Pengantar Virtuarts #12 PACULPORA

Membaca keseluruhan lanskap visual gubahan Paculpora ibarat menelusuri sebuah relief kontemporer yang pekat dan kontemplatif. Melalui puluhan karya yang direkam dalam sekumpulan arsip ini, Nugroho Sigit tidak sekadar memahat bentuk, melainkan “mencangkul” lapisan-lapisan kenyataan sosial yang terasa kian kompleks.
Secara konsisten, ia mengadaptasi bahasa rupa cukil dengan kontras hitam-putih yang tegas—baik dalam guratan manual tinta di atas kertas maupun goresan digitalnya. Pilihan estetik ini menyerupai sebuah sikap visual: di tengah realitas politik dan hukum yang kerap memperlihatkan ragam kompromi, karya-karya ini menghadirkan dunia tanpa gradasi. Garis-garisnya keras dan mencolok, seolah memantulkan ketegangan yang dialami sebagian warga di akar rumput—di negeri yang kerap dibayangkan gemah ripah loh jinawi.
Gubahan karya Paculpora menghadirkan suara-suara yang jarang terdengar, terutama dari lanskap agraris dan ruang kerja kelas pekerja. Lewat karya seperti “Rise for Rice”, “Agraris”, hingga “Robot-Robot Bernyawa”, terbaca ironi tentang negeri agraris yang para penggerak pangannya justru berada dalam posisi yang rentan. Otot-otot yang menegang pada figur petani maupun buruh tidak semata romantisasi ketangguhan, melainkan jejak visual dari relasi yang timpang. Dalam beberapa adegan, rakyat tampak tereduksi menjadi bagian dari mekanisme yang lebih besar—hadir, namun tidak sepenuhnya menentukan arah.
Kritik terhadap relasi kuasa ini semakin subtil ketika perupa meminjam idiom pewayangan dan bestiarium secara satir. Dalam “Disharmoni Demokrasi” dan “Domba Aduan”, figur-figur tampil seperti wayang yang bergerak dalam panggung tak kasatmata—saling berhadapan dalam dinamika yang tak selalu mereka kendalikan. Dalam “Banciakan”, metafora babi hutan yang rakus muncul sebagai alegori tentang hasrat eksploitatif terhadap alam—gunung, hutan, dan laut seakan tersaji sebagai meja perjamuan tanpa akhir.
Figur-figur berwajah ganda yang menuntut kesantunan sembari mempraktikkan kelicikan tidak hadir sebagai tudingan literal, melainkan sebagai refleksi atas paradoks sosial yang kerap kita jumpai. Kesantunan, dalam konteks ini, digambarkan sebagai ruang etika yang ambigu—antara nilai luhur dan instrumen pembatas suara.
Tidak berhenti pada relasi struktural, Paculpora juga menengok lanskap kultural masyarakat kontemporer. Lewat “Industri Sensasi” dan “Sang Pengasuh”, ia memotret kecenderungan manusia yang semakin terjerat dalam pusaran viralitas dan gawai, menukar kedalaman dengan kecepatan, refleksi dengan eksistensi sesaat.
Pada akhirnya, keseluruhan kronik visual ini terasa sebagai ruang tafsir yang terbuka—mengundang kita menimbang ulang berbagai fenomena yang kadang membuat nalar terasa goyah. Di sana, pertanyaan-pertanyaan dibiarkan menggantung. Jangan-jangan kita memang sedang berada dalam situasi yang secara halus “Dilarang Pintar”.
Jakarta, 28 Februari 2026
Ardiyansah