuju perubahan yang lebih besar.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><strong>Referensi:<\/strong><\/h4>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\">T. Prasetiawan, \u201cMemantik minat petani milenial,\u201d Commission IV of Indonesian House of Representatives, january 2024, pages 1\u20132.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\">R. Bhalla, P. Tiwari and N. Chowdhary, \u201cDigital natives leading the world: Paragons and values of generation z,\u201d inGeneration Z marketing and management in tourism and hospitality: The future of the industry Springer, 2021, pages 3\u201323.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\">R. Szil\u00e1gyi, T. Kov\u00e1cs, K. Nagy and L. V\u00e1rallyai, \u201cDevelopment of farm simulation application, an example for gamification in higher education,\u201d Journal of Agricultural Informatics, jourvol 8, number 2, 2017. DOI: 10.17700\/jai.2017.8.2.373. url: https:\/\/journal magisz.org\/index.php\/jai\/article\/view\/373.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\">J. Jouan, M. Carof, R. Baccar andothers, \u201cSegae: An online serious game to learn agroecology,\u201d Agricultural Systems, jourvol 191, page 103\u2013145, 2021, ISSN: 0308-521X. DOI: https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.agsy.2021.103145 url: https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/ S0308521X21000986<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\">A. Susanti and Y. R. Dewi, Dasar-dasar Agribisnis Tanaman, 1 edition. Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia, 2023, volume 1, pages 1\u2013282.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"text-decoration: underline\"><strong>November 2025<\/strong><\/span><br \/>\n<strong>Penulis: Livia Janice Widiapradja<\/strong><br \/>\n<span style=\"font-size: 10pt\"><em>*Artikel ini merupakan salah satu luaran sebagai bagian dari Penelitian Pemula BINUS 2024<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belajar terasa jauh lebih bermakna ketika siswa melihat bahwa pelajaran di kelas tidak hanya teori, tetapi juga bermanfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari. Untuk membantu siswa merasakan keterhubungan itu, sebuah game edukatif berbasis gamifikasi diperkenalkan kepada siswa Yayasan Hasan Al Mujtaba. Game ini dirancang agar siswa-siswi, khususnya bagi mereka yang tinggal di area atau lingkungan pedesaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":641,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,6],"tags":[28,144,23,100,56,34,51],"class_list":["post-639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-projects","tag-binus-bandung","tag-community-service","tag-computer-science","tag-development","tag-project","tag-research","tag-skills"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=639"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/639\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":644,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/639\/revisions\/644"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/media\/641"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/bandung\/computer-science\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}