Prof. Harjanto Prabowo di QS Higher Ed Summit APAC 2026: Transformasi AI di Kampus Dimulai dari Kepemimpinan dan Manusia
Kehadiran kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah keseharian di perguruan tinggi. Dosen dapat memanfaatkannya untuk menyusun materi, mahasiswa menggunakannya untuk mendukung pengerjaan tugas, dan institusi memiliki peluang untuk meningkatkan berbagai layanan. Perubahan ini menghadirkan pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan penggunaan AI benar-benar memperkuat kualitas pendidikan?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, Vice President of BINUS Higher Education, dalam sesi “Leading Universities in the Age of AI: Technology, Governance, and Leadership for the Future” pada QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali, Rabu (4/11).

Menurut Prof. Harjanto, perguruan tinggi perlu menempatkan AI sebagai bagian dari transformasi institusi. Pemanfaatannya harus berangkat dari tujuan pendidikan yang ingin dicapai, kemudian diterjemahkan ke dalam strategi, tata kelola, dan praktik pembelajaran.
“Kita harus menempatkan AI bukan sebagai proyek IT. AI itu sebuah transformasi universitas,” ujarnya.
Berangkat dari Visi dan Misi Institusi
Prof. Harjanto menjelaskan bahwa langkah awal mengintegrasikan AI adalah memahami kontribusinya terhadap visi dan misi universitas. Arah tersebut menjadi dasar untuk menentukan prioritas, menyiapkan sumber daya, serta menyusun rencana strategis dan peta jalan implementasi.

Cakupannya pun luas. Selain mendukung pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, AI dapat membantu pengelolaan organisasi, peningkatan layanan, dan penguatan kolaborasi.
Ia menjelaskan bahwa BINUS melihat pemanfaatan AI dalam berbagai aspek tersebut sebagai bagian yang saling terhubung. Dengan pendekatan ini, pengembangan teknologi memiliki tujuan yang jelas dan dapat diarahkan pada kebutuhan mahasiswa, dosen, serta institusi.
Bagi perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan sumber daya, kolaborasi menjadi salah satu jalan untuk membangun kapasitas dan mengembangkan pemanfaatan AI secara bertahap.
Kepemimpinan yang Memberi Teladan
Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, Prof. Harjanto menempatkan kesiapan manusia sebagai kunci transformasi. Pimpinan perguruan tinggi perlu terlibat langsung, memberi contoh, dan mengajak seluruh unsur institusi untuk bertumbuh bersama.

Dosen dan tenaga kependidikan membutuhkan kesempatan untuk memahami teknologi, mencoba penggunaannya, serta menilai manfaat dan keterbatasannya. Pada saat yang sama, institusi perlu menyediakan batasan yang membantu penggunaan AI tetap selaras dengan nilai dan misi pendidikan.
Menurutnya, perubahan pola pikir ini penting agar manusia tetap memegang kendali. AI dapat membantu proses kerja dan pembelajaran, sementara arah pemanfaatan, pertimbangan etis, serta tanggung jawab atas keputusan tetap berada pada manusia.
Menata Ulang Asesmen di Era AI
Salah satu sorotan Prof. Harjanto adalah perlunya memperbarui sistem penilaian mahasiswa. Kemudahan mengakses AI mendorong perguruan tinggi untuk meninjau kembali apakah tugas dan ujian yang diberikan masih mampu menunjukkan kompetensi mahasiswa secara utuh.

Ia mengajak pendidik merancang asesmen yang memiliki tujuan dan aturan penggunaan AI secara jelas. Pada bagian tertentu, mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai alat bantu. Pada bagian lainnya, mereka perlu menunjukkan kemampuan berpikir, menjelaskan alasan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Dengan demikian, proses penilaian dapat menggali lebih jauh cara mahasiswa memahami persoalan, memeriksa informasi, dan menyusun kesimpulan.
Pandangan tersebut juga menekankan pentingnya panduan kolaborasi manusia dan AI. Prof. Harjanto menjelaskan bahwa AI dapat membantu pekerjaan seperti analisis data dan penyusunan materi pembelajaran. Namun, keputusan mengenai kompetensi mahasiswa tetap menjadi kewenangan dan tanggung jawab dosen.
Kejelasan pembagian peran ini diperlukan agar dosen dan mahasiswa memiliki pemahaman yang sama mengenai penggunaan AI yang dapat dipertanggungjawabkan.
Membuka Ruang bagi Pendidikan yang Lebih Personal
Prof. Harjanto turut menyoroti peluang AI untuk mendukung pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap mahasiswa. Mahasiswa memiliki kecepatan, waktu, dan tantangan belajar yang beragam. Teknologi dapat membantu menyediakan dukungan yang lebih fleksibel, termasuk ketika mereka membutuhkan pendampingan di luar waktu perkuliahan.
Peluang tersebut berjalan beriringan dengan penguatan peran dosen. Ketika sebagian pekerjaan administratif dan persiapan pembelajaran terbantu oleh AI, dosen memiliki kesempatan untuk menyediakan lebih banyak waktu bagi interaksi yang bermakna.
Waktu tersebut dapat digunakan untuk berdiskusi, membimbing mahasiswa, memahami kesulitan mereka, dan memberikan keteladanan. Bagi Prof. Harjanto, pendidikan juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa tetap menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Relevansi Lulusan sebagai Tujuan Akhir
Transformasi AI juga membutuhkan tata kelola yang mampu mengikuti perubahan. Prof. Harjanto menekankan perlunya pendekatan penjaminan mutu dan tata kelola yang adaptif, sejalan dengan perkembangan teknologi, perilaku pengguna, serta kebutuhan masyarakat.
Perguruan tinggi perlu terus mengevaluasi apakah pembelajaran yang dirancang hari ini akan tetap relevan ketika mahasiswa lulus beberapa tahun mendatang. Karena itu, dialog dengan industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan arah transformasi.
Pada akhirnya, keberhasilan pemanfaatan AI tercermin dari kualitas lulusan: kemampuan mereka beradaptasi, menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui forum ini, Prof. Harjanto menegaskan pentingnya kepemimpinan yang mampu menghubungkan kemajuan teknologi dengan tujuan pendidikan. Dengan strategi yang jelas, kesiapan manusia, dan tata kelola yang adaptif, AI dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam membentuk generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan.