Bagi mahasiswa Computer Science, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam mengembangkan sebuah karya teknologi. Hal tersebut ditunjukkan oleh mahasiswa Computer Science BINUS @Bandung angkatan Binusian 2028 (B’28) yang mengikuti program mobility ke BINUS @Kemanggisan dengan fokus penjurusan Game Development. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus mengembangkan keterampilan teknis dan kreatif dalam proses pembuatan game. Salah satu karya yang lahir dari pengalaman tersebut adalah EcoRangers, sebuah game edukasi yang mengangkat isu penting mengenai pemilahan sampah. Game ini dikembangkan oleh tim gabungan antara mahasiswa jurusan dari Computer Science BINUS @Bandung dan Game Application Technology BINUS @Kemanggisan yang terdiri dari Adriel Kevin Jonathan, Darryl Arief Tananjaya, James Tiono, Jocelyn Tania Harjanto, dan Kristoforus Vinan Adriska. Kehadiran EcoRangers menunjukkan bahwa proses dari program mobility dapat menjadi ruang luas bagi mahasiswa untuk eksplorasi dan mengubah pengetahuan akademik menjadi karya digital yang memiliki nilai edukasi dan manfaat bagi masyarakat.

Belajar Game Development Melalui Karya Nyata

EcoRangers dirancang sebagai game edukasi yang membantu anak-anak berusia 9–12 tahun memahami berbagai jenis sampah dan cara mengelompokkannya dengan benar. Pemilihan tema tersebut berangkat dari persoalan yang masih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara baik dan berkelanjutan. Dengan mengemas edukasi lingkungan ke dalam bentuk permainan, tim berusaha menghadirkan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi anak-anak. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyampaikan pesan edukatif secara lebih mudah dipahami. Bagi mahasiswa Computer Science, proses tersebut menjadi pengalaman penting karena pengembangan game membutuhkan perpaduan antara kemampuan pemrograman, desain, logika, kreativitas, dan pemahaman terhadap target pengguna. Dengan demikian, EcoRangers bukan hanya menjadi sebuah proyek akademik, tetapi juga menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat merancang solusi digital berdasarkan permasalahan nyata di lingkungan sekitar.

Perpindahan lingkungan akademik tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal perspektif pembelajaran dan pengalaman yang lebih dekat dengan bidang pengembangan game. Dalam prosesnya, setiap anggota tim memiliki peran penting dalam membangun proyek agar dapat berkembang secara terarah. Kolaborasi menjadi salah satu aspek utama karena sebuah game tidak hanya membutuhkan kode program, tetapi juga memerlukan konsep, desain visual, aset, mekanisme permainan, pengujian, serta dokumentasi. Pengalaman ini membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan produk digital membutuhkan koordinasi yang baik sejak tahap awal hingga proyek selesai. Oleh karena itu, program mobility dapat menjadi sarana bagi mahasiswa Computer Science BINUS @Bandung untuk mengeksplorasi bidang spesifik yang sesuai dengan minat dan rencana pengembangan kompetensinya.

Menggabungkan SDLC dan Kanban Untuk Game Development

Dalam mengembangkan EcoRangers, tim menggunakan pendekatan Software Development Life Cycle (SDLC) yang dikombinasikan dengan teknik Kanban untuk mengatur alur kerja secara efektif. Proses pengembangan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perancangan konsep, pembuatan dan desain aset, implementasi fitur, pengujian, hingga penyusunan dokumentasi. Penggunaan SDLC membantu tim memiliki alur kerja yang lebih sistematis sehingga setiap tahap pengembangan dapat dilakukan berdasarkan tujuan yang jelas. Sementara itu, Kanban membantu anggota tim memantau berbagai tugas yang sedang dikerjakan, belum dimulai, maupun telah diselesaikan. Kombinasi kedua pendekatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa karena mereka dapat memahami bagaimana konsep pengembangan perangkat lunak diterapkan dalam proyek game yang nyata. Selain menghasilkan produk, proses ini juga melatih kemampuan manajemen waktu, pembagian tugas, komunikasi, serta penyelesaian masalah dalam sebuah tim.

Secara keseluruhan, pengembangan EcoRangers diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 3–4 bulan hingga seluruh proses utama proyek dapat diselesaikan. Durasi tersebut menunjukkan bahwa pembuatan game membutuhkan proses yang cukup panjang dan tidak berhenti pada tahap menulis kode. Tim harus memikirkan bagaimana konsep permainan dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang mudah dipahami oleh anak-anak berusia 9–12 tahun. Selain itu, setiap fitur perlu diimplementasikan dan diuji agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah dirancang. Aset visual juga perlu dibuat dan disesuaikan dengan konsep permainan agar mampu mendukung pengalaman pengguna. Dari proses tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa sebuah karya digital yang terlihat sederhana bagi pengguna sebenarnya dapat melibatkan berbagai tahapan perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan penyempurnaan.

Bagi mahasiswa Computer Science BINUS @Bandung, pengalaman mobility ke BINUS @Kemanggisan dengan fokus Game Development dapat membuka kesempatan untuk mengembangkan kompetensi yang lebih spesifik sesuai dengan minat masing-masing. Game Development merupakan bidang yang membutuhkan kombinasi berbagai kemampuan, mulai dari pemrograman dan algoritma hingga desain interaksi serta pemahaman terhadap perilaku pengguna. Melalui proyek seperti EcoRangers, mahasiswa dapat belajar bahwa kemampuan teknis akan menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk menciptakan produk yang memiliki tujuan dan manfaat. Pengalaman bekerja dalam tim juga membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia industri yang menuntut kolaborasi lintas peran dan disiplin. Tidak kalah penting, proyek ini memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi terhadap isu sosial melalui pendekatan teknologi yang kreatif. Dengan demikian, mobility tidak hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun portofolio dan pengalaman praktis yang relevan dengan masa depan karier.

Pada akhirnya, EcoRangers menunjukkan bagaimana pengalaman belajar dan mobility dapat mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang menggabungkan teknologi, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui proyek ini, mahasiswa B’28 Computer Science BINUS @Bandung yang mengikuti mobility ke BINUS @Kemanggisan membuktikan bahwa proses belajar Game Development dapat diwujudkan menjadi sebuah produk edukatif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pengalaman mengembangkan game selama 3–4 bulan juga memberikan pelajaran penting mengenai kolaborasi, perencanaan, manajemen proyek, dan ketekunan dalam menyelesaikan sebuah karya. Bagi mahasiswa, calon mahasiswa, maupun orangtua, perjalanan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan di bidang Computer Science dapat membuka ruang untuk belajar melalui pengalaman dan menghasilkan karya nyata. Setiap ide sederhana dapat berkembang menjadi solusi yang bermanfaat apabila didukung oleh kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan kerja sama yang baik. Karena itu, mari terus mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi minatnya, memanfaatkan kesempatan belajar lintas lingkungan, dan menciptakan karya teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Referensi

Juli 2026
Penulis: Riccosan