I tend to say a player is not worth that. Two clubs agree on a price and no-one is forcing the other to do anything. That’s football. Unfortunately, it’s incomprehensible with what’s happening today to pay so much.
(Zinedine Zidane)

Awal September 2013, dunia sepak bola kembali mengukir sejarah. Gareth Bale pemain sepakbola asal Wales dari klub Tottenham Hotspurs resmi memecahkan rekor pemain termahal dunia ketika ia dibeli Real Madrid seharga 100 juta Euro atau 85,3 juta poundsterling untuk kontrak selama 6 musim. Ia memecahkan rekor transfer dunia sebelumnya yang dipegang oleh Cristiano Ronaldo sebesar £80 juta pounds di tahun 2009. Kepindahan Bale, membuat Madrid harus menjual Mesut Oezil, salah satu pemain paling berbakat Jerman dalam 2 dekade terakhir. Oezil, dibesut Arsenal – klub asal London Utara di Liga Primer. Kedatangan Oezil yang berbandol 50 juta Euro atau 42,5 juta poundsterling, juga memecahkan rekor transfer pembelian klub asal London Utara tersebut, sekaligus menjadikan Oezil – playmaker keturunan Turki ini sebagai pemain Jerman termahal. Transfer Bale dan Oezil menjadi catatan paling menarik di musim kompetisi sepakbola daratan Eropa edisi tahun 2012/2013.

Selain melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar, sebagai akuntan, tentunya banyak fakta menggelitik terkait dengan transaksi transfer pemain sepakbola. Bagaimana mencatat transaksi ini sesuai dengan kaidah akuntansi menjadi trending topic diskusi di twitter dan social media lainnya, terutama di kalangan penggiat IFRS dan mahasiswa akuntansi. Bagaimana perlakuan akuntansi terkait transaksi tersebut? Bagaimana klub menyajikannya di laporan keuangan? Mari kita bahas.

 

Komponen kos dalam kontrak pemain sepakbola

Mereka yang awam akan dunia sepak bola biasanya bertanya bagaimana mungkin seorang pemain sepakbola seperti Bale bisa dihargai sampai 100 juta Euro? Beberapa faktor yang mempengaruhi transaksi kontrak pemain sepakbola antara lain:

a. Biaya transfer
Komponen paling utama dalam transaksi kontrak pemain sepakbola adalah biaya transfer, biaya transfer ini bisa berkisar dari £0, ratusan ribu pounds sampai puluhan juta punds. Jika biaya transfer disepakati, maka klub akan memegang hak transfer (transfer rights) di mana pemain tidak bisa berpindah klub jika hak transfer dari klub sebelumnya diputus atau habis masa berlakunya.
Biaya transfer pemain dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain terkait dengan proyeksi potensi kinerja pemain di masa mendatang (pemain di usia emas antara 23-27 tahun biasanya lebih mahal), posisi pemain di lapangan (pemain dengan posisi penyerang biasanya lebih mahal), posisi tawar menawar antara klub penjual dan pembeli (klub dengan anggaran pembelian pemain sangat besar, biasanya juga akan dikenakan biaya transfer pemain yang besar pula oleh klub penjual), berapa lama kontrak pemain tersebut dengan klub sebelumnya (semakin panjang kontrak dengan klub sebelumnya maka semakin mahal biaya transfernya) dan faktor-faktor lainnya seperti status kewarganegaraan sang pemain (pemain berkebangsaan Inggris yang dibeli klub Liga Primer, biasanya dijual lebih mahal dibandingkan pemain non-Inggris, karena langkanya talenta pemain) dan sejarah cidera sang pemain.

b. Training compensation
Selain biaya transfer, klub juga harus membayar biaya kompensasi latihan oleh klub sebelumnya. Pelatihan dan pendidikan sepakbola pemain biasanya dilakukan di umur 12-23 tahun., Biaya kompensasi latihan ini harus dibayarkan apabila si pemain menandatangani kontrak profesional pertamanya dan setiap kali si pemain ditransfer/dijual ke klub lain sampai ia berusia 23 tahun. Besaran training compensation ini ditentukan oleh aturan transfer asosiasi sepakbola dunia (FIFA).

c. Solidarity contribution
FIFA juga mewajibkan klub untuk membayar solidarity contribution sebesar 5% dari total biaya transfer (setelah dikurangi training compensation) untuk klub yang melatih pemain tersebut ketika ia berusia antara 12 – 23 tahun. Komponen ini berbeda dengan perhitungan training compensation. Besaran kompensasi bervariasi sesuai dengan usia pemain tersebut.

d. Biaya agen
Mayoritas pemain diwakili oleh agen pemain dalam bernegosiasi dengan klub. Dengan demikian biaya agen ini juga harus ditanggung oleh klub dalam bagian transfer pemain. Jumlah biaya agen dan pihak-pihak yang terkait dengan transfer pemain sepakbola menurut catatan FIFA di tahun 2012 setara dengan 25% dari total transfer pemain sepakbola itu sendiri. Jumlah yang sangat signifikan!

e. Signing bonus
Signing bonus ini biasanya masuk ke rekening pribadi pemain. Bonus ini besarannya bervariasi dan bisa berkisar antara 3 bulan sampai 12 bulan gaji pemain tersebut.

f. Gaji pemain
Gaji pemain bervariasi dan tergantung negosiasi antara pemain dan klub. Pemain top Real Madrid seperti Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo serta Lionel Messi dari Barcelona kabarnya digaji di kisaran 300.000 poundsterling per-pekan, sementara pemain andalan Manchester United, Wayne Rooney berpenghasilan 250.000 poundsterling per minggu dan Mesut Oezil 150.000 poundsterling setiap 7 hari.

g. Image right
Ini terkait dengan perhitungan hasil penjualan karakter si pemain dan/atau promosi di luar lapangan sepakbola. Misalnya terkait dengan penjualan kostum sepakbola bertuliskan nama si pemain, iklan klub yang melibatkan si pemain dan sebagainya. Pembagiannya tergantung dari negosiasi antara si pemain dan klub. Semakin terkenal si pemain, maka semakin besar ia mendapatkan porsi pembagian image right ini. Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo misalnya, bisa mendapatkan 50-60% pembagian image right dari klubnya masing-masing.

 

Pencatatan Akuntansi Kontrak Pemain

Pencatatan transaksi juali beli kontrak pemain (klub menyebutnya juali beli registrasi pemain/player’s registration) di Eropa menggunakan standar akuntansi IAS 38 Intangible Assets. Proses pencatatan transaksi yang dilakukan mayoritas klub sepakbola Eropa adalah sebagai berikut:

Pengakuan Awal (Initial Recognition)
Secara umum, pengakuan dilakukan saat transaksi jual beli pemain resmi disepakati. Transaksi juga diakui menggunakan prinsip akuntansi akrual. Yang perlu dicermati adalah efek dari transaksi transfer pemain dalam laporan keuangan, akibat perbedaan antara perioda laporan dan perioda musim bergulirnya kompetisi sepakbola. Transaksi Gareth Bale dan Mesut Oezil baru akan mempengaruhi laporan keuangan klub Real Madrid di laporan keuangan perioda berikutnya.

Pengukuran Awal (Initial Measurement)
Terkait dengan transaksi jual beli pemain, semua komponen kos yang terkait dengan transfer (poin a-e) akan dikapitalisasi di laporan keuangan dan diamortisasi sepanjang usia kontrak pemain. Sementara komponen seperti gaji pemain dan image right akan dicatat sebagai biaya ketika liabilitas tersebut dibayarkan atau jatuh tempo. Terkait dengan kapitalisasi kontrak pemain, jika kontrak pemain direnegosiasi untuk diperpanjang lagi oleh klubnya, maka kontrak pemain yang belum diamortisasi bersama dengan biaya yang terkait dengan perpanjangan kontrak, akan diamortisasi sepanjang durasi kontrak barunya tersebut.

Alternatif lain dari pengukuran kontrak pemain adalah dengan langsung membebankan kos dari transfer pemain ke akun biaya di laporan laba rugi klub pembeli. Pendekatan ini tentu lebih konservatif dibandingkan pendekatan sebelumnya, dengan tidak diakuinya nilai dari registrasi pemain sepanjang perioda kontrak. Mungkin klub tidak dapat mengukur manfaat ekonomis masa depan dari kontrak pemain sehingga tidak mengakuinya sebagai aset takberwujud.

Lalu bagaimana dengan pencatatan transaksi kontrak pemain di sisi klub yang menjualnya? Klub akan mencatat laba atau rugi di perioda berjalan dari selisih antara penjualan kontrak pemain tersebut dengan nilai buku kontrak pemain yang dimaksud (unamortized player’s registration).

Berdasarkan laporan dari asosiasi sepakbola Eropa dalam “UEFA Club Licensing Benchmarking Report” tahun 2010, didapatkan data bahwa 60% klub yang berada di naungan UEFA menerapkan pendekatan kapitalisasi. Namun jika data tersebut dikerucutkan pada 80 tim elit yang masuk babak kualifikasi utama kompetisi UEFA, maka didapatkan data bahwa 91% klub menggunakan pendekatan kapitalisasi dibandingkan pendekatan pembebanan kos secara langsung ke pos biaya. Bisa disimpulkan bahwa klub-klub besar di daratan Eropa memilih menggunakan pendekatan model kapitalisasi ini.

Penilaian
Konsisten dengan IAS 38 dan IAS 36 Impairment of Assets, klub akan melakukan review secara rutin terhadap penurunan (impairment) nilai kontrak pemain. Hal ini bisa terjadi jika pemain mengalami cidera parah yang dapat mengancam masa depan karier pemain tersebut. Klub Arsenal misalnya, mencatatkan nilai penurunan kontrak pemain sebesar 5,5 juta pounds di tahun keuangan 2012 yang diasosiasikan dengan cidera berkepanjangan salah satu pemain tengah andalannya Abou Diaby.
IAS 38 mengijinkan pengukuran tahun berikutnya (subsequent measurement) dari aset takberwujud menggunakan model biaya dan model revalusian. Berdasarkan pengamatan, mayoritas klub sepakbola Eropa menggunakan model biaya dengan mengamortisasi harga perolehan kontrak sepanjang usia kontrak.

Penyajian dan Pengungkapan
Konsisten dengan model kapitalisasi pengakuan transaksi jual beli pemain, maka kontrak pemain disajikan dengan di laporan posisi keuangan/neraca klub sepakbola dengan akun aset takberwujud dalam pos registrasi kontrak pemain (intangible assets- players’ registration). Berdasarkan catatan UEFA pada tahun 2010 didapatkan data bahwa aset klub berupa registrasi kontrak pemain berkontribusi pada 25% dari total aset klub di Eropa dengan nilai 5,2 trilyun Euro – nilai ini hampir menyamai aset tetap klub-klub tersebut seperti stadion dan fasilitas pelatihan yang total bernilai 5,9 trilyun Euro.

Kontroversi Akuntansi Transaksi Kontrak Pemain Sepakbola
Transaksi kontrak pemain sepakbola menuai kontroversi dari pada pengamat dan periset akuntansi. Mengakui kontrak sebagai aset takberwujud seharusnya hanya dapat dilakukan bila manfaat ekonomis masa depan pemain besar kemungkinan dapat dinikmati oleh klub sepakbola. . Namun sayangnya, beberapa penelitian (antara lain Eli Amir dan Gilad Livne, 2005 di Journal of Business Finance and Accounting) menunjukkan asosiasi yang lemah antara kapitalisasi kontrak pemain dengan nilai manfaat masa depan dari kontrak tersebut. Amir dan Livne menunjukkan bahwa kontrak pemain optimal bisa memberikan kontribusi manfaat masa depan selama 2 tahun saja, selebihnya kontrak pemain tidak memberikan kontribusi yang signifikan.

Isu lainnya terkait dengan pencatatan nilai pemain yang dikembangkan sendiri oleh klub (home grown player) atau pemain yang didatangkan dengan status bebas transfer (free agents), dikarenakan IFRS tidak memperbolehkan pemain dengan kedua status tersebut dinilai di neraca keuangan klub. Hal ini serupa dengan internally generated intangibles lainnya seperti misalnya merek yang dikembangkan sendiri oleh perusahaan.

Contoh dari kasus ini adalah Lionel Messi – pemain terbaik di muka bumi menurut FIFA selama 4 tahun terakhir – tidak dapat dicatat di laporan keuangan FC Barcelona karena statusnya sebagai home grown player. Akibatnya, laporan keuangan klub Spanyol tersebut understated dibandingkan laporan keuangan rival abadinya Real Madrid. Dengan demikian tidak ada aset takberwujud dari kontrak para pemain tersebut dan apabila di masa mendatang pemain tersebut dijual, maka hasil penjualannya akan langsung dicatat sebagai laba di laporan laba rugi klub.

Tulisan ini telah dimuat pada majalah Akuntan Indonesia edisi 1 Oktober 2013 yang bisa didapatkan dalam format digital di wayangforce dan scoop.

 

Gatot Soepriyanto
gsoepriyanto@binus.edu
@gsoepriyanto

Dosen Program Studi Akuntansi BINUS University yang saat ini sedang melanjutkan program Doktoral di Monash University, Australia. Salah satu “The Gunners”, pendukung setia klub Arsenal.