Mengenal Bentuk Bullying di Tempat Kerja

Dunia kerja sering kali dipandang sebagai medan pembuktian kompetensi dan profesionalisme. Namun, di balik target pencapaian dan tenggat waktu yang ketat, terdapat sebuah fenomena gunung es yang kerap terabaikan: perundungan atau workplace bullying. Berbeda dengan konflik profesional yang bersifat membangun, bullying di tempat kerja adalah tindakan berbahaya yang tidak hanya merusak produktivitas, tetapi juga kesehatan mental karyawan secara jangka panjang.

Sebagai institusi pendidikan yang mempersiapkan talenta masa depan, penting bagi kita untuk mengenali bahwa batasan antara "ketegasan manajerial" dan "perundungan" sering kali menjadi kabur. Memahami bentuk-bentuknya adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan manusiawi.

Secara garis besar, perundungan di tempat kerja didefinisikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus, yang ditujukan kepada individu atau sekelompok rekan kerja. Karakteristik utamanya bukanlah insiden tunggal, melainkan pola perilaku yang bertujuan untuk mengintimidasi, mempermalukan, atau merusak reputasi korban. Sering kali, tindakan ini melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan, baik secara struktural (atasan ke bawahan) maupun sosial (rekan kerja senior ke junior). Dampaknya tidak main-main; mulai dari kecemasan berlebih, depresi, hingga fenomena burnout yang ekstrem.

Untuk mengidentifikasi apakah sebuah tindakan termasuk perundungan, kita dapat mengategorikannya ke dalam beberapa bentuk nyata:

  • Agresi Verbal dan Psikologis
    Ini adalah bentuk yang paling umum namun sulit dibuktikan karena sering dianggap sebagai "candaan" atau "cara berkomunikasi yang blak-blakan". Contohnya meliputi teriakan, hinaan di depan publik, sindiran yang menjatuhkan harga diri, hingga penggunaan bahasa tubuh yang mengancam. Tujuannya adalah untuk mengikis kepercayaan diri korban secara perlahan.
  • Sabotase Kinerja dan Destabilisasi
    Bentuk perundungan ini sangat berbahaya karena menyerang kredibilitas profesional seseorang. Pelaku mungkin menyembunyikan informasi penting yang dibutuhkan korban untuk menyelesaikan tugas, memberikan tenggat waktu yang mustahil secara sengaja, atau terus-menerus memberikan beban kerja yang tidak masuk akal agar korban terlihat gagal.
  • Pengucilan Sosial (Social Isolation)
    Manusia adalah makhluk sosial, dan di tempat kerja, kolaborasi adalah kunci. Perundungan dapat berupa pengabaian secara sengaja, tidak diundang ke dalam rapat penting yang relevan dengan pekerjaan, atau "didiamkan" oleh rekan setim. Isolasi ini menciptakan perasaan tidak berdaya dan keterasingan yang mendalam.
  • Perundungan Siber (Cyberbullying)
    Di era digital, perundungan berpindah ke ruang obrolan grup atau media sosial. Penyebaran rumor, berbagi foto yang memalukan tanpa izin, atau pengiriman pesan intimidatif setelah jam kerja termasuk dalam kategori ini. Batas antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi hilang, membuat korban merasa tidak punya tempat aman untuk beristirahat.

Budaya organisasi memegang peranan kunci. Perusahaan yang hanya berorientasi pada hasil akhir tanpa memedulikan proses sering kali memaklumi perilaku agresif demi mencapai target. Selain itu, kurangnya sistem pelaporan yang aman membuat korban cenderung diam karena takut akan pembalasan atau dianggap "lemah" oleh manajemen.

Dalam konteks universitas, pemahaman ini sangat relevan bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja maupun bagi staf internal. Integritas sebuah institusi tidak hanya dilihat dari prestasi akademisnya, tetapi juga dari bagaimana ia melindungi martabat setiap individu di dalamnya. Menghadapi bullying memerlukan keberanian kolektif. Bagi individu, mencatat setiap insiden secara mendetail adalah langkah awal yang krusial. Bagi organisasi, kebijakan "nol toleransi" terhadap perundungan harus diimplementasikan bukan hanya sebagai dokumen formal, tetapi sebagai budaya nyata.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjadi upstander—seseorang yang berani berbicara ketika melihat ketidakadilan—bukan sekadar bystander yang hanya menonton. Dengan menciptakan ruang kerja yang aman secara psikologis, kita tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memanusiakan manusia di dalam ekosistem profesional.

Referensi :
Dwiputra, K. O. (2019, October 16). Mengenal Tanda-tanda Bullying di Tempat Kerja. KlikDokter. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/mengenal-tanda-tanda-bullying-di-tempat-kerja?srsltid=AfmBOorONzMxSoWIy_6Apmt3W_EtQTRZiiprbNRu-CibKgltj43j4hwr

Penulis : Erna Susilowati