Calon Mahasiswa Lebih Percaya Cerita Teman? Dr. Judi Arto Bagikan Perspektif BINUS di QS Higher Ed Summit 2026
Ketika mencari informasi tentang universitas, calon mahasiswa kini memiliki caranya sendiri. Selain melihat situs resmi atau materi promosi kampus, mereka juga menghubungi mahasiswa secara langsung melalui media sosial. Cerita tentang keseharian kuliah menjadi bagian penting untuk menilai apakah sebuah kampus sesuai dengan harapan mereka.

Pengalaman inilah yang dibagikan Dr. Judi Arto, Marketing Director of BINA NUSANTARA, dalam sesi “The ROI Challenge: Branding the University for an Investment-Conscious Generation” pada QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali, Rabu (4/11).
Dr. Judi mengawali pandangannya dengan cerita personal ketika putrinya mempersiapkan diri untuk masuk universitas tahun ini. Saat ditanya dari mana ia mendapatkan informasi mengenai kampus, putrinya menjawab bahwa ia mengirimkan pesan langsung atau direct message kepada mahasiswa BINUS.
Ketika Dr. Judi bertanya mengapa tidak menghubungi tim pemasaran, putrinya menjelaskan bahwa mahasiswa dinilai dapat memberikan gambaran kehidupan kampus berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Cerita sederhana tersebut membuka pembahasan tentang bagaimana calon mahasiswa membangun kepercayaan terhadap perguruan tinggi. Informasi resmi tetap memiliki peran, sementara pengalaman yang dibagikan mahasiswa membantu calon mahasiswa membayangkan kehidupan yang akan mereka jalani.
Bagi perguruan tinggi, hal ini menegaskan pentingnya mendengarkan suara mahasiswa. Pengalaman mereka dalam belajar, berinteraksi, dan menjalani aktivitas kampus turut membentuk persepsi calon mahasiswa terhadap sebuah universitas.
Satu Kampus, Beragam Pertimbangan

Dr. Judi juga menjelaskan bahwa calon mahasiswa dan orang tua dapat memiliki pertimbangan berbeda ketika memilih perguruan tinggi. Keduanya mungkin sama-sama memperhatikan reputasi dan pemeringkatan universitas, tetapi kebutuhan informasi mereka menjadi lebih beragam ketika memasuki pembahasan yang lebih mendalam.
Calon mahasiswa ingin memahami apakah sebuah kampus sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka. Di sisi lain, orang tua membawa pertimbangan tersendiri dalam mendampingi keputusan pendidikan anak.
Karena itu, perguruan tinggi perlu memahami keduanya. Dalam konteks Indonesia, Dr. Judi menekankan bahwa orang tua memiliki peran penting karena pembiayaan pendidikan banyak ditanggung oleh keluarga. Komunikasi mengenai pilihan universitas pun perlu melibatkan calon mahasiswa sekaligus orang tua.
Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi tentang kampus hadir melalui berbagai kanal digital.
Menurut Dr. Judi, algoritma media sosial yang mengikuti minat dan interaksi pengguna dapat membuat calon mahasiswa dan orang tua menerima informasi yang berbeda. Akibatnya, meskipun sedang mencari tahu universitas yang sama, keduanya dapat membangun persepsi yang berbeda pula.
Kondisi ini menuntut perguruan tinggi untuk lebih peka terhadap cara setiap kelompok mencari, menerima, dan memaknai informasi.
Memahami Kebutuhan di Balik Pilihan Pendidikan

Dalam sesi yang membahas nilai investasi pendidikan tinggi tersebut, pandangan Dr. Judi menghadirkan perspektif bahwa keputusan memilih universitas juga berkaitan erat dengan kepercayaan, pengalaman, dan kesesuaian kebutuhan.
Bagi BINUS University, diskusi ini menjadi ruang untuk berbagi pemahaman tentang perubahan perilaku calon mahasiswa dan keluarga. Kehadiran Dr. Judi di forum tersebut turut membawa perspektif Indonesia ke dalam percakapan mengenai bagaimana perguruan tinggi merespons harapan generasi yang semakin aktif mencari informasi.

Cerita tentang pesan langsung kepada mahasiswa menjadi pengingat bahwa komunikasi kampus berlangsung melalui banyak suara. Di balik setiap pilihan universitas, ada calon mahasiswa yang ingin mengenal tempatnya bertumbuh dan orang tua yang ingin memahami masa depan pendidikan anaknya. Memahami keduanya menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih dekat antara perguruan tinggi dan keluarga.