International Joint Student Research Symposium (IJSRS) 2026 kembali hadir sebagai ruang kolaborasi internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas untuk berbagi pengetahuan, ide, dan hasil riset di bidang teknologi serta inovasi. Diselenggarakan oleh School of Computer Science (SoCS) BINUS University, IJSRS 2026 berlangsung pada 21–25 September 2026 dengan format hybrid yang memungkinkan peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara langsung maupun daring. Event ini dirancang untuk membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara dan universitas untuk saling bertukar insight mengenai perkembangan teknologi terbaru. Tidak hanya berfokus pada riset, IJSRS 2026 juga mendorong mahasiswa untuk memikirkan bagaimana teknologi dapat memberikan dampak nyata bagi komunitas, masyarakat, dan lingkungan. Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang akademik yang beragam membuat setiap sesi menjadi kesempatan untuk melihat suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda. Semangat kolaborasi, inovasi, dan koneksi internasional menjadi bagian penting dari pengalaman yang ditawarkan dalam symposium ini. Bagi generasi muda yang tertarik dengan teknologi, riset, dan perkembangan dunia digital, IJSRS 2026 menjadi wadah untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring global. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta konferensi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem akademik internasional yang mendorong lahirnya ide-ide baru.

25 Sesi Presentasi Projek dan Kolaborasi Lintas Universitas

Salah satu agenda utama IJSRS 2026 adalah sesi presentasi projek mahasiswa yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian dan inovasi mereka di hadapan audiens internasional. Pada tahun ini, tersedia 25 slot sesi presentasi projek, dengan lima projek yang dipresentasikan setiap harinya selama rangkaian acara berlangsung. Peserta berasal dari berbagai universitas partner SoCS BINUS yang membawa topik penelitian dengan pendekatan dan fokus teknologi yang beragam. Universitas yang terlibat antara lain KTH University, Universiti Sains Malaysia (USM), Polytechnic University of the Philippines, University of Malaya, serta Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR-UMT).

Keragaman institusi tersebut menciptakan ruang diskusi yang mempertemukan perspektif dari berbagai negara dan lingkungan akademik. Setiap presentasi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menjelaskan proses penelitian, solusi yang dikembangkan, hingga potensi penerapan teknologi dalam kehidupan nyata. Selain meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah, pengalaman ini juga membantu mahasiswa membangun rasa percaya diri ketika menyampaikan ide kepada audiens dengan latar belakang yang berbeda. IJSRS 2026 menunjukkan bahwa riset mahasiswa dapat menjadi titik awal untuk membangun kolaborasi dan koneksi internasional yang lebih luas.

Mini-Lecture Series: Belajar Langsung dari Perspektif Akademisi Internasional

IJSRS 2026 menghadirkan inovasi program berupa Mini-Lecture Series sebagai sesi tambahan sebelum mahasiswa memasuki rangkaian presentasi projek. Dalam sesi ini, para dosen dari universitas yang terlibat mendapatkan kesempatan untuk memberikan kelas pengantar dengan topik yang relevan sebagai bagian dari International Seminar.

Kehadiran sesi tersebut membuat pengalaman symposium menjadi lebih interaktif karena peserta tidak hanya menyaksikan presentasi penelitian, tetapi juga memperoleh pembekalan akademik dari para pengajar. Materi yang dibawakan dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memahami konteks teknologi dan isu yang kemudian dibahas dalam sesi presentasi projek. Format ini juga membuka ruang terjadinya diskusi antara mahasiswa dan dosen dari berbagai institusi dalam suasana akademik yang lebih dinamis. Bagi mahasiswa, kesempatan mengikuti Mini-Lecture Series dapat menjadi cara untuk mendapatkan perspektif baru di luar materi perkuliahan yang mereka temui sehari-hari. Pembelajaran lintas kampus dan lintas negara menjadi salah satu nilai penting yang membuat IJSRS 2026 tidak sekadar menjadi ajang presentasi penelitian. Dengan menggabungkan seminar, pembelajaran, dan presentasi projek, kegiatan ini memberikan pengalaman akademik yang lebih lengkap bagi mahasiswa dan komunitas universitas.

Guest Lecture: Mengupas Rahasia Large Language Models

Selain rangkaian symposium dan Mini-Lecture Series, IJSRS 2026 juga menghadirkan sesi khusus Guest Lecture Seminar bersama Prof. Michael Josef Färber dari ScaDS.AI, TU Dresden, Germany. Prof. Michael Josef Färber hadir secara onsite di BINUS University @Bandung, Kampus Paskal23 untuk membawakan materi bertajuk “Secret LLM: Behind the Secrets of Large Language Models”.

Sesi ini dihadiri oleh mahasiswa dari program studi Computer Science dan Digital Psychology BINUS @Bandung, sehingga pembahasannya mempertemukan perspektif teknologi komputasi dengan pemahaman mengenai manusia dan perilaku digital. Large Language Models atau LLM menjadi salah satu teknologi yang berkembang sangat pesat dan semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Melalui sesi tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih jauh berbagai aspek yang berada di balik teknologi LLM dalam konteks akademik dan perkembangan kecerdasan buatan. Kehadiran akademisi internasional juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pembicara dari lingkungan riset global. Guest Lecture ini menjadi salah satu momen penting dalam IJSRS 2026 untuk menghubungkan mahasiswa dengan perkembangan Artificial Intelligence secara lebih dekat. Dari ruang kelas hingga dunia riset, sesi ini memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi dapat membuka pertanyaan baru sekaligus peluang inovasi bagi generasi berikutnya.

Best Presenter Award: Mengapresiasi Ide dan Kemampuan Presentasi Mahasiswa

Untuk menambah semangat kompetitif sekaligus memberikan apresiasi terhadap kualitas presentasi mahasiswa, IJSRS 2026 menghadirkan Mini-Competition: Best Presenter Award dengan total hadiah mencapai Rp22,5 juta. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap mahasiswa yang mampu menyampaikan hasil projek secara jelas, menarik, dan informatif selama symposium berlangsung. Kompetisi tersebut juga mendorong peserta untuk tidak hanya memiliki penelitian yang baik, tetapi mampu mengomunikasikan ide dan hasil penelitian kepada audiens secara efektif.

Setelah melalui rangkaian presentasi dan penilaian, BINUS University meraih posisi pertama melalui projek “AlphaGenome in Silico Mutagenesis of Indonesian Adapted Partitioned PRS for Type 2 Diabetes.” Tim pemenang terdiri dari Jeremy Sean Sitranata, Jocelyn Verna Siswanto, Belinda Mutiara, Jonathan Susanto, dan Kezia Irene. Posisi kedua diraih oleh Polytechnic University of the Philippines melalui projek “Settlenet: ConvNext Encoder-Decoder Semantic Segmentation of Irregular High-Density Settlements with Multimodal Fusion of RGB Satellite, Building Count, and Height Maps,” yang dikerjakan oleh Duncan F. Bandojo, Michael Lannz M. Salalima, Kristina Cassandra D. Bognot, dan Gwyneth Anne M. Gabales. Sementara itu, TAR-UMT meraih posisi ketiga melalui projek “An Intelligent Fingerprints Image Analysis Framework for Human Talent Assessment Using Computer Vision and Ridge Feature Extraction” yang dipresentasikan oleh Tan Zi Yang. Daftar pemenang tersebut menunjukkan keberagaman topik riset, mulai dari kesehatan dan genomik, pemetaan permukiman, hingga computer vision dan analisis citra.

Dari Riset Mahasiswa untuk Dampak bagi Masyarakat

Di balik berbagai topik penelitian yang dipresentasikan, IJSRS 2026 membawa pesan penting bahwa teknologi dan inovasi memiliki peluang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Projek-projek mahasiswa yang ditampilkan mencerminkan bagaimana ilmu komputer dapat digunakan untuk mengeksplorasi berbagai persoalan nyata melalui pendekatan berbasis data, kecerdasan buatan, dan teknologi digital. Penelitian mengenai kesehatan, misalnya, menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi komputasi untuk membantu memahami persoalan yang berkaitan dengan penyakit dan populasi tertentu. Di sisi lain, penelitian mengenai pemetaan permukiman memperlihatkan bagaimana teknologi pengolahan citra dan data satelit dapat digunakan untuk memahami kondisi kawasan dengan karakteristik yang kompleks. Pengembangan computer vision juga memperlihatkan semakin luasnya peluang penerapan kecerdasan buatan dalam menganalisis informasi visual. Riset mahasiswa menjadi semakin relevan ketika mampu menghubungkan teori, teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan. Melalui IJSRS, mahasiswa mendapatkan ruang untuk menguji ide, menerima masukan, dan melihat kemungkinan pengembangan penelitian mereka dalam konteks yang lebih luas. Inilah yang menjadikan symposium bukan hanya sebagai panggung akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk membicarakan bagaimana inovasi generasi muda dapat berkontribusi terhadap masa depan masyarakat.

Membangun Generasi Peneliti dengan Jejaring Global

Dengan menggabungkan presentasi projek, Mini-Lecture Series, Guest Lecture Seminar, kompetisi, dan interaksi lintas universitas, International Joint Student Research Symposium 2026 menjadi wadah pembelajaran yang mempertemukan akademik dan pengalaman internasional. Format hybrid yang digunakan juga memungkinkan kolaborasi tetap berlangsung dengan memanfaatkan teknologi digital tanpa menghilangkan pengalaman interaksi secara langsung. Keterlibatan universitas partner dari berbagai negara memperluas kesempatan mahasiswa untuk mengenal budaya akademik, pendekatan riset, dan perspektif teknologi yang berbeda. Lebih dari sekadar berbagi hasil penelitian, IJSRS 2026 membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun koneksi yang dapat berkembang menjadi kolaborasi akademik di masa mendatang. Bagi mahasiswa, pengalaman seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun personal network, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin terhubung secara global. Bagi universitas, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat hubungan internasional sekaligus mendorong budaya riset dan inovasi di lingkungan akademik. Kehadiran teknologi seperti Artificial Intelligence, computer vision, data science, dan berbagai bidang komputasi lainnya menunjukkan bahwa masa depan inovasi membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara. Melalui IJSRS 2026, semangat tersebut diwujudkan dalam sebuah pengalaman bersama yang mendorong mahasiswa untuk belajar, berbagi, berkolaborasi, dan menciptakan dampak melalui teknologi.

 

Oktober 2026
Penulis: Computer Science Bandung
*Artikel ini dibuat dengan bantuan AI dan hanya berfungsi sebagai artikel edukasi secara umum