Persiapkan Mahasiswa Berkarier Global, Rektor dan Alumni BINUS Pertemukan Perspektif Pendidikan dan Industri
Bali, 3 November 2026 — Memasuki dunia kerja global membutuhkan kemampuan untuk terus belajar, bekerja bersama orang dari berbagai latar belakang, serta beradaptasi dengan teknologi yang berkembang cepat. Kebutuhan ini menjadikan hubungan antara perguruan tinggi dan industri semakin penting dalam mempersiapkan mahasiswa sejak masa perkuliahan.

Pesan tersebut menjadi benang merah perspektif Rektor BINUS University, Dr. Nelly, serta alumni BINUS, Juliana Cen, President Director of HP Indonesia dan Harry K. Nugraha, CEO/Country Manager of Intel Corporation, dalam rangkaian QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali. Dari sisi pendidikan maupun industri, kesiapan mahasiswa untuk berkarier global menjadi perhatian bersama.
Bagi Dr. Nelly, mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja dimulai dari kurikulum yang terus berkembang bersama kebutuhan industri dan masyarakat. Keterlibatan mitra industri, jejaring global, pemerintah, serta komunitas membantu BINUS University menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman praktis dan tanggung jawab sosial.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui model pembelajaran (2+1)+1. Mahasiswa menjalani dua tahun di kampus asal, dilanjutkan satu tahun dengan pilihan belajar di kampus BINUS lainnya melalui program multicampus, serta satu tahun yang didedikasikan untuk Enrichment Program.
Dalam Enrichment Program, mahasiswa dapat memilih satu atau dua jalur sesuai minat dan aspirasi karier, mulai dari magang, kewirausahaan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, hingga studi di luar negeri. Pengalaman ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, menghadapi tantangan nyata, dan membangun kepercayaan diri saat memasuki lingkungan baru.
Kesiapan tersebut juga perlu ditopang kebiasaan belajar yang berkelanjutan. Dalam pointers yang disampaikan, Dr. Nelly menekankan bahwa perguruan tinggi perlu berkembang menjadi ekosistem pembelajaran sepanjang hayat. BINUS mendukung arah tersebut melalui GreatNusa, platform pembelajaran digital yang menghubungkan keahlian universitas dengan kebutuhan industri dan komunitas.
Perspektif ini sejalan dengan pengalaman Juliana Cen. Sebagai alumni BINUS yang berkarier di industri teknologi, ia menempatkan kemauan belajar sebagai bagian yang terus menyertai perjalanan profesionalnya.

“Sampai sekarang, saya terus belajar. Saya percaya pendidikan tinggi selalu berjalan berdampingan dengan teknologi dan perlu mengajak komunitasnya untuk membangun hal tersebut bersama,” ujar Juliana.
Pengalaman Juliana memperlihatkan bahwa proses pengembangan diri terus berlangsung sepanjang perjalanan karier. Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan masa depannya, kebiasaan mencari pengetahuan baru dan memahami perkembangan teknologi menjadi bekal untuk menghadapi perubahan peran maupun tantangan profesional.
Dari perspektif industri, Harry K. Nugraha menyampaikan keterbukaan terhadap kerja sama dengan perguruan tinggi. Ia juga melihat perbedaan antargenerasi sebagai bagian menarik dari dinamika dunia kerja.

“Dari sisi industri, kami menyambut baik kolaborasi dengan universitas atau institusi pendidikan tinggi. Generasi X, milenial, dan Gen Z tentu memiliki perbedaan, tetapi justru di situlah hal yang menarik,” ungkap Harry.
Pandangan tersebut membuka ruang untuk melihat kolaborasi sebagai proses saling belajar. Pengalaman generasi yang lebih dahulu memasuki industri dapat bertemu dengan perspektif dan pendekatan baru dari generasi muda. Bagi mahasiswa, kesempatan berinteraksi langsung dengan dunia profesional membantu mereka memahami cara berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan merespons perbedaan.
BINUS University turut memperkuat hubungan tersebut melalui jejaring lebih dari 2.200 mitra industri. Kolaborasi mencakup pengembangan kurikulum, magang, proyek bersama, hingga rekrutmen lulusan. Masukan dari industri dan alumni juga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan relevansi pengalaman belajar mahasiswa.
Pertemuan perspektif Nelly, Juliana, dan Harry menegaskan bahwa kesiapan berkarier global dibangun melalui keterhubungan antara pendidikan dan praktik profesional. Dengan pengalaman nyata, kemauan terus belajar, serta kemampuan berkolaborasi lintas generasi dan budaya, mahasiswa memiliki bekal untuk tumbuh sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.