Nama Kawal Pemilu mencuat setelah muncul hanya berselang beberapa hari setelah Pemilu Presiden 2014 diselenggarakan pada 9 Juli lalu. Beralamat di Kawalpemilu.org, situs ini adalah bentuk partisipasi para pendirinya untuk turut serta mengawasi Pilpres 2014 melalui penghitungan suara hasil pindai formulir C1 yang dipublikasikan oleh KPU.

Kawal Pemilu digawangi oleh lima orang. Di samping Ainun Najib yang menjadi penggagas, ada empat orang Indonesia lain yang ikut menyumbang waktu dan tenaga untuk mewujudkan situs itu.

Country Head Google Indonesia Rudy Ramawy mengungkapkan bahwa dua orang di antaranya merupakan pegawai Google yang bekerja di luar negeri. Mereka adalah Felix Halim yang berkarier di kantor pusat Google di Mountain View, AS; dan Andrian Kurniady yang ditempatkan di kantor Google di Sydney.

Rudy menuturkan bahwa Felix dan Andrian bekerja di sela kesibukan masing-masing untuk membuat sistem urun daya alias crowdsourcing yang dipakai oleh 700 relawan Kawal Pemilu dalam melakukan input data formulir C1.

Sama dengan Ainun, Felix dan Andrian terinspirasi ikut “mengawal” pilpres lewat Kawal Pemilu setelah prihatin melihat polemik yang muncul akibat saling klaim kemenangan oleh kedua pasangan capres-cawapres, seusai proses pemungutan suara.

“Dengan membuka informasi untuk diamati publik, kami berharap sistem ini bisa mengurangi ketidakpastian,  ketakutan atas terjadinya kecurangan dalam pemilu, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap salah satu titik terpenting dalam demokrasi Indonesia yang masih muda,” kata Andrian.

Hanya dalam waktu 4 hari setelah penyelenggaraan Pilprers 2014, pada 13 Juli, sistem crowdsourcing Kawal Pemilu dibuka untuk relawan. Proses digitalisasi formulir pemungutan suara dari sekitar 470.000 TPS yang tersebar di seluruh Indonesia pun dimulai.

Enam hari kemudian, para relawan sudah berhasil memasukkan data suara pemilu dari 97 persen data yang dipublikasikan oleh KPU. Kawal Pemilu mencatat hampir tiga juta page view semenjak keberadaan situs ini mulai diangkat oleh media pada 14 Juli.

Hasil penghitungan suara formulir C1 oleh Kawal Pemilu ditampilkan di laman muka situs tersebut. Para pendiri turut menyertakan fasilitas pengaduan kesalahan data sehingga siapa pun bisa turut mengawasi kerja Kawal Pemilu.

“Ini untuk membantu KPU dan masyarakat dalam menemukan dan menandai anomali yang ditemukan di tingkat mana pun, jadi mereka bisa ikut memperbaiki,” ujar Felix.

Kawal Pemilu menuntaskan penghitungan suara Pilpres 2014 dalam waktu hampir bertepatan dengan pengumuman KPU tanggal 22 Juli lalu. Hasil hitungan suara Kawal Pemilu sama dengan rekapitulasi resmi KPU, yakni 53,15 persen suara diperoleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, dan 46,85 persen diperoleh pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Pandawa

Ainun Najib menjelaskan bahwa ide mendirikan Kawal Pemilu bermula dari obrolannya dengan Felix dan Andrian. Dua Googler itu dikenalnya ketika sama-sama menjadi peserta olimpiade programming internasional tingkat perguruan tinggi (ACM ICPC) di Tokyo, Jepang, tahun 2007 lalu.

“Mereka peserta bidang komputer, mewakili Indonesia lewat Binus (Universitas Bina Nusantara). Saya sendiri mewakili Universitas Nanyang, Singapura, bidang matematika,” kata Ainun yang kini berkerja di Singapura, ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (12/8/2014).

Tiga sekawan itu lalu sepakat membangun situs online untuk mengawal proses rekapitulasi suara lewat sistem crowdsourcing.

googleasiapacific.blogspot.com Ilustrasi cara kerja Kawal Pemilu

Dalam perkembangannya, Andrian turut mengajak dua kawan dari Indonesia yang juga sedang merantau di luar negeri, yaitu Ilham Wijaya Kusuma di Kaiserslautern, Jerman; dan Fajran Iman Rusadi di Amsterdam, Belanda.

“Ilham saat ini sedang kuliah PhD, sedangkan Fajran bekerja di perusahaan analisis data,” kata Ainun. Kelima orang ini kemudian bergabung di bawah bendera Kawal Pemilu.

“Mungkin seperti lima Pandawa itu, Felix yang membikin script dan jadi ujung tombak seperti Arjuna, Andrian yang menghalau serangan hacker itu Bima, Ilham dan Fajran banyak menambahkan penyempurnaan seperti Nakula-Sadewa. Saya yang bagian koordinator sana-sini mungkin bisa disebut Yudhistira, ha-ha-ha,” canda Ainun.

Kendati berilmu mumpuni, kelima “Pandawa” ini butuh banyak bantuan untuk melakukan input data dari ratusan ribu TPS di seluruh Indonesia. Karena itulah, Kawal Pemilu menerapkan sistem urun daya, mengajak masyarakat berpartisipasi aktif untuk ikut memasukkan hasil penghitungan di tempat-tempat pemungutan suara yang dipublikasikan di situs KPU.

Para relawan ini direkrut secara berantai, mirip model pemasaran bisnis multi-level marketing, termasuk lewat jejaring sosial Facebook. Namanya relawan, mereka bekerja secara sukarela, mengorbankan waktu dan tenaga masing-masing untuk tujuan yang sama.

Modal yang diperlukan untuk mendirikan Kawal Pemilu pun relatif kecil untuk ukuran skala pekerjaan dan besarnya pengaruh yang dihasilkan. Ainun mengungkapkan bahwa ia hanya mengeluarkan biaya 54 dollar AS atau sekitar Rp 640.000 untuk membeli domain dan hosting untuk server.

Tentu, kerja Ainun dan kawan-kawan beserta para relawan tak lepas dari transparansi data yang diwujudkan KPU dengan memublikasikan pindaian formulir penghitungan suara dari tiap-tiap TPS yang jumlahnya mencapai kisaran 470.000.

Jika KPU turut membuka data saat pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 2015 nanti, Ainun berencana untuk kembali ikut mengawal proses penghitungan suara lewat pendirian upaya Kawal Pilkada di tiap-tiap daerah.

Sumber :