Prof. Dezie Pimpin Diskusi Global tentang Masa Depan Pendidikan Bisnis di QS Higher Ed Summit APAC 2026
Pilihan mahasiswa untuk menempuh pendidikan internasional semakin dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan. Reputasi universitas dan peluang karier kini berjalan beriringan dengan persoalan biaya, kebijakan visa, perkembangan geopolitik, serta munculnya pusat pendidikan dan ekonomi baru. Perubahan ini mendorong sekolah bisnis untuk meninjau kembali cara mereka menghadirkan pendidikan yang relevan bagi talenta global.
Dinamika tersebut menjadi pembahasan yang dipandu Prof. Dezie, Executive Dean of BINUS Business School, sebagai moderator dalam sesi “New Geography of Global Value Chains: How Business Schools Must Adapt” pada QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, yang berlangsung pada 3–5 November 2026 di Bali.

Mempertemukan perwakilan institusi dari Australia, Inggris, dan Prancis, sesi ini membuka ruang pertukaran perspektif mengenai perubahan mobilitas mahasiswa internasional dan langkah yang perlu diambil sekolah bisnis untuk meresponsnya.
Dalam pengantarnya, Prof. Dezie menjelaskan bahwa mobilitas mahasiswa selama bertahun-tahun mengikuti pola yang relatif dikenal. Mahasiswa memilih destinasi pendidikan yang telah mapan dengan mempertimbangkan reputasi, pengalaman internasional, dan kesempatan kerja setelah lulus. Kini, pilihan tersebut berkembang seiring perubahan kondisi global dan semakin beragamnya alternatif pendidikan.
Dari situ, ia mengangkat pertanyaan mendasar: apakah sekolah bisnis cukup berfokus pada persaingan menarik mahasiswa internasional, atau perlu memikirkan kembali cara pendidikan bisnis internasional diselenggarakan?
Pertanyaan ini menjadi pijakan untuk membahas bagaimana institusi memahami kebutuhan mahasiswa sekaligus menyesuaikan pendekatan pendidikan mereka.
Mempertemukan Pengalaman dari Berbagai Negara
Sebagai moderator, Prof. Dezie mengarahkan pembahasan pada perubahan mobilitas mahasiswa, dinamika persaingan sekolah bisnis, serta relevansi pendidikan bagi generasi talenta global berikutnya.

Ia membuka diskusi dengan mengundang perwakilan Manchester Metropolitan University untuk membagikan pandangan mengenai posisi Inggris sebagai destinasi pendidikan internasional. Pertanyaannya menyoroti pengaruh perubahan kebijakan imigrasi, tekanan biaya, dan meningkatnya persaingan terhadap pilihan mahasiswa.
Tanggapan awal dari perwakilan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kebijakan dapat memberikan dampak yang berbeda bagi setiap universitas. Pengalaman masing-masing institusi pun menjadi penting untuk memahami perubahan mobilitas mahasiswa secara lebih utuh.
Melalui pertukaran perspektif lintas negara, diskusi menghadirkan ruang bagi peserta untuk melihat bagaimana sekolah bisnis menghadapi tantangan dalam konteks yang beragam.
Membawa Kebutuhan Mahasiswa ke Pusat Diskusi
Pengantar Prof. Dezie menempatkan keputusan mahasiswa sebagai bagian penting dalam pembahasan strategi institusi. Perubahan tujuan, pertimbangan biaya, dan harapan terhadap pengalaman internasional perlu dipahami agar pendidikan yang ditawarkan tetap memiliki nilai bagi mahasiswa.
Bagi sekolah bisnis, hal tersebut membuka pertanyaan tentang bagaimana pengalaman belajar internasional dapat terus dikembangkan untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin terhubung dan dinamis.
Peran Prof. Dezie sebagai moderator dalam forum ini memperlihatkan keterlibatan BINUS Business School dalam memfasilitasi dialog pendidikan global. Dengan mempertemukan pengalaman dari berbagai negara, diskusi tersebut memperkaya pemahaman bersama tentang masa depan pendidikan bisnis dan kebutuhan generasi yang akan menjalaninya.