Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa BINUS University dalam ajang kompetisi tingkat nasional. Tim S2U yang merupakan kolaborasi mahasiswa Program Studi Computer Science BINUS @Bandung dan BINUS @Alam Sutra berhasil meraih Juara 1 pada kompetisi Hackathon IN:NOVATE Code Up! 2026 yang diselenggarakan oleh Politeknik Astra Bekasi. Tim ini beranggotakan Bryan Thanaya, Lavinia Nataniela Novyandi, dan David Christian yang seluruhnya berasal dari angkatan B’27. Kompetisi tersebut mengusung tema besar “One Earth, One Day, Infinite Solutions” yang mendorong peserta untuk menghadirkan inovasi nyata bagi permasalahan lingkungan dan keberlanjutan. Keberhasilan ini diraih setelah melalui serangkaian tahapan seleksi yang berlangsung selama lebih dari satu bulan. Mulai dari pendaftaran proposal pada 5 April hingga 10 Mei 2026, penilaian proposal pada 11 Mei 2026, pengumuman finalis pada 17 Mei 2026, hingga babak final yang berlangsung pada 21–22 Mei 2026. Di tengah persaingan ketat peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Tim S2U berhasil tampil sebagai juara utama.

Karya yang diusung oleh Tim S2U berjudul “TENUNARA: Menganyam Limbah, Menghadirkan Nilai, Merajut Masa Depan”. Solusi ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya jumlah limbah tekstil yang masih berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan dibakar. Industri tekstil merupakan salah satu sektor manufaktur terbesar di Indonesia, namun di saat yang sama menghasilkan limbah kain dalam jumlah yang sangat besar. Banyak pelaku UMKM konveksi yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik sehingga sisa produksi kain sering kali menjadi beban operasional. Di sisi lain, para pengrajin dan pelaku industri kreatif justru membutuhkan bahan baku alternatif yang lebih terjangkau untuk mendukung kegiatan produksi mereka. Ketimpangan antara pihak yang memiliki limbah dan pihak yang membutuhkan material tersebut menjadi masalah yang belum terselesaikan secara optimal. Melihat kondisi tersebut, Tim S2U menghadirkan TENUNARA sebagai jembatan yang mampu mempertemukan kedua pihak dalam satu ekosistem digital. Solusi ini tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.

TENUNARA dirancang sebagai platform Business-to-Business (B2B) berbasis kecerdasan buatan yang menghubungkan UMKM penghasil limbah tekstil dengan pengrajin lokal. Melalui platform ini, limbah kain yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru. Sistem yang dikembangkan memungkinkan proses transaksi berlangsung lebih cepat, transparan, dan terstandarisasi. Pendekatan ini berbeda dari praktik konvensional yang selama ini banyak mengandalkan media sosial atau komunikasi manual. Dalam metode tradisional, pencarian pembeli maupun pemasok sering kali memakan waktu dan berisiko menimbulkan kesalahpahaman terkait kualitas material. TENUNARA hadir untuk mengatasi hambatan tersebut melalui pemanfaatan teknologi digital yang lebih modern. Dengan adanya platform ini, rantai ekonomi sirkular pada sektor tekstil diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Pada akhirnya, limbah yang sebelumnya menjadi masalah dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Salah satu keunggulan utama TENUNARA terletak pada penggunaan teknologi Artificial Intelligence atau AI dalam proses pengelolaan data material. Platform ini memiliki fitur AI-Powered Visual Upload and Tagging yang memungkinkan pengguna cukup mengunggah foto limbah kain. Sistem kemudian secara otomatis mengidentifikasi jenis bahan, warna, hingga perkiraan ukuran material. Proses yang sebelumnya memerlukan input manual kini dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat dan akurat. Fitur ini membantu UMKM menghemat waktu saat melakukan pencatatan dan pemasaran limbah tekstil mereka. Selain itu, data yang lebih terstandarisasi juga meningkatkan kepercayaan antara penjual dan pembeli. Penggunaan teknologi computer vision menjadi salah satu faktor yang membuat TENUNARA unggul dibandingkan pendekatan konvensional. Inovasi ini menunjukkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan nyata di sektor industri.

Tidak hanya itu, TENUNARA juga dilengkapi dengan sistem Semantic Matching Engine berbasis Natural Language Processing atau NLP. Teknologi ini memungkinkan sistem memahami kebutuhan pengguna berdasarkan makna dan konteks, bukan sekadar mencocokkan kata yang sama. Sebagai contoh, pencarian material berbahan denim tetap dapat menemukan hasil yang relevan meskipun penjual menggunakan istilah yang berbeda. Pendekatan ini meningkatkan akurasi pencarian sekaligus memperbesar peluang terjadinya transaksi. Selain fitur pencocokan cerdas, TENUNARA juga memiliki Auto-Grading System yang mengelompokkan kualitas material ke dalam beberapa kategori. Sistem grading ini membantu pembeli memahami kualitas produk sebelum melakukan transaksi. Dengan informasi yang lebih jelas, risiko ketidakpuasan pelanggan dapat diminimalkan. Kepercayaan yang lebih tinggi pada akhirnya akan memperkuat keberlanjutan ekosistem digital yang dibangun.

Tim S2U juga memperhatikan aspek transparansi dan keberlanjutan melalui fitur Waste Diversion Dashboard. Dashboard ini memungkinkan UMKM memantau jumlah limbah tekstil yang berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir secara real-time. Data tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari laporan keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Kemampuan ini menjadi semakin penting karena banyak organisasi mulai menerapkan standar keberlanjutan dalam operasional bisnis mereka. Melalui fitur tersebut, UMKM tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga memperoleh dukungan dalam memenuhi tuntutan regulasi dan pasar. Data yang terdokumentasi dengan baik dapat meningkatkan kredibilitas usaha di mata investor maupun mitra bisnis. Dengan demikian, TENUNARA tidak hanya berfungsi sebagai marketplace, melainkan juga sebagai alat pendukung transformasi bisnis berkelanjutan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pendorong perubahan positif yang lebih luas.

Dari sisi dampak, TENUNARA menargetkan pengurangan limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan akhir melalui pemanfaatan kembali material yang masih layak digunakan. Tim S2U menargetkan lebih dari 10 ton limbah tekstil dapat dialihkan dari TPA pada tahun pertama implementasi. Selain memberikan manfaat lingkungan, platform ini juga berpotensi menekan biaya bahan baku bagi pengrajin lokal hingga lebih dari 20 persen. Pengurangan biaya tersebut dapat meningkatkan daya saing industri kreatif dan UMKM yang memanfaatkan bahan baku sekunder. Di saat yang sama, pelaku konveksi dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan dari limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi. Model bisnis ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan bagi seluruh pihak yang terlibat. Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan memungkinkan sumber daya dimanfaatkan secara lebih optimal. Dampak positif tersebut sejalan dengan berbagai target Sustainable Development Goals atau SDGs yang menjadi perhatian dunia.

Keberhasilan Tim S2U dalam meraih Juara 1 Hackathon IN:NOVATE Code Up! 2026 menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menghadirkan solusi inovatif yang relevan dengan tantangan masa kini. Melalui TENUNARA, Bryan Thanaya, Lavinia Nataniela Novyandi, dan David Christian menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menjawab permasalahan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Kemenangan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi tim dan BINUS University, tetapi juga memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berinovasi. Kolaborasi antara mahasiswa dari BINUS @Bandung dan BINUS @Alam Sutra membuktikan bahwa sinergi lintas area kampus dapat menghasilkan karya yang berdampak nyata. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, solusi seperti TENUNARA memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut di masa depan. Kehadiran platform ini menunjukkan bahwa limbah bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari peluang baru yang bernilai. Dengan semangat inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan, Tim S2U berhasil membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk merajut masa depan yang lebih berkelanjutan.

Referensi

  • Ellen MacArthur Foundation. (2017). A new textiles economy: Redesigning fashion’s future.(https://www.ellenmacarthurfoundation.org/a-new-textiles-economy)
  • Kementerian PPN/Bappenas & United Nations Development Programme. (2021). The economic, social, and environmental benefits of a circular economy in Indonesia.
  • Niinimäki, K., et al. (2020). The environmental price of fast fashion. Nature Reviews Earth & Environment, 1(4), 189–200. DOI: https://doi.org/10.1038/s43017-020-0039-9.

Juni 2026
Penulis: Riccosan